BAB I
PEMAHAMAN
KOMUNIKASI SECARA UMUM
PENDAHULUAN
Pada bagian ini, perkuliahan kita arahkan pada pemahaman
komunikasi secara umum, untuk mengawali perkuliahan komunikasi seni.
Komunikasi, sering dianggap hal yang biasa karena hal itu dilakukan setiap hari,
setiap jam dan setiap detik serta nyaris kita tak lepas dari komunikasi
tersebut, baik dengan diri sendiri, dengan orang lain, kelompok atau dalam
organisasi, atau dengan orang-orang berbeda budaya sekalipun. Oleh karena hal
ini dianggap biasa, maka kita sering lupa apa sebenarnya komunikasi? Apa fungsi
komunikasi? Bagaimana bentuk komunikasi itu? Bagaimana kode dan simbol
komunikasi itu? Bagaimana strateginya? Dan hambatan atau pesan-pesan apa yang
menyesatkan dalam berkomunikasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita kupas dalam bagian
ini. Penting bagi mahasiswa mengetahui lebih dalam terhadap
pertanyaan-pertanyaan tersebut, agar pemahaman kita tentang komunikasi secara
umum dapat kita miliki. Hal ini terkait pada proses belajar selanjutnya tentang
komunikasi seni.
Komunikasi, pada sebagian orang diartikan sebagai proses
penyampaian pesan (massage transmission
process), atau oleh James Lull
(1997) diartikan sebagai proses pertukaran makna atas simbol-simbol, dan Fisher
berpendapat bahwa komunikasi adalah interaksi simbol-simbol bermakna.
Mencermati definisi-definisi komunikasi tersebut, kita dihadapkan pada
bagaimana cara orang mengungkapkan pikiran dan perasaan, cara orang berbicara
dan bertindak. Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada mulanya pengungkapan
pikiran dan perasaan manusia berkisar pada kepentingan individual yang sangat
sederhana. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, dimana pertumbuhan
manusia semakin pesat dan dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan, maka cara-cara
seperti itu yang dihadapi masyarakat manusia semakin kompleks, dan pada akhirnya cara-cara berkomunikasipun
menjadi semakin kompleks pula.
Hal
ini akan dapat kita ketahui dari perkembangan ilmu komunikasi, dimana interaksi
yang terjadi antar manusia tidak hanya sekedar menyampaikan sesuatu agar lawan
bicaranya menjadi tahu tetapi jauh lebih luas dari itu yaitu mampu mempengaruhi
agar lawan bicaranya melakukan sesuatu sebagaimana yang kita harapkan. Pikiran
seseorang yang dipengaruhi oleh perasaan biasanya berwujud: ide, gagasan,
informasi, keterangan, himbauan, permohonan, saran, usul dan bahkan perintah.
Pikiran-pikiran itu tidak sekadar diucapkan antar manusia namun dikreasi
sebagaimana maksud dan tujuan komunikasi itu sendiri. Dengan demikian,
pemahaman komunikasi secara umum ini penting untuk melihat bagaimana komunikasi
yang akan kita bicarakan pada bagian selanjutnya akan berbicara tentang
komunikasi seni, terutama pada komunikasi seni pertunjukan.
Pada
bagian ini, materi-materi yang disampaikan memiliki tujuan instruksional secara
khusus, dimana pada bagian ini diharapkan setelah mengikuti perkuliahan ini
mahasiswa mampu menjelaskan isi materi yang diajarkan. Adapun tujuan-tujuan
instruksional khusus tersebut meliputi:
1)
Mahasiswa
mampu menjelaskan fungsi-fungsi komunikasi secara umum.
2)
Mahasiswa
mampu menjelaskan berbagai bentuk komunikasi.
3)
Mahasiswa
mampu menjelaskan simbol dan kode dalam komunikasi.
4)
Mahasiswa
mampu menjelaskan strategi-strategi komunikasi.
5)
Mahasiswa
mampu menjelaskan hambatan dan pesan sesat dalam berkomunikasi .
2. Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok (group communication) dapat diartikan
sebagai suatu proses komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator
dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua. Komunikasi kelompok
terdiri dari; komunikasi kelompok kecil (small
group communication) dan komunikasi kelompok besar (large group communication).
Secara teoritis dalam ilmu
komunikasi untuk membedakan komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok
besar tidak didasarkan pada jumlah komunikan dalam hubungan secara matematik,
melainkan pada kualitas proses komunikasi. Robert F. Bales dalam “Interaction process Analysis”
mengemukakan bahwa, ”Kelompok kecil adalah sejumlah orang yang terlibat dalam
interaksi satu sama lain dalam suatu pertemuan yang bersikap tatap muka (face
to face meeting), dimana setiap anggota mendapat kesan atau penglihatan antara
satu sama lainnya yang cukup kentara, sehingga dia baik pada saat timbul
pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan kepada masing-masing
sebagai perorangan”.
Komunikasi
kelompok kecil (small/micro comminication) adalah
komunikasi yang ditujukan kepada kognisi komunikan dan prosesnya berlangsung
dialogis. Dalam komunikasi kelompok kecil komunikan menunjukan pesannya kepada
benak atau pikiran komunikan. Dalam situasi seperti itu logika berperan penting
sehingga komunikan akan dapat menilai logis tidaknya uraian komunikator. Contoh
komunikasi kelompok kecil yaitu; kuliah, ceramah, rapat, diskusi, dan
lain-lain.
