Minggu, 06 Oktober 2013

KULIAH SEM V. PENGANTAR KOMUNIKASI SENI



BAB I
PEMAHAMAN KOMUNIKASI SECARA UMUM


PENDAHULUAN
          Pada bagian ini, perkuliahan kita arahkan pada pemahaman komunikasi secara umum, untuk mengawali perkuliahan komunikasi seni. Komunikasi, sering dianggap hal yang biasa karena hal itu dilakukan setiap hari, setiap jam dan setiap detik serta nyaris kita tak lepas dari komunikasi tersebut, baik dengan diri sendiri, dengan orang lain, kelompok atau dalam organisasi, atau dengan orang-orang berbeda budaya sekalipun. Oleh karena hal ini dianggap biasa, maka kita sering lupa apa sebenarnya komunikasi? Apa fungsi komunikasi? Bagaimana bentuk komunikasi itu? Bagaimana kode dan simbol komunikasi itu? Bagaimana strateginya? Dan hambatan atau pesan-pesan apa yang menyesatkan dalam berkomunikasi?
          Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita kupas dalam bagian ini. Penting bagi mahasiswa mengetahui lebih dalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, agar pemahaman kita tentang komunikasi secara umum dapat kita miliki. Hal ini terkait pada proses belajar selanjutnya tentang komunikasi seni.
          Komunikasi, pada sebagian orang diartikan sebagai proses penyampaian pesan (massage transmission process),  atau oleh James Lull (1997) diartikan sebagai proses pertukaran makna atas simbol-simbol, dan Fisher berpendapat bahwa komunikasi adalah interaksi simbol-simbol bermakna. Mencermati definisi-definisi komunikasi tersebut, kita dihadapkan pada bagaimana cara orang mengungkapkan pikiran dan perasaan, cara orang berbicara dan bertindak. Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada mulanya pengungkapan pikiran dan perasaan manusia berkisar pada kepentingan individual yang sangat sederhana. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya, dimana pertumbuhan manusia semakin pesat dan dibarengi dengan meningkatnya kebutuhan, maka cara-cara seperti itu yang dihadapi masyarakat manusia semakin kompleks, dan  pada akhirnya cara-cara berkomunikasipun menjadi semakin kompleks pula.
Hal ini akan dapat kita ketahui dari perkembangan ilmu komunikasi, dimana interaksi yang terjadi antar manusia tidak hanya sekedar menyampaikan sesuatu agar lawan bicaranya menjadi tahu tetapi jauh lebih luas dari itu yaitu mampu mempengaruhi agar lawan bicaranya melakukan sesuatu sebagaimana yang kita harapkan. Pikiran seseorang yang dipengaruhi oleh perasaan biasanya berwujud: ide, gagasan, informasi, keterangan, himbauan, permohonan, saran, usul dan bahkan perintah. Pikiran-pikiran itu tidak sekadar diucapkan antar manusia namun dikreasi sebagaimana maksud dan tujuan komunikasi itu sendiri. Dengan demikian, pemahaman komunikasi secara umum ini penting untuk melihat bagaimana komunikasi yang akan kita bicarakan pada bagian selanjutnya akan berbicara tentang komunikasi seni, terutama pada komunikasi seni pertunjukan.
Pada bagian ini, materi-materi yang disampaikan memiliki tujuan instruksional secara khusus, dimana pada bagian ini diharapkan setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu menjelaskan isi materi yang diajarkan. Adapun tujuan-tujuan instruksional khusus tersebut meliputi:
1)   Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi-fungsi komunikasi secara umum.
2)   Mahasiswa mampu menjelaskan berbagai bentuk komunikasi.
3)   Mahasiswa mampu menjelaskan simbol dan kode dalam komunikasi.
4)   Mahasiswa mampu menjelaskan strategi-strategi komunikasi.
5)   Mahasiswa mampu menjelaskan hambatan dan pesan sesat dalam berkomunikasi .


FUNGSI-FUNGSI KOMUNIKASI
          Dalam pertumbuhan ilmu komunikasi, para pakar seringkali dihadapkan dengan pertanyaan “bagaimana kita berkomunikasi?” daripada menjawab “Mengapa kita berkomunikasi?”. Pertanyaan yang sangat memerlukan pengkajian yang mendalam ini memerlukan perumusan yang lebih spesifik agar lebih mudah untuk dipahami dan lebih mudah dicari jawabannya. Misalnya; Apa yang mendorong kita berkomunikasi? Manfaat apa yang kita peroleh dari komunikasi? Sejauhmana komunikasi memberikan andil kepada terhadap kepuasan kita? Kendala-kendala apa saja yang menghalangi kita untuk berkomunikasi? Dan lain-lain.
          Fungsi komunikasi banyak dibahas oleh para ahli komunikasi, salah satunya dikemukakan oleh William I. Gorden yang mengemukakan komunikasi memiliki empat fungsi yaitu:

1.   fungsi komunikasi sosial
Komunikasi sosial mengisyaratkan kepada kita bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk mempertahankan kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, dan memupuk hubungan dengan orang lain. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain tidak akan pernah mengetahui arah tujuan yang akan dia ambil karena dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi dapat membantu manusia membentuk kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai panduan untuk menapsirkan situasi apapun yang ia hadapi.

