TOPENG JIGPRAK
Mempertegas Kesenian
Topeng Jawa Barat Sebagai Genre Teater Rakyat
Oleh: Jaeni B. Wastap
Adalah
masyarakat Kampung Jawa, Desa Situ Hilir, Kec. Cibungbulang, Kab Bogor yang
letaknya cukup jauh dari perkotaan menjadi salah satu penopang hidup teater
rakyat topeng jigprak. Para pelaku
kesenian rakyat ini mayoritas didukung oleh anak-anak muda yang dalam kondisi
zaman sekarang amat jarang kita temukan.
Teater rakyat topeng jigprak
dipimpin oleh Sujana, seorang seniman alumni Akademi Teater dan Film (ATF)
Jakarta, yang sekaligus pendiri kesenian tersebut. Pandangannya mengenai
kesenian yang ia bentuk lebih pada pemuliaan kekayaan lokal. Ilmunya dari
sebuah lembaga teater dan film diabadikan dalam kreatifitas topeng jigprak dengan mengedepankan
keseimbangan kosmos lingkungannya. Bentuk pertunjukan ini lahir sekitar tahun
1980-an, namun syarat dengan idiomatik kelokalan dan hidup sebagai teater
rakyat khas masyarakat Kabupaten Bogor.
Tidak berbeda dengan pertunjukan teater rakyat lainnya, struktur
pertunjukan topeng jigprak dikemas dalam beberapa bagian, yang meliputi; musik
pembuka (tatalu), tarian, dan sajian
lakon. Akan tetapi dari struktur tersebut memiliki kekhasan, misalnya dari
tarian dan iringan musiknya yang dinamis mirip dengan gaya tari Bali. Demikian juga lakon yang disajikan, lebih pada
pembacaan fenomena masyarakat kini, terutama dengan kritik-kritik sosial yang
dikemas dalam suasana kademangan
tempo dulu. Properti topeng (kedok) yang digunakan dalam pertunjukan adalah
topeng pentul dan gayanya disajikan dalam jantukan
ala topeng betawi.
Di samping unsur musik, tari, dan lakon terdapat pula unsur debus sebagai daya tarik pertunjukan
kesenian topeng jigprak. Debus merupakan bagian yang integral dengan sebuah
lakon yang disajikan dan menjadi salah satu makna simbolik pertunjukan
tersebut. Dengan demikian tak heran jika topeng jigprak dapat dipentaskan dimana saja, di panggung, perempatan
jalan, lapangan, dan di halaman rumah penduduk.
Jigprak merupakan bahasa Sunda
yang berarti mangga teuleum, silahkan
mainkan atau kerjakan. Apa yang dikerjakan dan dimainkan oleh kesenian topeng jigprak memiliki nilai filosofis sebagai
interpreter. Topeng jigprak
menafsirkan fenomena masyarakatnya yang dikomunikasikan dalam bentuk lakon pada
publiknya. Tidak saja fenomena sosial yang ada di lingkungan masyarakat Bogor
namun juga fenomena yang tengah terjadi pada bangsa Indonesia dewasa ini.
Misalnya saja lakon Ki Demang Insyaf,
merupakan interpretasi seniman topeng jigprak
terhadap kecenderungan para pejabat yang tak pernah menyadari bahwa pangkat dan
jabatan adalah posisi yang oleh sang waktu sebagai sesuatu yang imanent. Dalam lakon ini instropeksi
menjadi penting bagi para pejabat kademangan, jika tak mampu mengemban amanat
rakyat akan lebih baik bila jabatan itu diserahkan pada yang lebih mampu.
Pengakuan pada kesalahan yang pernah diperbuat lebih baik dilakukan sedini
mungkin daripada menunggu ada reaksi dan protes keras masyarakat. Demikian pula
pada lakon Pengemis Intelektual, yang
sangat signifikan dengan fenomena bangsa ini, yaitu menyoroti masalah korupsi.
Pengemis intelektual merupakan simbol para pejabat di kademangan (kabupaten)
yang melakukan tindak korupsi dengan mencatut hak orang lain. Rupanya kebiasaan
seperti ini masih terdapat pada para pejabat atau pegawai kantor pemerintah di
wilayah kabupaten.
Topeng jigprak bila dilihat dari
penyajiannya merupakan perpaduan antara genre teater topeng yang memakai kedok
dan tidak menggunakan kedok. Sebagai genre teater rakyat, ia merupakan bentuk
pertunjukan yang memiliki kekhasan tersendiri dan tidak dimiliki oleh daerah
lain yang ada di Jawa Barat.
Kesenian topeng yang memakai kedok sebagai genre teater dapat
dipahami oleh karena proses pergantian karakter terjadi saat pemakaian kedok
tersebut. Setelah kedok dipakai oleh sosok pelaku seni topeng, maka ia
bercerita dalam alur lakon pertunjukan, yang bersamaan dengan itu karakter pun
dibangun dalam semangat meme
(memetika). Sementara topeng sebagai genre teater yang tidak menggunakan kedok
disajikan tanpa prosesi penggunaan kedok.
Topeng jigprak sebagai bentuk
teater rakyat Bogor mengingatkan kita pada topeng Cisalak dan genre teater
rakyat Jawa Barat lainnya yang ada di wilayah pantura, misalnya topeng banjet di Karawang dan topeng kaleng di Bekasi. Rupanya nama kesenian
rakyat dengan mengambil kata “topeng” ini mempertegas keberadaan kesenian
topeng sebagai genre teater, termasuk juga pada topeng Cirebon yang saat ini dikenal hanya sebagai
genre pertunjukan tari.
Jaeni B. Wastap
Direktur Program Pascasarjana dan
dosen Jurusan Teater STSI Bandung