Hal yang perlu dicatat disini
bahwa pengertian kelompok kecil dan kelompok besar bukan saja menunjukan besar
atau kecilnya orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat tetapi
ditentukan pula oleh faktor psikologis yang mengikat mereka. Untuk melakukan
pendekatan kepada masalah interaksi kelompok, kita perlu membagi perhatian kepada
dua tahap aktivitas yaitu:
1) Tahap gagasan (level of ideas)
Suatu tahapan dimana
anggota-anggota kelompok berusaha untuk mengkomunikasikan satu sama lain dengan
tujuan memecahkan masalah, dimana kelompok telah terbentuk untuk memecahkannya.
Para ahli ada yang menamakan tahap pertama ini
sebagai bidang tugas (task area).
Apabila yang menjadi fokus perhatiannya adalah aktivitas kelompok maka para
anggotanya dikatakan sebagai “content oreinted” atau “problem
oriented”.
2) Tahap emosional sosial (social emotional level)
Suatu tahapan dimana
anggota-anggota kelompok berusaha untuk saling menenggang satu sama lain dengan
tujuan untuk membina pertautan antar pribadi (interpersonal relationship) yang
membuat mereka yang terlibat dalam kelompok merasa senang dan bahagia. Tahapan
ini juga disebut sebagai “bidang emosional sosial” (social emotional area) dan
para anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan ini adalah “process
oriented”.
Faktor-faktor yang harus
diperhatikan oleh seorang komunikator di dalam menghadapi kelompok antara lain
sebagai berikut:
1)
Norma-norma dan nilai
Norma dan nilai tersebut
memiliki fungsi untuk mengikat rasa persatuan dan memperteguh rasa persatuan.
Menurut Prof. Yudistira K. Garna nilai adalah suatu konsep yaitu
pembentukan mentalita yang dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga
menjadi sejumlah anggapan yang hakiki, baik, dan perlu dihargai sebagaimana
mestinya. Norma adalah suatu ukuran atau
pandangan tentang sesuatu ataupun sejumlah tingkah laku yang diterima atau
disepakati secara umum oleh anggota suatu masyarakat. Norma-norma
tersebut menjadi sumber dasar hidup para anggota kelompok.
2)
Pengalaman
hidup seseorang dalam ikatan kelompok.
Pengalaman
yang berlangsung dari hari ke hari selanjutnya mewujudkan suatu predisposisi
yaitu pembawaan seseorang yang mempunyai pola tertentu dari seseorang mengenai
pribadinya, kebiasannya, pendapatnya, sikapnya, tingkah lakunya dan sebagainya.
Oleh karena itu setiap orang telah memiliki “pattern of setting” tertentu.
3)
Lingkungan sosial
Manusia hidup di tengah-tengah
lingkungan sosialnya. Setiap hari senantiasa menjalin interaksi dengan manusia
lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lingkungan sosial yang kita jalani
setiap hari lambat laun membentuk predisposisi kita, titik-demi titik meninggalkan
bekas yang selanjutnya akan mempengaruhi cara hidup manusia yang bersangkutan.
3.
Komunikasi Massa
Hafied Cangara mengemukakan
bahwa komunikasi massa adalah proses komunikasi yang berlangsung dimana
pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya
massal melalui alat-alat yang sifatnya mekanis seperti radio, televisi, surat
kabar dan film. Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan, dan sikap
kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan
media.
Ada dua tugas komunikator dalam komunikasi massa yaitu;
mengetahui apa yang ia ingin komunikasikan dan mengetahui bagaimana ia harus
menyampaikan pesannya dalam rangka melancarkan penetrasi kepada benak
komunikan. Komunikasi massa biasanya menghendaki organisasi resmi dan rumit untuk melakukan
operasinya. Misalnya: produk surat kabar atau siaran televisi memerlukan sumber
pembiayaan yang di dalamnya juga terdapat pengawasan keuangan yang ketat. Di
dalamnya memerlukan orang-orang yang memiliki keahlian, memerlukan manajemen
yang handal, memerlukan pengawasan normatif yang erat hubungannya dengan orang
luar yang mempunyai wewenang dan juga memiliki hubungan yang erat dengan
masyarakat. Orang-orang yang ada dalam organisasi harus mampu bergerak dalam struktur
sehingga menjamin kelanjutan dan kerja
sama diantara semua komponen.
Karakteristik
Komunikasi Massa
Dibandingkan dengan
bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi massa memiliki karakteristik
tersendiri yang bisa dilihat sebagai berikut:
a)
Komunikasi massa bersifat umum
Pesan
komunikasi yang akan disampaikan melalkui media massa adalah terbuka untuk
semua orang, artinya setiap orang memiliki peluang untuk menikmati pesan yang
disampaikan.
b)
komunikan bersifat heterogen
Perpaduan antara jumlah komunikan yang besar dalam
komunikasi massa dengan keterbukaan dalam memperoleh pesan-pesan komunikasi
sangat erat kaitannya dengan sifat komunikan yang heterogen. Keheterogenan dari
massa bisa dilihat dari perbedaan tempat tinggal, kebudayaan yang beragam,
latar belakang dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda, perbedaan standar
hidup, keanekaragaman kepentingan, kekuasaan, derajat kehormatan maupun
pengaruh.
c)
Media massa menimbulkan keserempakan
Keserempakan
adalah kontak dengan sejumlah besar orang/penduduk dalam jarak yang jauh dari
komunikator dan orang-orang tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan
terpisah.
d)
Hubungan komunikator-komunikan bersifat non pribadi.
Hubungan
bersifat non-pribadi maksudnya antara komunikan dan komunikator tidak saling
mengenal secara pribadi melainkan anonim. Orang-orang dikenal hanya karena
peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator. Sifat non-pribadi muncul
karena sifat teknologi media yang menyebarkan pesan secara massal dan
komunikator yang bersifat umum. Komunikasi yang menggunakan media massa
biasanya berlaku dalam satu arah (one way
communication), dan ratio output-input komunikan sangat besar.