2.   fungsi komunikasi ekspresif
          Komunikasi ekspresif memiliki kaitan yang erat dengan komunikasi sosial. Fungsi komunikasi ini dapat dilakukan baik sendirian maupun kelompok. Pada mulanya sebenarnya komunikasi ekspresif tidak bertujuan untuk mempengaruhi orang lain melainkan dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaan (emosional) kita, yang seringkali perasaan-perasaan tersebut disampaikan melalui komunikasi/pesan-pesan non-verbal.

3.   fungsi komunikasi ritual
Fungsi komunikasi ini biasanya dilakukan secara kolektif. Setiap masyarakat biasanya memiliki acara-acara ritual yang biasa mereka lakukan setiap tahun dengan gaya dan tradisi yang sama. Ada pula masyarakat yang melakukan upacara-upacara berlainan sepanjang tahun seperti; menyambut kelahiran, upacara pernikahan, pesta ulang tahun, sunatan dan lain-lain. Oleh para antropologi acara-acara seperti itu disebut “rites of passage”.
     Dalam acara-acara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat sebenarnya sangat sarat akan simbolik yang tidak bisa langsung diartikan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tetapi perlu dipahami dulu maksud dari setiap acara. Misalnya salat kaum muslim yang m,engarah ke Ka’bah dapat dimaknai sebagai lambang kesatuan dan persatuan umat Islam yang berTuhan satu yaitu Allah, kitab suci, naik haji, upacara natal, dan lain-lain.

4.   dan fungsi komunikasi instrumental.
Komunikasi Instrumental mempunyai beberapa tujuan umum, sebagai mana yang telah kita kenal meliputi:
a)    Komunikasi yang berfungsi untuk memberitahukan atau menerangkan (to inform) yang mengandung muatan persuasif dalam arti pembicara menginginkan pendengarnya bahwa fakta atau informasi yang disampaikan akurat dan layak untuk diterima.
b)   Komunikasi yang menghibur (to entertain) secara tidak langsung membujuk khalayak untuk melupakan persoalan hidup mereka.
c)    Untuk menambah pengetahuan, dengan tujuan memberi wawasan-wawasan baru/inovasi-inovasi baru yang idealnya ditujukan untuk meningkatkan kehidupan ke arah yang lebih baik.


BENTUK-BENTUK KOMUNIKASI

1. Komunikasi Personal
          komunikasi pribadi atau personal communication adalah komunikasi yang terjadi di sekitar diri seseorang baik dia berperan sebagai komunikator maupun sebagai komunikan. Komunikasi  bentuk ini memiliki dua jenis yaitu: komunikasi intrapribadi dan komunikasi antarpribadi.

a.    Komunikasi Intrapribadi ( Intrapersonal Communication)
          Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang berlangsung di dalam diri seseorang. Dalam proses komunikasi yang berlangsung seseorang berperan sebagai komunikator dan komunikan. Setiap manusia dipastikan akan sering berbicara kepada dirinya sendiri, berdialog dengan dirinya sendiri ataupun bertanya pada diri sendiri yang selanjutnya dijawab oleh diri sendiri.
          Menurut Casmir dalam proses ini terjadi proses neuro-fisiologis yang membentuk landasan bagi tanggapan motivasi dan komunikasi kita dengan orang-orang atau faktor-faktor di lingkungan kita. Pada dasarnya apabila kita memiliki kemampuan untuk berdialog dengan diri sendiri berarti bisa lebih mengenal diri sendiri. Apabila kita telah mengenal diri sendiri maka kita akan mampu untuk menjalankan fungsi-fungsi kita secara bebas di masyarakat. Beberapa tahapan yang terjadi dalam diri seseorang ketika dimulai masuknya stilumus /rangsangan sampai kepada melakukan tindakan adalah sebagai berikut:
1)   Diskriminasi (discrimination) langkah yang memutuskan perangsang yang  akan diambil.
2)   Selanjutnya dikelompokan lalu disandi balik (symbol decoded) diubah menjadi lambang-lambang pikiran dalam diri komuniukator.
3)   Ideasi (Ideation) yaitu tahap pemikiran, perencanaan, dan pengorganisasian pikiran yang mana semua lambang dihubungkan dengan pengetahuan dan pengalaman masa lalu.
4)   Inkubasi (Incubation), dimana ide-ide telah menetes menjadi bentul-bentuk tertentu kemudian lambang-lambang pikiran siap untuk disandi (encoded) menjadi kata atau kial yang bermakna.
5)   Transmisi (transmission) dalam tahap ini lambang-lambang dipancarkan dalam bentuk ucapan, tulisan ,gambar dan lain-lain sehingga dapat dimengerti oleh orang lain.

