Kamis, 04 Juli 2013

Topeng Jawa Barat adalah Teater Rakyat



TOPENG JIGPRAK


Mempertegas Kesenian Topeng Jawa Barat Sebagai Genre Teater Rakyat



Oleh: Jaeni B. Wastap





Adalah masyarakat Kampung Jawa, Desa Situ Hilir, Kec. Cibungbulang, Kab Bogor yang letaknya cukup jauh dari perkotaan menjadi salah satu penopang hidup teater rakyat topeng jigprak. Para pelaku kesenian rakyat ini mayoritas didukung oleh anak-anak muda yang dalam kondisi zaman sekarang amat jarang kita temukan.

Teater rakyat topeng jigprak dipimpin oleh Sujana, seorang seniman alumni Akademi Teater dan Film (ATF) Jakarta, yang sekaligus pendiri kesenian tersebut. Pandangannya mengenai kesenian yang ia bentuk lebih pada pemuliaan kekayaan lokal. Ilmunya dari sebuah lembaga teater dan film diabadikan dalam kreatifitas topeng jigprak dengan mengedepankan keseimbangan kosmos lingkungannya. Bentuk pertunjukan ini lahir sekitar tahun 1980-an, namun syarat dengan idiomatik kelokalan dan hidup sebagai teater rakyat khas masyarakat Kabupaten Bogor.

Tidak berbeda dengan pertunjukan teater rakyat lainnya, struktur pertunjukan topeng jigprak dikemas dalam beberapa bagian, yang meliputi; musik pembuka (tatalu), tarian, dan sajian lakon. Akan tetapi dari struktur tersebut memiliki kekhasan, misalnya dari tarian dan iringan musiknya yang dinamis mirip dengan gaya tari Bali. Demikian juga lakon yang disajikan, lebih pada pembacaan fenomena masyarakat kini, terutama dengan kritik-kritik sosial yang dikemas dalam suasana kademangan tempo dulu. Properti topeng (kedok) yang digunakan dalam pertunjukan adalah topeng pentul dan gayanya disajikan dalam jantukan ala topeng betawi.

Di samping unsur musik, tari, dan lakon terdapat pula unsur debus sebagai daya tarik pertunjukan kesenian topeng jigprak. Debus merupakan bagian yang integral dengan sebuah lakon yang disajikan dan menjadi salah satu makna simbolik pertunjukan tersebut. Dengan demikian tak heran jika topeng jigprak dapat dipentaskan dimana saja, di panggung, perempatan jalan, lapangan, dan di halaman rumah penduduk.

Jigprak merupakan bahasa Sunda yang berarti mangga teuleum, silahkan mainkan atau kerjakan. Apa yang dikerjakan dan dimainkan oleh kesenian topeng jigprak memiliki nilai filosofis sebagai interpreter. Topeng jigprak menafsirkan fenomena masyarakatnya yang dikomunikasikan dalam bentuk lakon pada publiknya. Tidak saja fenomena sosial yang ada di lingkungan masyarakat Bogor namun juga fenomena yang tengah terjadi pada bangsa Indonesia dewasa ini. Misalnya saja lakon Ki Demang Insyaf, merupakan interpretasi seniman topeng jigprak terhadap kecenderungan para pejabat yang tak pernah menyadari bahwa pangkat dan jabatan adalah posisi yang oleh sang waktu sebagai sesuatu yang imanent. Dalam lakon ini instropeksi menjadi penting bagi para pejabat kademangan, jika tak mampu mengemban amanat rakyat akan lebih baik bila jabatan itu diserahkan pada yang lebih mampu. Pengakuan pada kesalahan yang pernah diperbuat lebih baik dilakukan sedini mungkin daripada menunggu ada reaksi dan protes keras masyarakat. Demikian pula pada lakon Pengemis Intelektual, yang sangat signifikan dengan fenomena bangsa ini, yaitu menyoroti masalah korupsi. Pengemis intelektual merupakan simbol para pejabat di kademangan (kabupaten) yang melakukan tindak korupsi dengan mencatut hak orang lain. Rupanya kebiasaan seperti ini masih terdapat pada para pejabat atau pegawai kantor pemerintah di wilayah kabupaten.

Topeng jigprak bila dilihat dari penyajiannya merupakan perpaduan antara genre teater topeng yang memakai kedok dan tidak menggunakan kedok. Sebagai genre teater rakyat, ia merupakan bentuk pertunjukan yang memiliki kekhasan tersendiri dan tidak dimiliki oleh daerah lain yang ada di Jawa Barat.



Kesenian topeng yang memakai kedok sebagai genre teater dapat dipahami oleh karena proses pergantian karakter terjadi saat pemakaian kedok tersebut. Setelah kedok dipakai oleh sosok pelaku seni topeng, maka ia bercerita dalam alur lakon pertunjukan, yang bersamaan dengan itu karakter pun dibangun dalam semangat meme (memetika). Sementara topeng sebagai genre teater yang tidak menggunakan kedok disajikan tanpa prosesi penggunaan kedok.

Topeng jigprak sebagai bentuk teater rakyat Bogor mengingatkan kita pada topeng Cisalak dan genre teater rakyat Jawa Barat lainnya yang ada di wilayah pantura, misalnya topeng banjet di Karawang dan topeng kaleng di Bekasi. Rupanya nama kesenian rakyat dengan mengambil kata “topeng” ini mempertegas keberadaan kesenian topeng sebagai genre teater, termasuk juga pada topeng Cirebon yang saat ini dikenal hanya sebagai genre pertunjukan tari.





Jaeni B. Wastap

Direktur Program Pascasarjana dan

dosen Jurusan Teater STSI Bandung