Model-Model
Komunikasi Massa
Sejalan dengan perkembangan media massa maka dewasa ini
banyak sekali penelitian-penelitian yang berkisar pada masalah-masalah kemajuan
teknologi. Penelitian para ahli tersebut menghasilkan beberapa teori komunikasi
massa, diantaranya sebagai berikut:
1)
Model jarum
hipodermik
Secara
harfiah “hypodermic” berarti “ di bawah kulit”. Dalam hubungannya dengan
komunikasi massa model jarum hipodermik ini mengandung pengertian bahwa media
massa dapat menimbulkan efek yang sangat kuat, terarah, segera dan langsung.
Teori ini sangat mirip dengan teori “stimulus and response” dimana
manusia dianggap pasif dan akan berreaksi apabila diberi rangasangan-rangsangan
tertentu pasti akan berreaksi tertentu pula.
Menurut model ini media massa seolah-olah dianggap sebuah jarum
raksasa yang menusuk massa komunikan yang pasif. Menurut Elihu Katz model jarum hipodermik terdiri
dari:
a) Media yang sangat ampuh yang
mampu memasukan idea pada benak yang tidak berdaya
b) Massa komunikan yang
terpecah-pecah, yang terhubungkan dengan media massa, tetapi sebaliknya
komunikan tidak terhubungkan satu sama lain.
2) Model komunikasi satu tahap (one step flow model)
Model komunikasi satu tahap
menyatakan bahwa saluran media ini berkomunikasi langsung dengan massa
komunikan tanpa berlalunya suatu pesan melalui orang lain, tetapi pesan
tersebut tidak mencapai semua komunikan dan tidak menimbulkan efek yang sama
pada semua komunikan. Model komunikasi satu tahap ini merupakan model jarum
hipodermik yang dimurnikan, walaupun model ini mengakui bahwa:
a)
Media tidak memiliki kekutan yang hebat
b)
Aspek pilihan dari penampilan , penerimaan dan penahanan
dalam ingatan yang selektif mempengaruhi suatu pesan
c)
Untuk setiap komunikan terjadi efek yang berbeda.
3)
Model komunikasi dua tahap (two step flow model)
Model ini
lahir berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh; Lazarsfeld, Berelson,
dan gaudet pada tahun 1943. hasil penelitian mereka menyatakan bahwa “ ide-ide
seringkali datang dari radio dan surat kabar yang ditangkap oleh pemuka
pendapat (opinion leader) dan dari mereka ini berlalu menuju penduduk yang
kurang giat. Model dua tahap ini melihat massa sebagai perorangan yang saling
berinteraksi.
Penelitian
terhadap model ini menimbulkan dua keuntungan:
a)
Suatu pemusatan kegiatan
terhadap kepemimpinan opini dalam komunikasi massa
b)
Beberapa perbaikan dari komunikasi dua tahap, seperti
komunikasi satu tahap dan komunikasi tahap ganda.
4)
Model komunikasi tahap ganda (multi step flow model)
Model ini
menggabungkan semua model di atas. Model banyak tahap didasarkan pada fungsi
penyebaran yang berurutan yang terjadi pada kebanyakan situasi komunikasi.
Menurut model ini ketika komunikasi berlangsung dari komunikator kepada
komunikan terjadi “reley” yang berganti-ganti. Jumlah tahap yang pasti dalam
proses ini bergantung pada maksud tujuan dari komunikator, tersedianya media
massa dengan kemampuan untuk menyebarkannya, sifat dari pesan, dan nilai
pentingnya pesan bagi komunikan.
Strategi
Komunikasi Massa
Komunikasi
massa bersifat paradigmatik. Paradigma adalah pola yang mencakup sejumlah
komponen yang terkorelasikan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan . Pola beserta
komponen-komponennya dapat terlihat dari rumusan Wilbur Schramm yang disebut ‘paradigmatic
question’ –“who says what to whom “. Setiap paradigma komunikasi
mengandung tujuan yaitu: untuk mengubah sikap, opini/pandangan dan prilaku.
Laurance Brennan mengetengahkan suatu formula yang
dijadikan sebagai landasan bagi strategi komunikasi yaitu:
“the
communication with a purpose and an occasional gives expression to an idea
which he channels to some receiver from whom he gains a response” (Komunikasi
dengan suatu tujuan dan suatu peristiwa memberikan ekpresi pada suatu idea yang
ia salurkan kepada sejumlah komunikan dari siapa ia memperoleh tanggapan). Unsur-unsur
yang terdapat dalam proses komunikasi massa meliputi:
1)
Proses komunikasi massa
Komunikasi
yang ideal adalah bersifat “circular’ berarti idenya merupakan ekspresi dari
panduan dan peristiwa yang kemudian menjadi pesan, setelah sampai kepada
komunikan harus diusahakan agar efek komunikanya dalam bentuk tanggapan yang
mengalir menjadi umpan balik.
2)
Komunikator komunikasi massa.
Komunikator
komunikasi massa adalah melembaga. Akibatnya
komunikator harus menyesuaikan ucapan dan tulisannya kepada sifat dan
kebijaksanaan lembaga dan menyesuaikannya kepada sistem pemerintahan dimana
lembaga tersebut ada.
3)
Pesan komunikasi massa
Pesan
terdiri dari dua aspek yaitu: isi pesan (the content of messege) dan lambang
(symbol) untuk mengekpresikannya. Pada dasarnya komunikasi massa merupakan
gabungan dari skill (keterampilan), art (seni), dan science (ilmu pengetahuan).
4)
Media komunikasi massa
Media
komunikasi massa adalah media yang memiliki ciri khas yaitu: kemampunan memikat
perhatian khalayak secara serentap (simultaneous) dan serentak (instantaneous),
yaiyu; pers, radio, televisi dan film.