b.   Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal Communication)
          Joseph A. Devito mengemukakan komunikasi antarpribadi merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik yang terjadi seketika. Menurut  Reardon komunikasi antar pribadi selalu:
1)   Dilaksanakan atas dorongan berbagai faktor
2)   Mengakibatkan dampak yang disengaja dan yang tidak disengaja
3)   Kerapkali berbalas-balasan
4)   Mengisyaratkan hubungan antar pribadi antara paling sidikit dua orang
5)   Berlangsung dalam suasana bebas, bervariasi dan berpengaruh
6)   Menggunakan berbagai lambang yang bermakna.
Joseph D. Vito mengemukakan ciri-ciri komunikasi antrapribadi sebagai berikut:
1)   Keterbukaan atau opennes
2)   Empati (emphaty)
3)   Dukungan (suportiveness)
4)   Perasaan positif (positivness)
5)   Kesamaan (equality)
Komunikasi antarpribadi memiliki tingkat keakraban yang berbeda tergantung pada situasi dimana bentuk komunikasi ini terjadi. Misalnya komunikasi yang dilakukan secara horisontal yaitu komunikasi diantara orang-orang yang memiliki kesamaan baik dalam ruang lingkup pengetahuan (frame of reference) maupun ruang lingkup pengalamannya (field of experience) dapat menimbulkan derajat yang lebih akrab jika dibandingkan dengan yang vertikal.

 

2. Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok (group communication) dapat diartikan sebagai suatu proses komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua. Komunikasi kelompok terdiri dari; komunikasi kelompok kecil (small group communication) dan komunikasi kelompok besar (large group communication).
Secara teoritis dalam ilmu komunikasi untuk membedakan komunikasi kelompok kecil dan komunikasi kelompok besar tidak didasarkan pada jumlah komunikan dalam hubungan secara matematik, melainkan pada kualitas proses komunikasi. Robert F. Bales dalam “Interaction process Analysis” mengemukakan bahwa, ”Kelompok kecil adalah sejumlah orang yang terlibat dalam interaksi satu sama lain dalam suatu pertemuan yang bersikap tatap muka (face to face meeting), dimana setiap anggota mendapat kesan atau penglihatan antara satu sama lainnya yang cukup kentara, sehingga dia baik pada saat timbul pertanyaan maupun sesudahnya dapat memberikan tanggapan kepada masing-masing sebagai perorangan”.
          Komunikasi kelompok kecil    (small/micro comminication) adalah komunikasi yang ditujukan kepada kognisi komunikan dan prosesnya berlangsung dialogis. Dalam komunikasi kelompok kecil komunikan menunjukan pesannya kepada benak atau pikiran komunikan. Dalam situasi seperti itu logika berperan penting sehingga komunikan akan dapat menilai logis tidaknya uraian komunikator. Contoh komunikasi kelompok kecil yaitu; kuliah, ceramah, rapat, diskusi, dan lain-lain.
Hal yang perlu dicatat disini bahwa pengertian kelompok kecil dan kelompok besar bukan saja menunjukan besar atau kecilnya orang yang berkumpul bersama-sama di suatu tempat tetapi ditentukan pula oleh faktor psikologis yang mengikat mereka. Untuk melakukan pendekatan kepada masalah interaksi kelompok, kita perlu membagi perhatian kepada dua tahap aktivitas yaitu:
1)   Tahap gagasan (level of ideas)
Suatu tahapan dimana anggota-anggota kelompok berusaha untuk mengkomunikasikan satu sama lain dengan tujuan memecahkan masalah, dimana kelompok telah terbentuk untuk memecahkannya. Para ahli ada yang menamakan tahap pertama ini sebagai  bidang tugas (task area). Apabila yang menjadi fokus perhatiannya adalah aktivitas kelompok maka para anggotanya dikatakan sebagai “content oreinted” atau “problem oriented”.
2)   Tahap emosional sosial (social emotional level)
Suatu tahapan dimana anggota-anggota kelompok berusaha untuk saling menenggang satu sama lain dengan tujuan untuk membina pertautan antar pribadi (interpersonal relationship) yang membuat mereka yang terlibat dalam kelompok merasa senang dan bahagia. Tahapan ini juga disebut sebagai “bidang emosional sosial” (social emotional area) dan para anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan ini adalah “process oriented”.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh seorang komunikator di dalam menghadapi kelompok antara lain sebagai berikut:
1)   Norma-norma dan nilai
Norma dan nilai tersebut memiliki fungsi untuk mengikat rasa persatuan dan memperteguh rasa persatuan. Menurut Prof. Yudistira K. Garna nilai adalah suatu konsep yaitu pembentukan mentalita yang dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga menjadi sejumlah anggapan yang hakiki, baik, dan perlu dihargai sebagaimana mestinya. Norma  adalah suatu ukuran atau pandangan tentang sesuatu ataupun sejumlah tingkah laku yang diterima atau disepakati secara umum oleh anggota suatu masyarakat. Norma-norma tersebut menjadi sumber dasar hidup para anggota kelompok.
2)   Pengalaman hidup seseorang dalam ikatan kelompok.
Pengalaman yang berlangsung dari hari ke hari selanjutnya mewujudkan suatu predisposisi yaitu pembawaan seseorang yang mempunyai pola tertentu dari seseorang mengenai pribadinya, kebiasannya, pendapatnya, sikapnya, tingkah lakunya dan sebagainya. Oleh karena itu setiap orang telah memiliki “pattern of setting” tertentu.
3)   Lingkungan sosial
Manusia hidup di tengah-tengah lingkungan sosialnya. Setiap hari senantiasa menjalin interaksi dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lingkungan sosial yang kita jalani setiap hari lambat laun membentuk predisposisi kita, titik-demi titik meninggalkan bekas yang selanjutnya akan mempengaruhi cara hidup manusia yang bersangkutan.