5)
Komunikan komunikasi massa
Komunikan
merupakan komponen yang meminta banyak perhatian, karena jumlahnya banyak dan
sifatnya yang heterogen juga anonim tetapi mereka harus dapat dijangkau sambil
menerima setiap pesan secara indrawi dan rohani. Maksudnya secara indrawi pesan
dapat diterima jelas oleh mata dan telinga, sedangkan rohani yaitu pesan sesuai
denga kerangka referensinya, paduan dari usia, agama, pendidikan, kebudayaan,
dan nilai-nilai kehidupan lainnya.
Melvin L. DeFleur mengemukakan empat
teori untuk menganalisis komunikan ini yaitu;
a) Individual
differences theory, menyebutkan bahwa khalayak selektif memperhatikan suatu
pesan komunikasi khususnya jika berkaitan dengan kepentingannya, sesuai dengan
sikapnya, kepercayaannya dan nilai-nilainya. Tanggapannya terhadap pesan komunikasi akan diubah
oleh tatanan psikologisnya.
b) Social categories Theory, asumsi dasarnya bahwa meskipun
masyarakat modern sifatnya heterogen, orang-orang yang memiliki sejumlah sifat
yang sama akan memiliki pola hidup tradisional yang sama, sehingga mereka akan
memilih pesan komunikasi yang kira-kira sama dan akan memberikan tanggapan yang
sama pula.
c) Social Relationships Theory, teori ini berdasarkan two step
flow komunikasi dimana pesan dari media massa ditangkap oleh pemuka pendapat
kemudian disalurkan lagi melalui komunikasi antar pribadi kepada pengikutnya.
d) Cultural Norms Theory, teori ini menekankan bahwa
media massa menciptakan kesan-kesan pada khalayak bahwa norma-norma budaya yang
sama mengenai topik tertentu diseleksi secara selektif dan dibentuk dengan
cara-cara khusus. Media massa secara potensial mempengaruhi norma-norma dan
batas-batas situasi perorangan yaitu; 1) pesan komunikasi massa bisa memperkuat
pola-pola yang sudah ada. 2).media massa bisa menciptakan keyakinan baru. 3).
Media massa bisa merubah keyakinan yang sudah ada.
6)
Efek Komunikasi Massa
Efek
komunikasi massa meliputi: 1).efek kognitif yaitu berhubungan dengan pikiran dan penalaran 2). Efek afektif yaitu
berkaitan dengan perasaan 3). Efek konatif yaitu bersangkutan dengan niat,
tekad, upaya dan usaha yang cenderung menjadi suatu kegiatan atau tindakan. 4)
efek behavioral, apabila efek konatif ini berbentuk prilaku maka ini disebut
efek behavioral. Efek komunikasi bisa merupakan indikator atau tolak ukur dari
keberhasilan suatu proses komunikasi.
SIMBOL
DAN KODE DALAM KOMUNIKASI
Manusia adalah mahluk yang memiliki kelebihan
dibandingkan dengan mahluk lainnya yaitu; kemampuan daya pikirnya (super
rational), kemampuan dan keterampilan berkomunikasi (super
sophisticated system of communication), maupun dalam kemampuan manusia
dalam menciptakan simbol-simbol dan memberi arti pada gejala-gejala alam yang
ada disekitarnya. Menurut Havied
Cangara, simbol dapat diartikan sebagai lambang yang memiliki objek,
sedangkan kode adalah seperangkat simbol yang telah disusun secara sistematis
dan teratur sehingga memiliki arti. David K. Berlo menyatakan bahwa simbol yang
tidak memiliki arti bukanlah suatu kode. Kode pada dasarnya dapat dibedakan
menjadi dua yaitu kode verbal dan kode non-verbal.
1. Kode
Komunikasi Verbal
Kode
verbal yang umum digunakan adalah bahasa. Simbol/pesan verbal merupakan semua
jenis simbol yang menggunakan dua kata atau lebih. Hampir semua rangsangan
wicara yang kita sadari termasuk ke
dalam kategori pesan verbal yang disengaja yaitu usaha-usaha yang
dilakukan secara sadar untuk berhubungan
dengan orang secara lisan.
Fungsi
bahasa yang mendasar bagi kehidupan manusia
Menurut Larry L. Barker bahasa memiliki tiga fungsi yaitu:
1. Untuk penamaan (naming atau labeling). Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek, tindakan atau orang
dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
2.
Fungsi interaksi. Fungsi ini menekankan berbagi gagasan
dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
3.
Fungsi transmisi informasi. Bahasa sebagai transmisi
lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu-masa kini-dan masa depan,
memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.
Book
(dalam Mulyana) mengemukakan bahwa agar komunikasi kita berhasil setidaknya
bahasa harus memiliki tiga fungsi yaitu: 1) untuk mengenal dan mempelajari
dunia sekitar kita.; 2) untuk membina hubungan baik di antara sesama manusia;
dan 3) untuk menciptakan ikatan-ikatan/koherensi dalam kehidupan manusia.
Keterbatasan
bahasa
Bahasa
verbal sebenarnya porsinya hanya 35% dari keseluruhan komunikasi kita. Dan
bahasa memiliki keterbatasan-keterbatasan sebagai berikut:
1. Keterbatasan jumlah kata
yang tersedia untuk mewakili objek
2. Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.
3. Kata-kata mengandung bias budaya.
4. Percampuradukan fakta, penapsiran dan penelitian
2. Kode
Komunikasi Non-Verbal
Lambang
non-verbal yang digunakan dalam berkomunikasi menurut Mark Knapp (1978) memiliki fungsi sebagai berikut:
a)
meyakinkan apa yang diucapkan (repetition)
b)
menunjukan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan
dengan kata-kata (substitution).
c)
menunjukan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya
(identity)
d)
menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan
belum sempurna.
Berdasarkan penelitian Albert Mahrabian (1971) menyatakan bahwa tingkat
kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7 % berasal dari bahasa verbal, 38 %
dari vokal suara dan 55% dari ekspresi muka. Dari berbagai studi yang pernah
dilakukan terdapat beberapa macam lambang/kode non-verbal antara lain:
1)
Kinesiks
Kinesiks
merupakan kode non-verbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan, dimana
gerakan badan ini dibedakan menjadi:
a) Emblems
Isyarat
yang punya arti langsung pada simbol yang dibuat oleh gerakan badan. Misalnya
mengangkat jempol di Indonesia yang berarti yang terbaik, tetapi terjelek bagi
orang India.
b)
Illustrators
Isyarat yang dibuat oleh
gerakan-gerakan badan untuk menjelaskan sesuatu, misalnya tinggi rendahnya
suatu objek yang dibicarakan.
c)
Affect displays
Isyarat yang terjadi karena ada
dorongan emosional sehingga berpengaruh pada ekspresi muka misalnya tertawa,
menangis, sinis dan lain-lain.
d)
Regulators
Gerakan-gerakan
tubuh yang terjadi pada daerah kepala misalnya mengangguk tanda setuju,
menggeleng tanda menolak.
e)
Adaptory
Gerakan badan yang dilakukan
sebagai tanda kejengkelan, misalnya; menggerutu, mengepalkan tinju dan
sebagainya.
2)
Gerakan mata (eye
gaze)
Memberi
iyarat tanpa kata-kata mata merupakan alat komunikasi yang paling berarti.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa gerakan mata adalah pencerminan hati. Mark
Knapp dalam penelitiannya kembali menemukan empat fungsi gerakan mata,
yaitu:
a)
Untuk memperoleh umpan balik dari lawan bicaranya,
misalnya menanyakan pendapat mengenai suatu hal.
b)
Untuk menyatakan terbukanya saluran komunikasi dengan
tibanya waktu untuk berbicara.
c)
Sebagai signal untuk menyalurkan hubungan, dimana kontak
mata akan meningkatkan frekuensi bagi orang yang memerlukan. Sebaliknya
orang yang malu/merasa bersalah akan menghindari kontak mata.
d)
Sebagai pengganti jarak fisik, maksudnya walau ada jarak
dalam suatu ruang maka kontak mata dapat mengatasi jarak pemisah yang ada.
3)
Sentuhan (touching)
Sentuhan
merupakan isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan. Menurut bentuknya
sentuhan badan dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a)
Kinesthetic.
Isyarat yang ditunjukan dengan bergandengan tangan satu sama lain, sebagai
simbol keakraban atau kemesraan.
b)
Sociofugal.
Isyarat yang ditunjukan dengan berjabat tangan atau saling merangkul. Misalnya
di arab dan asia Selatan untuk menunjukan keakraban bersentuhan pundak dengan pundak/berpelukan.
c)
Thermal. Isyarat
yang ditunjukan dengan sentuhan badan yang terlalu emosional sebagai tanda
persahabatan yang begitu intim.
4)
Paralanguage
Isyarat
ini ditunjukan dengan adanya tekanan atau irama suara sehingga penerima dapat
memahami sesuatu di balik apa yang diucapkan. Kesalahpahaman sering terjadi
kalau komunikasi berasal dari etnik yang berbeda.
5)
Diam
Diam
bisa merupakan kode non-verbal yang memiliki arti. Sikap diam merupakan realita
yang sulit untuk diterka karena bisa multi makna (marah, malu, atau cemas dan
lain-lain.) untuk memahami sikap diam maka kita perlu belajar terhadap budaya
atau kebudayaan-kebudayaan seseorang.
6)
Postur tubuh
Orang
dilahirkan dengan berbagai macam bentuk postur tubuh. Well dan Siegel menemukan
dan membagi bentuk tubuh manusia dalam tiga bagian yaitu:
a)
Ectomorphy,
adalah bentuk tubuh yang kurus tinggi yang dilambangkan sebagai orang yang
ambisi, pintar, kritis dan sedikit cemas.
b)
Mesomorphy
memiliki bentuk tubuh yang tegap, tinggi, dan atletis yaitu memiliki pribadi
yang cerdas, bersahabat, aktif dan kompetitif.
c)
Endomorphy
memiliki tubuh pendek, bulat dan gemuk dimana mereka digambarkan berpribadi
humoris, santai dan cerdik.
7) Kedekatan dan ruang (proximity and spatial)
Ini
menunjukan kedekatan diantara dua objek yang mengandung arti. Edward
T. Hall membagi
kedekatan menjadi:
a) Wilayah intim (rahasia) jarak
3-18 inchi
b) WIlayah pribadi 18-4 kaki
c)
Wilayah
sosial 4-12 kaki
d) Wilayah
umum (publik) sampai suara kita terdengar antara 4-12-25 kaki.
8)
Artifact dan Visualisasi
Artefak
adalah hasil kerajunan manusia yang mengandung arti, selain untuk kepentingan
estetika atau untuk menunjukan status atau identitas.
9)
Warna
warna
memberi arti pada suatu objek. Hampir seluruh bangsa memiliki arti tersendiri
pada warna, baik dari arti bendera, upacara ritual dan lain-lain.
10)
Waktu
Waktu
mempunyai arti tersendiri bagi kehidupan manusia. Bagi
masyarakat tertentu melakukan suatu pekerjaan seringkali melihat waktu.
Misalnya membangun rumah, perkawinan, menanam padi dan lain-lain. Begitupun
cara mereka memandang arti dari waktu itu sendiri.
11)
Bunyi
Bunyi-bunyian
yang diartikan sebagai isyarat misalnya; siulan, bertepuk, bunyi terompet,
beduk dll.