3. Komunikasi Massa
Hafied Cangara mengemukakan bahwa komunikasi massa adalah proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang sifatnya mekanis seperti radio, televisi, surat kabar dan film. Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan, dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan media.
Ada dua tugas komunikator dalam komunikasi massa yaitu; mengetahui apa yang ia ingin komunikasikan dan mengetahui bagaimana ia harus menyampaikan pesannya dalam rangka melancarkan penetrasi kepada benak komunikan. Komunikasi massa biasanya menghendaki  organisasi resmi dan rumit untuk melakukan operasinya. Misalnya: produk surat kabar atau siaran televisi memerlukan sumber pembiayaan yang di dalamnya juga terdapat pengawasan keuangan yang ketat. Di dalamnya memerlukan orang-orang yang memiliki keahlian, memerlukan manajemen yang handal, memerlukan pengawasan normatif yang erat hubungannya dengan orang luar yang mempunyai wewenang dan juga memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat. Orang-orang yang ada dalam organisasi harus mampu bergerak dalam struktur sehingga  menjamin kelanjutan dan kerja sama diantara semua komponen.

 Karakteristik Komunikasi Massa
  Dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi lainnya, komunikasi massa memiliki karakteristik tersendiri yang bisa dilihat sebagai berikut:
a)    Komunikasi massa bersifat umum
Pesan komunikasi yang akan disampaikan melalkui media massa adalah terbuka untuk semua orang, artinya setiap orang memiliki peluang untuk menikmati pesan yang disampaikan.
b)   komunikan bersifat heterogen
Perpaduan antara jumlah komunikan yang besar dalam komunikasi massa dengan keterbukaan dalam memperoleh pesan-pesan komunikasi sangat erat kaitannya dengan sifat komunikan yang heterogen. Keheterogenan dari massa bisa dilihat dari perbedaan tempat tinggal, kebudayaan yang beragam, latar belakang dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda, perbedaan standar hidup, keanekaragaman kepentingan, kekuasaan, derajat kehormatan maupun pengaruh.
c)    Media massa menimbulkan keserempakan
Keserempakan adalah kontak dengan sejumlah besar orang/penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator dan orang-orang tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.
d)   Hubungan komunikator-komunikan bersifat non pribadi.
Hubungan bersifat non-pribadi maksudnya antara komunikan dan komunikator tidak saling mengenal secara pribadi melainkan anonim. Orang-orang dikenal hanya karena peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator. Sifat non-pribadi muncul karena sifat teknologi media yang menyebarkan pesan secara massal dan komunikator yang bersifat umum. Komunikasi yang menggunakan media massa biasanya berlaku dalam satu arah (one way communication), dan ratio output-input komunikan sangat besar.

Model-Model Komunikasi Massa
          Sejalan dengan perkembangan media massa maka dewasa ini banyak sekali penelitian-penelitian yang berkisar pada masalah-masalah kemajuan teknologi. Penelitian para ahli tersebut menghasilkan beberapa teori komunikasi massa, diantaranya sebagai berikut:

1)    Model jarum hipodermik
          Secara harfiah “hypodermic” berarti “ di bawah kulit”. Dalam hubungannya dengan komunikasi massa model jarum hipodermik ini mengandung pengertian bahwa media massa dapat menimbulkan efek yang sangat kuat, terarah, segera dan langsung. Teori ini sangat mirip dengan teori “stimulus and response” dimana manusia dianggap pasif dan akan berreaksi apabila diberi rangasangan-rangsangan tertentu pasti akan berreaksi tertentu pula.
          Menurut model ini media massa seolah-olah dianggap sebuah jarum raksasa yang menusuk massa komunikan yang pasif. Menurut Elihu Katz model jarum hipodermik terdiri dari:
a)    Media yang sangat ampuh yang mampu memasukan idea pada benak yang tidak berdaya
b)   Massa komunikan yang terpecah-pecah, yang terhubungkan dengan media massa, tetapi sebaliknya komunikan tidak terhubungkan satu sama lain.

2)   Model komunikasi satu tahap (one step flow model)
          Model komunikasi satu tahap menyatakan bahwa saluran media ini berkomunikasi langsung dengan massa komunikan tanpa berlalunya suatu pesan melalui orang lain, tetapi pesan tersebut tidak mencapai semua komunikan dan tidak menimbulkan efek yang sama pada semua komunikan. Model komunikasi satu tahap ini merupakan model jarum hipodermik yang dimurnikan, walaupun model ini mengakui bahwa:
a)    Media tidak memiliki kekutan yang hebat
b)   Aspek pilihan dari penampilan , penerimaan dan penahanan dalam ingatan yang selektif mempengaruhi suatu pesan
c)    Untuk setiap komunikan terjadi efek yang berbeda.