12)
Bau
Selain
sebagai status kosmetik juga dapat dijadikan petunjuk arah; misalnya bangkai,
karet terbakar dll.
STRATEGI
KOMUNIKASI
Para ahli
komunikasi terutama di negara-negara berkembang, dewasa ini banyak menumpahkan
perhatiannya pada bagaimana menciptakan suatu strategi komunikasi yang handal.
Hal ini karena diakui bahwa berhasil tidak suatu kegiatan komunikasi secara efektif banyak
dipengaruhi oleh strategi komunikasi. Strategi komunikasi yang dilakukan secara
makro (Planned multi-media Strategy)
dan mikro (Single Communication Medium-Strategy)
memiliki fungsi ganda:
1)
Menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat
informarif, persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk
memperoleh hasil yang optimal.
2)
Menjembatani “cultural
gap” akibat kemudahan diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media
massa yanmg begitu ampuh, apabila dibiarkan tan kendali lambat laun akan
merusak nilai-nilai budaya.
Strategi
komunikasi juga merupakan paduan antara perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen
komunikasi (management communication)
untuk mencapai suatu tujuan. Strategi komunikasi harus dapat menunjukan
bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, artinya pendekatan bisa
berbeda sewaktu-waktu tergantung situasi dan kondisi.
Teori
komunikasi yang dikemukakan oleh Harold D.Lasswell dapat dianggap memadai untuk penerapan
strategi komunikasi. Lasswell
mengemukakan formula untuk menjelaskan suatu proses komunikasi yaitu “ Who
Says what in Which Channel to Whom With What Effect?” Rumus Lasswell ini
terlihat sederhana padahal kalau dikaji secara mendalam pertanyaan “Efek apa
yang diharapkan” secara implisit mengandung pertanyaan-pertanyaan lain yang
perlu dijawab secara seksama yaitu:
a) When (kapan dilaksanakannya)
b) How (bagaimana melakukannya)
c) Why (mengapa dilaksanakan
demikian)
Tambahan pertanyaan tersebut
sangat penting karena pendekatan terhadap efek yang diharapkan dari suatu
kegiatan komunikasi bisa berbeda-beda. Yakni:
a) Menyebarkan informasi
b) Melakukan persuasi
c) Melaksanakan instruksi
Sebelum kita memilih cara mana
yang sesuai dan akan dilakukan maka terlebih dahulu kita harus mengenal
sifat-sifat komunikan dan efek-efek yang dikehendaki oleh mereka. Bagaimana
cara kita berkomunikasi dapat mengambil salah satu dari dua bentuk komunikasi
yaitu komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia.
1. Peranan
komunikator dalam strategi komunikasi
Strategi komunikasi harus luwes
sehingga komunikatot sebagai pelaksana dapat segera mengadakan perubahan
apabila ada suatu faktor yang mempengaruhi untuk keberhasilan suatu komunikasi.
Faktor-faktor yang berpengaruh bisa terjadi pada komponen media maupun
komponen komunikan, sehingga efek yang diharapkan tidak tercapai.
Suatu
prosedur yang banyak digunakan untuk menelaah/membuat suatu strategi komunikasi
adalah A-A procedure atau from Attention to Action Procedure”. A-A
prosedur adalah suatu rumusan yang dikenal dengan sebutan AIDDA yaitu:
A - Attention (perhatian)
I - Interest (minat)
D - Desire (Hasrat)
D – Decision (keputusan)
A – Action (Kegiatan/tindakan)
Proses pentahapan komunikasi
ini mengandung maksud bahwa komunikasi hendaknya dimulai dengan membangkitkan
perhatian. Maka komunikator harus dapat memunculkan daya tariknya
melalui “source attractiveness” yang dimiliki komunikator.
Seorang komunitaor akan memiliki kemampunan untuk melakukan perubahan sikap,
pendapat dan tingkah laku melalui mekanisme daya tarik. Apabila ada perasaan
komunikan bahwa komunikator bersamanya maka akan menimbulkan simpati komunikan
terhadap komunikator.
Ada hal yang harus diperhatikan yaitu upayakan menghindari
kemunculan imbauan (appeal) yang
negatif karena himbauan jenis ini sebenarnya merupakan “anxiety arousing” yang
bisa menimbulkan kegelisahan. bukan “attention arousing”. Menurut William
J. McGuire ““anxiety arousing communication” dapat menimbulkan
efek ganda. Disatu pihak ia membangkitkan rasa takut akan bahaya sehingga
mempertinggi motivasi untuk melakukan tindakan preventif. Di lain pihak rasa
takut tersebut memunculkan pertentangan yang bisa berwujud permusuhan pada
komunikator atau tidak menaruh perhatian sama sekali.
2. Faktor ethos
pada komunikator
Seorang komunikator yang sukses
adalah mereka yang mampu menunjukan source
credibility-nya, artinya menjadi sumber kepercayaan bagi komunikator. Aristoteles
mengemukakan komunikator harus memiliki ethos
yang berpedoman kepada: good sense (itikad baik), good moral character (dapat dipercaya),
dan goodwill (kecakapan /kemampuan). Ethos
memiliki hubungan yang erat dengan sikap moral.
3. Konsep
Johari window bagi komunikator
Konsep Johari window merupakan suatu konsep yang tepat
untuk menelaah apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang komunikator.
Konsep ini dikemukakan oleh Prof. Harry Ingham.
Penjelasan untuk konsep Johari Window dapat dilihat pada gambar di bawah
ini:
|
I
OPEN AREA
Known by ourselves and known by others
|
II
BLIND AREA
Known by others not known by ourselves
|
|
III
HIDDEN AREA
Known by ourelves but not known by others
|
IV
UNKNOWN AREA
Not known by ourselves and not known by others
|
Penjelasan
gambar:
Area
I, adalah
daerah terbuka yang menunjukan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh komunikator
disadari sepenuhnya baik oleh komunikator maupun oleh komunikan. Ini berarti
ada keterbukaan/ tidak ada yang disembunyikan.
Area
II, adalah
daerah buta yang menunjukan bahwa perbuatan komunikator diketahui oleh orang
lain tetapi yang bersangkutan tidak menyadari apa yang dia lakukan.
Area
III,
adalah daerah tersembunyi (kebalikan dari daerah daerah II). Artinya
apa yang dilakukan disadari sepenuhnya oleh komunikator, tetapi orang lain
tidak menyadarinya. Ini artinya komunikator sifatnya tertutup,ia merasa orang
lain tidak perlu mengetahui apa yang dilakukannnya.
Area IV,
adalah bidang tak dikenal yang menggambarkan bahwa tingkah laku komunikator
tidak disadari oleh dirinya sendiri dan juga tidak disadari oleh orang lain.
HAMBATAN DAN EVASI
KOMUNIKASI
Ada beberapa hambatan yang harus menjadi perhatian
komunikator apabila akan melakukan suatu proses komunikasi di antaranya:
1.
Gangguan
Gangguan
terdiri dari gangguan mekanik dan gangguan semantik. Gangguan mekanik merupakan
gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.
Gangguan semantik berkaitan dengan
penggunaan bahasa yang digunakan oleh komunikator. Hal ini berkaitan dengan
kekacauan mengenai pengertian istilah/konsep yang mengakibatkan salah
pengertian.
Dalam penggunaan kata-kata kita mengenal pengertian
denotatif (denotative meaning) yaitu pengertian suatu perkataan yang lajim
terdapat dalam kamus yang secara umum diterima oleh orang-orang dalam budaya
yang sama. Kita juga mengenal pengertian konotatif (conotative meaning) yaitu
pengertian yang bersifat emosional yang didasarkan pada latar belakang dan
pengalaman seseorang.
2.
Kepentingan
Tingkat keselektifan seseorang terhadap sesuatu akan
sangat dipengaruhi oleh interest atau kepentingan. Kepentingan bukan hanya
mempengaruhi kepentingan kita saja tetapi juga menentukan daya tanggap,
perasaan, pikiran dan tingkah laku kita yang merupakan sifat reaktif terhadap
berbagai stimulus yang datang kepada kita baik yang sesuai dengan keinginan
kita maupun yang bertentangan.
3.
Motivasi yang terpendam
Keinginan,
kebutuhan, kekurangan, harapan dan lain-lain
yang dimiliki setiap orang akan berbeda dengan yang lainnya terutama
berkaitan dengan perbedaan waktu dan tempat sehingga motivasi yang dimiliki
setiap orang berbeda dalam tingkat intensitasnya yang berpengaruh terhadap
tanggapan yang diberikan terhadap suatu proses komunikasi.
4.
Prasangka
Prasangka merupakan hambatan yang berat bagi komunikator
ketika melakukan suatu kegiatan komunikasi. Hal ini disebabkan orang-orang yang
berprasangka selalu bersikap curiga dan
memandang komunikator dengan sebelah mata bahkan bisa juga menentangnya.
Ahli komunikasi lain yang mengemukakan hambatan-hambatan
yang mungkin terjadi dalam proses komunikasi adalah Robert King. Adapun
hambatan-hambatan komunikasi dapat terjadi pada:
a) Pengirim
pesan yang melibatkan gangguan persepsi dan semantik
b) Penerima
pesan yang melibatkan persepsi dan semantik
c)
Messege
(pesan) yaitu menyangkut bagaimana pesan tersebut dirumuskan
d)
Lingkungan
fisik yaitu unsur-unsur di luar proses komunikasi yang
bersifat fisik dan dapat ditangkap oleh alat indra.
e)
Lingkungan
sosial yang ditentuklan
oleh bentuk hubungan seseorang dengan orang lain dalam suatu kelompok tertentu
yang menyangkut struktur organisasi, sistem peranan, struktur kelompok dan
karakjteristik populasi.
f)
Lingkungan
budaya yang menyangkut sistem nilai dan norma-norma yang
berlaku dalam suatu kelompok tertentu
sehingga antara komunikator dan komunikannya tidak saling terbuka karena
perbedaan budaya satu sama lain.Misalnya pembicaraan antar suku.
Hambatan komunikasi bagaimanapun bentuknya
pada dasarnya terdiri dari dua sifat yaitu objektif dan subjektif.
Hambatan-hambatan yang menghambat jalannya proses komunikasi yang disebabkan
oleh sesuatu yang tidak disengaja oleh pihak lain seperti: gangguan cuaca, lalu
lintas yang berisik dan lain-lain disebut sebagai hambatan yang bersifat
objektif. Sedangkan hambatan subjektif adalah hambatan yang sengaja dibuat oleh
orang lain sehingga menghambat jalannya proses komunikasi. Hal ini bisa
disebabkan karena; iri hati, bersaing, berprasangka, apatisme dan sebagainya.
Dari sekian hambatan yang ada sebenarnya
yang paling berat adalah faktor
kepentingan dan prasangka hal ini dikarenakan kita akan menghadapi kesulitan
yang sangat memerlukan penyelarasan yang mengena apabila kita berkomunikasi
dengan orang-orang yang tidak menyukai kita atau pesan-pesan yang disampaikan
berlawanan dengan keinginan-keinginan mereka. Lebih jauh komunikan yang
berkonfrontasi akan mencemooh, mendiskreditkan dan acuh. Hal ini sangat
memudahkan terjadinya evasi komunikasi yaitu upaya untuk menyesatkan pesan-pesan
komunikasi.