3)   Model komunikasi dua tahap (two step flow model)
          Model ini lahir berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh; Lazarsfeld, Berelson, dan gaudet pada tahun 1943. hasil penelitian mereka menyatakan bahwa “ ide-ide seringkali datang dari radio dan surat kabar yang ditangkap oleh pemuka pendapat (opinion leader) dan dari mereka ini berlalu menuju penduduk yang kurang giat. Model dua tahap ini melihat massa sebagai perorangan yang saling berinteraksi.
Penelitian terhadap model ini menimbulkan dua keuntungan:
a)    Suatu pemusatan kegiatan  terhadap kepemimpinan opini dalam komunikasi massa
b)   Beberapa perbaikan dari komunikasi dua tahap, seperti komunikasi satu tahap dan komunikasi tahap ganda.

4)   Model komunikasi tahap ganda (multi step flow model)
          Model ini menggabungkan semua model di atas. Model banyak tahap didasarkan pada fungsi penyebaran yang berurutan yang terjadi pada kebanyakan situasi komunikasi. Menurut model ini ketika komunikasi berlangsung dari komunikator kepada komunikan terjadi “reley” yang berganti-ganti. Jumlah tahap yang pasti dalam proses ini bergantung pada maksud tujuan dari komunikator, tersedianya media massa dengan kemampuan untuk menyebarkannya, sifat dari pesan, dan nilai pentingnya pesan bagi komunikan.

Strategi Komunikasi Massa
          Komunikasi massa bersifat paradigmatik. Paradigma adalah pola yang mencakup sejumlah komponen yang terkorelasikan secara fungsional untuk mencapai suatu tujuan . Pola beserta komponen-komponennya dapat terlihat dari rumusan Wilbur Schramm yang disebut ‘paradigmatic question’ –“who says what to whom “. Setiap paradigma komunikasi mengandung tujuan yaitu: untuk mengubah sikap, opini/pandangan dan prilaku.
          Laurance Brennan mengetengahkan suatu formula yang dijadikan sebagai landasan bagi strategi komunikasi yaitu:
the communication with a  purpose  and an occasional gives expression to an idea which he channels to some receiver from whom he gains a response” (Komunikasi dengan suatu tujuan dan suatu peristiwa memberikan ekpresi pada suatu idea yang ia salurkan kepada sejumlah komunikan dari siapa ia memperoleh tanggapan). Unsur-unsur yang terdapat dalam proses komunikasi massa meliputi:

1)   Proses komunikasi massa
          Komunikasi yang ideal adalah bersifat “circular’ berarti idenya merupakan ekspresi dari panduan dan peristiwa yang kemudian menjadi pesan, setelah sampai kepada komunikan harus diusahakan agar efek komunikanya dalam bentuk tanggapan yang mengalir menjadi umpan balik.

2)   Komunikator komunikasi massa.
          Komunikator komunikasi massa adalah melembaga. Akibatnya  komunikator harus menyesuaikan ucapan dan tulisannya kepada sifat dan kebijaksanaan lembaga dan menyesuaikannya kepada sistem pemerintahan dimana lembaga tersebut ada.

3)   Pesan komunikasi massa
          Pesan terdiri dari dua aspek yaitu: isi pesan (the content of messege) dan lambang (symbol) untuk mengekpresikannya. Pada dasarnya komunikasi massa merupakan gabungan dari skill (keterampilan), art (seni), dan science (ilmu pengetahuan).

4)   Media komunikasi massa
          Media komunikasi massa adalah media yang memiliki ciri khas yaitu: kemampunan memikat perhatian khalayak secara serentap (simultaneous) dan serentak (instantaneous), yaiyu; pers, radio, televisi dan film.

5)   Komunikan komunikasi massa
          Komunikan merupakan komponen yang meminta banyak perhatian, karena jumlahnya banyak dan sifatnya yang heterogen juga anonim tetapi mereka harus dapat dijangkau sambil menerima setiap pesan secara indrawi dan rohani. Maksudnya secara indrawi pesan dapat diterima jelas oleh mata dan telinga, sedangkan rohani yaitu pesan sesuai denga kerangka referensinya, paduan dari usia, agama, pendidikan, kebudayaan, dan nilai-nilai kehidupan lainnya.

          Melvin L. DeFleur mengemukakan empat teori untuk menganalisis komunikan ini yaitu;
a)    Individual differences theory, menyebutkan bahwa khalayak selektif memperhatikan suatu pesan komunikasi khususnya jika berkaitan dengan kepentingannya, sesuai dengan sikapnya, kepercayaannya dan nilai-nilainya. Tanggapannya terhadap pesan komunikasi akan diubah oleh tatanan psikologisnya.
b)   Social categories Theory, asumsi dasarnya bahwa meskipun masyarakat modern sifatnya heterogen, orang-orang yang memiliki sejumlah sifat yang sama akan memiliki pola hidup tradisional yang sama, sehingga mereka akan memilih pesan komunikasi yang kira-kira sama dan akan memberikan tanggapan yang sama pula.
c)    Social Relationships Theory, teori ini berdasarkan two step flow komunikasi dimana pesan dari media massa ditangkap oleh pemuka pendapat kemudian disalurkan lagi melalui komunikasi antar pribadi kepada pengikutnya.
d)   Cultural Norms Theory, teori ini menekankan bahwa media massa menciptakan kesan-kesan pada khalayak bahwa norma-norma budaya yang sama mengenai topik tertentu diseleksi secara selektif dan dibentuk dengan cara-cara khusus. Media massa secara potensial mempengaruhi norma-norma dan batas-batas situasi perorangan yaitu; 1) pesan komunikasi massa bisa memperkuat pola-pola yang sudah ada. 2).media massa bisa menciptakan keyakinan baru. 3). Media massa bisa merubah keyakinan yang sudah ada.

6)   Efek Komunikasi Massa
          Efek komunikasi massa meliputi: 1).efek kognitif yaitu berhubungan dengan  pikiran dan penalaran 2). Efek afektif yaitu berkaitan dengan perasaan 3). Efek konatif yaitu bersangkutan dengan niat, tekad, upaya dan usaha yang cenderung menjadi suatu kegiatan atau tindakan. 4) efek behavioral, apabila efek konatif ini berbentuk prilaku maka ini disebut efek behavioral. Efek komunikasi bisa merupakan indikator atau tolak ukur dari keberhasilan suatu proses komunikasi.


SIMBOL DAN KODE DALAM KOMUNIKASI
  Manusia adalah mahluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan mahluk lainnya yaitu; kemampuan daya pikirnya (super rational), kemampuan dan keterampilan berkomunikasi (super sophisticated system of communication), maupun dalam kemampuan manusia dalam menciptakan simbol-simbol dan memberi arti pada gejala-gejala alam yang ada disekitarnya. Menurut Havied Cangara, simbol dapat diartikan sebagai lambang yang memiliki objek, sedangkan kode adalah seperangkat simbol yang telah disusun secara sistematis dan teratur sehingga memiliki arti. David K. Berlo menyatakan bahwa simbol yang tidak memiliki arti bukanlah suatu kode. Kode pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu kode verbal dan kode non-verbal.

1. Kode Komunikasi Verbal
          Kode verbal yang umum digunakan adalah bahasa. Simbol/pesan verbal merupakan semua jenis simbol yang menggunakan dua kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari  termasuk ke dalam kategori pesan verbal yang disengaja yaitu usaha-usaha yang dilakukan  secara sadar untuk berhubungan dengan orang secara lisan.

Fungsi bahasa yang mendasar bagi kehidupan manusia
          Menurut Larry L. Barker bahasa memiliki tiga fungsi yaitu:
1.   Untuk penamaan (naming atau labeling). Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha  mengidentifikasi objek, tindakan atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi.
2.   Fungsi interaksi. Fungsi ini menekankan berbagi gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.
3.   Fungsi transmisi informasi. Bahasa sebagai transmisi lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu-masa kini-dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita.

Book (dalam Mulyana) mengemukakan bahwa agar komunikasi kita berhasil setidaknya bahasa harus memiliki tiga fungsi yaitu: 1) untuk mengenal dan mempelajari dunia sekitar kita.; 2) untuk membina hubungan baik di antara sesama manusia; dan 3) untuk menciptakan ikatan-ikatan/koherensi dalam kehidupan manusia.

Keterbatasan bahasa
Bahasa verbal sebenarnya porsinya hanya 35% dari keseluruhan komunikasi kita. Dan bahasa memiliki keterbatasan-keterbatasan sebagai berikut:
1. Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek
2. Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.
3. Kata-kata mengandung bias budaya.
4. Percampuradukan fakta, penapsiran dan penelitian

2. Kode Komunikasi Non-Verbal
          Lambang non-verbal yang digunakan dalam berkomunikasi menurut Mark Knapp (1978) memiliki fungsi sebagai berikut:
a)    meyakinkan apa yang diucapkan (repetition)
b)   menunjukan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata (substitution).
c)    menunjukan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity)
d)   menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna.
  Berdasarkan penelitian Albert Mahrabian (1971) menyatakan bahwa tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7 % berasal dari bahasa verbal, 38 % dari vokal suara dan 55% dari ekspresi muka. Dari berbagai studi yang pernah dilakukan terdapat beberapa macam lambang/kode non-verbal antara lain:

1)   Kinesiks
Kinesiks merupakan kode non-verbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan, dimana gerakan badan ini dibedakan menjadi:
a)    Emblems
Isyarat yang punya arti langsung pada simbol yang dibuat oleh gerakan badan. Misalnya mengangkat jempol di Indonesia yang berarti yang terbaik, tetapi terjelek bagi orang India.
b)   Illustrators
Isyarat yang dibuat oleh gerakan-gerakan badan untuk menjelaskan sesuatu, misalnya tinggi rendahnya suatu objek yang dibicarakan.
c)    Affect displays
Isyarat yang terjadi karena ada dorongan emosional sehingga berpengaruh pada ekspresi muka misalnya tertawa, menangis, sinis dan lain-lain.
d)   Regulators
Gerakan-gerakan tubuh yang terjadi pada daerah kepala misalnya mengangguk tanda setuju, menggeleng tanda menolak.
e)    Adaptory
Gerakan badan yang dilakukan sebagai tanda kejengkelan, misalnya; menggerutu, mengepalkan tinju dan sebagainya.