E. Cooper dan M. Johada mengemukakan beberapa jenis evasi
komunikasi yang terdiri dari :
1) Menyesatkan pengertian (understanding derailed)
Banyak
orang yang memiliki kebiasaan untuk menyesatkan pengertian dari suatu pesan
komunikasi. Biasanya
segala sesuatu diberi interpretasi berdasarkan selera perasaanya.
2)
Mencacatkan pesan komunikasi (messege made invalid)
Sebagai
ilustrasi dari mencacatkan pesan misalnya: si Badu tidak disukai si Ohle, lalu
Ohle mengatakan kepada si Dudu, bahwa Badu ditegur oleh atasan, maka Dudu
mungkin mengatakan pada si Amir bahwa Badu dimarahin atasan., Amir tidak
menyukai Badu dan mungkin akan mengatakan kepada Jaja bahwa Badu diskor,J jaja
yang juga tidak suka pada Badu akan mengatakan bahwa badu dipecat.
3) Mengubah Kerangka referensi (Changing frame of reference)
Mengubah kerangka referensi
biasanya didasarkan pada kerangka referensinya sendiri. Apabila ia meneruskan
pesan komunikasinya itu maka ia akan memberi warna kepada pesan komunikasi
tersebut berdasarkan frame of
referencenya sendiri.
Dari uraian di atas setidaknya telah memberikan gambaran
bagi kita bahwa komunikasi bukan merupakan sesuatu yang gampang untuk
dilakukan. Komunikasi yang terjadi diantara sesama manusia sangat pelik dan
melibatkan berbagai faktor. Banyak orang yang menganggap bahwa komunikasi itu
mudah semudah kita bernapas. Padahal kalau dikaji banyak bencana terjadi karena
kegagalan komunikasi. Menurut prof. Dr. Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu
Komunikasi Suatu Pengantar ada beberapa kekeliruan dalam memahami komunikasi
dintaranya sebagai berikut:
1)
Tidak ada yang sukar tentang komunikasi. Komunikasi
adalah kemampuan alamiah; setiap orang mengetahui apa komunikasi itu dan mampu
melakukannya.
2)
Keterampilan komunikasi adalah bakat, sifat bawaan, bukan
diperoleh karena usaha atau pendidikan
3)
Saya berbicara oleh karena itu berarti saya berkomunikasi
4)
Komunikasi terjadi hanya jika saya menghendakinya
5)
Kita membutuhkan lebih banyak berkomunikasi (anggapan
kuantitas komunikasi berhubungan dengan kualitas hidup)
6)
Makna terdapat pada kata-kata, padahal oranglah yang
memberi makna
7)
Komunikasi adalah suatu panasea universal.
Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang
terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu bisa terjadi, akibat-akibat
apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi
dan mamaksimumkan hasil-hasil dari komunikasi.
BACAAN UNTUK
MEMPERDALAM
Blake, Reed H.
and Edwin O. Haroldsen, 1979, a Taxonomy of Concepts in Communication, New York, Communication Arts
Book.
Devito, Joseph,
1976, The Interpersonal Communication,. New York, Book Harpers Row.
Jaeni, 2007. Komunikasi Seni Pertunjukan: Membaca Teater
Rakyat. Bandung: Etnoteater Publisher.
Kincaid, Lawrence D., 1984, Azas-Azas Komunikasi Antar
Manusia, Jakarta, East-West Communication Institute dan LP3ES.
Littlejohn,
Stephen, 1996, Theories of Human Communcation, Edisi ke 5, California
Wadsward, Belmont.
Mulyana, Deddy, 2007, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,
Bandung: Remaja Rosda Karya.
PERTANYAAN KUNCI
Fungsi Komunikasi
1.
Apa
yang dimaksud dengan fungsi sosial
2.
Apa
yang dimaksud dengan fungsi ekspresif
3.
Apa
yang dimaksud dengan fungsi ritual
4.
Apa
yang dimaksud dengan fungsi instrumental
Bentuk Komunikasi
1. Apa yang dimaksud dengan bentuk
komunikasi personal
2. Apa yang dimaksud dengan bentuk
komunikasi kelompok
3. Apa yang yang dimaksud dengan
bentuk komunikasi massa
4. Apa yang dimaksud dengan model
komunikasi
Simbol dan Kode
Komunikasi
1. Apa yang dimaksud dengan smbol
dalam komunikasi
2. Apa yang dimaksud dengan kode
komunikasi
Strategi
Komunikasi
1. Apa yang dimaksud dengan
strategi komunikasi
2. Apa fungsi dari strattegi
komunikasi
Hambatan dan
Evasi Komunikasi
1. Faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan komunikasi menjadi terhambat
2. Jenis-jenis pesan seperti apa
yang menjadi evasi komunikasi
TUGAS
1. Dalam banyak hal, komunikasi
seseorang akan terkait dengan ruang dan waktu. Namun demikian, seseorang
berkomunikasi tentu akan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Untuk hal itu,
anda boleh contohkan dan uraikan fungsi-fungsi komunikasi berikut ini:
a.
Fungsi
komunikasi sosial
b.
Fungsi
komunikasi ekspresif
c.
Fungsi
komunikasi ritual
d.
Fungsi
komunikasi instrumental
2.
Anda
dapat bercerita tentang bagaimana suasana proses penggarapan seni pertunjukan berlangsung.
Dalam sebuah proses itu terdapat banyak faktor komunikasi, baik yang terkait
dengan bentuk, strategi, simbol dan kode, serta hambatan-hambatan dalam
komunikasi. Uraikanlah Bentuk, strategi, simbol dan kode serta
hambatan-hambatan komunikasi dalam proses penggarapan karya seni yang anda
ceritakan.