2)   Gerakan mata (eye gaze)
Memberi iyarat tanpa kata-kata mata merupakan alat komunikasi yang paling berarti. Bahkan ada yang mengatakan bahwa gerakan mata adalah pencerminan hati. Mark Knapp dalam penelitiannya kembali menemukan empat fungsi gerakan mata, yaitu:
a)    Untuk memperoleh umpan balik dari lawan bicaranya, misalnya menanyakan pendapat mengenai suatu hal.
b)   Untuk menyatakan terbukanya saluran komunikasi dengan tibanya waktu untuk berbicara.
c)    Sebagai signal untuk menyalurkan hubungan, dimana kontak mata akan meningkatkan frekuensi bagi orang yang memerlukan. Sebaliknya orang yang malu/merasa bersalah akan menghindari kontak mata.
d)   Sebagai pengganti jarak fisik, maksudnya walau ada jarak dalam suatu ruang maka kontak mata dapat mengatasi jarak pemisah yang ada.

3)   Sentuhan (touching)
Sentuhan merupakan isyarat yang dilambangkan dengan sentuhan badan. Menurut bentuknya sentuhan badan dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a)    Kinesthetic. Isyarat yang ditunjukan dengan bergandengan tangan satu sama lain, sebagai simbol keakraban atau kemesraan.
b)   Sociofugal. Isyarat yang ditunjukan dengan berjabat tangan atau saling merangkul. Misalnya di arab dan asia Selatan untuk menunjukan keakraban bersentuhan pundak dengan pundak/berpelukan.
c)    Thermal. Isyarat yang ditunjukan dengan sentuhan badan yang terlalu emosional sebagai tanda persahabatan yang begitu intim.

4)   Paralanguage
Isyarat ini ditunjukan dengan adanya tekanan atau irama suara sehingga penerima dapat memahami sesuatu di balik apa yang diucapkan. Kesalahpahaman sering terjadi kalau komunikasi berasal dari etnik yang berbeda.

5)   Diam
Diam bisa merupakan kode non-verbal yang memiliki arti. Sikap diam merupakan realita yang sulit untuk diterka karena bisa multi makna (marah, malu, atau cemas dan lain-lain.) untuk memahami sikap diam maka kita perlu belajar terhadap budaya atau kebudayaan-kebudayaan seseorang.

6)   Postur tubuh
Orang dilahirkan dengan berbagai macam bentuk postur tubuh. Well dan Siegel  menemukan dan membagi bentuk tubuh manusia dalam tiga bagian yaitu:
a)    Ectomorphy, adalah bentuk tubuh yang kurus tinggi yang dilambangkan sebagai orang yang ambisi, pintar, kritis dan sedikit cemas.
b)   Mesomorphy memiliki bentuk tubuh yang tegap, tinggi, dan atletis yaitu memiliki pribadi yang cerdas, bersahabat, aktif dan kompetitif.
c)    Endomorphy memiliki tubuh pendek, bulat dan gemuk dimana mereka digambarkan berpribadi humoris, santai dan cerdik.

7)   Kedekatan dan ruang (proximity and spatial)
Ini menunjukan kedekatan diantara dua objek yang mengandung arti. Edward T. Hall membagi kedekatan menjadi:
a)  Wilayah intim (rahasia) jarak 3-18 inchi
b)  WIlayah pribadi 18-4 kaki
c)   Wilayah sosial 4-12 kaki
d)  Wilayah umum (publik) sampai suara kita terdengar antara 4-12-25 kaki.

8)   Artifact dan Visualisasi
Artefak adalah hasil kerajunan manusia yang mengandung arti, selain untuk kepentingan estetika atau untuk menunjukan status atau identitas.

9)   Warna
warna memberi arti pada suatu objek. Hampir seluruh bangsa memiliki arti tersendiri pada warna, baik dari arti bendera, upacara ritual dan lain-lain.

10)       Waktu
Waktu mempunyai arti tersendiri bagi kehidupan manusia. Bagi masyarakat tertentu melakukan suatu pekerjaan seringkali melihat waktu. Misalnya membangun rumah, perkawinan, menanam padi dan lain-lain. Begitupun cara mereka memandang arti dari waktu itu sendiri.

11)       Bunyi
Bunyi-bunyian yang diartikan sebagai isyarat misalnya; siulan, bertepuk, bunyi terompet, beduk dll.

12)       Bau
Selain sebagai status kosmetik juga dapat dijadikan petunjuk arah; misalnya bangkai, karet terbakar dll.

         
STRATEGI KOMUNIKASI
          Para ahli komunikasi terutama di negara-negara berkembang, dewasa ini banyak menumpahkan perhatiannya pada bagaimana menciptakan suatu strategi komunikasi yang handal. Hal ini karena diakui bahwa berhasil tidak suatu  kegiatan komunikasi secara efektif banyak dipengaruhi oleh strategi komunikasi. Strategi komunikasi yang dilakukan secara makro (Planned multi-media Strategy) dan mikro (Single Communication Medium-Strategy) memiliki fungsi ganda:
1)   Menyebarluaskan pesan komunikasi yang bersifat informarif, persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasil yang optimal.
2)   Menjembatani “cultural gap” akibat kemudahan diperolehnya dan kemudahan dioperasionalkannya media massa yanmg begitu ampuh, apabila dibiarkan tan kendali lambat laun akan merusak nilai-nilai budaya.

Strategi komunikasi juga merupakan paduan antara perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (management communication) untuk mencapai suatu tujuan. Strategi komunikasi harus dapat menunjukan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, artinya pendekatan bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung situasi dan kondisi.
Teori komunikasi yang dikemukakan oleh Harold D.Lasswell  dapat dianggap memadai untuk penerapan strategi komunikasi. Lasswell mengemukakan formula untuk menjelaskan suatu proses komunikasi yaitu “ Who Says what in Which Channel to Whom With What Effect?” Rumus Lasswell ini terlihat sederhana padahal kalau dikaji secara mendalam pertanyaan “Efek apa yang diharapkan” secara implisit mengandung pertanyaan-pertanyaan lain yang perlu dijawab secara seksama yaitu:
a)    When (kapan dilaksanakannya)
b)   How (bagaimana melakukannya)
c)    Why (mengapa dilaksanakan demikian)
Tambahan pertanyaan tersebut sangat penting karena pendekatan terhadap efek yang diharapkan dari suatu kegiatan komunikasi bisa berbeda-beda. Yakni:
a)    Menyebarkan informasi
b)   Melakukan persuasi
c)    Melaksanakan instruksi
Sebelum kita memilih cara mana yang sesuai dan akan dilakukan maka terlebih dahulu kita harus mengenal sifat-sifat komunikan dan efek-efek yang dikehendaki oleh mereka. Bagaimana cara kita berkomunikasi dapat mengambil salah satu dari dua bentuk komunikasi yaitu komunikasi tatap muka dan komunikasi bermedia.

 1. Peranan komunikator dalam strategi komunikasi
          Strategi komunikasi harus luwes sehingga komunikatot sebagai pelaksana dapat segera mengadakan perubahan apabila ada suatu faktor yang mempengaruhi untuk keberhasilan suatu komunikasi. Faktor-faktor yang berpengaruh bisa terjadi pada komponen media maupun komponen komunikan, sehingga efek yang diharapkan tidak tercapai.
          Suatu prosedur yang banyak digunakan untuk menelaah/membuat suatu strategi komunikasi adalah A-A procedure atau from Attention to Action Procedure”. A-A prosedur adalah suatu rumusan yang dikenal dengan sebutan AIDDA yaitu:
A - Attention (perhatian)
I - Interest (minat)
D - Desire (Hasrat)
D – Decision (keputusan)
A – Action (Kegiatan/tindakan)

Proses pentahapan komunikasi ini mengandung maksud bahwa komunikasi hendaknya dimulai dengan membangkitkan perhatian. Maka komunikator harus dapat memunculkan daya tariknya melalui “source attractiveness” yang dimiliki komunikator. Seorang komunitaor akan memiliki kemampunan untuk melakukan perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku melalui mekanisme daya tarik. Apabila ada perasaan komunikan bahwa komunikator bersamanya maka akan menimbulkan simpati komunikan terhadap komunikator.
          Ada hal yang harus diperhatikan yaitu upayakan menghindari kemunculan imbauan (appeal) yang negatif karena himbauan jenis ini sebenarnya merupakan “anxiety arousing” yang bisa menimbulkan kegelisahan. bukan “attention arousing”. Menurut  William  J. McGuire ““anxiety arousing communication” dapat menimbulkan efek ganda. Disatu pihak ia membangkitkan rasa takut akan bahaya sehingga mempertinggi motivasi untuk melakukan tindakan preventif. Di lain pihak rasa takut tersebut memunculkan pertentangan yang bisa berwujud permusuhan pada komunikator atau tidak menaruh perhatian sama sekali.

2. Faktor ethos pada komunikator
          Seorang komunikator yang sukses adalah mereka yang mampu menunjukan source credibility-nya, artinya menjadi sumber kepercayaan bagi komunikator. Aristoteles mengemukakan komunikator harus memiliki ethos yang  berpedoman kepada: good sense (itikad baik), good moral character (dapat dipercaya), dan goodwill (kecakapan /kemampuan). Ethos memiliki hubungan yang erat dengan sikap moral.

3. Konsep Johari window bagi komunikator
          Konsep Johari window merupakan suatu konsep yang tepat untuk menelaah apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh seorang komunikator. Konsep ini dikemukakan oleh Prof. Harry Ingham.  Penjelasan untuk konsep Johari Window dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

I
OPEN AREA
Known by ourselves and known by others
II
BLIND AREA
Known by others not known by ourselves
III
HIDDEN AREA
Known by ourelves but not known by others
IV
UNKNOWN AREA
Not known by ourselves and not known by others

Penjelasan gambar:
Area I, adalah daerah terbuka yang menunjukan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh komunikator disadari sepenuhnya baik oleh komunikator maupun oleh komunikan. Ini berarti ada keterbukaan/ tidak ada yang disembunyikan.

Area II, adalah daerah buta yang menunjukan bahwa perbuatan komunikator diketahui oleh orang lain tetapi yang bersangkutan tidak menyadari apa yang dia lakukan.

Area III, adalah daerah tersembunyi (kebalikan dari daerah daerah II). Artinya apa yang dilakukan disadari sepenuhnya oleh komunikator, tetapi orang lain tidak menyadarinya. Ini artinya komunikator sifatnya tertutup,ia merasa orang lain tidak perlu mengetahui apa yang dilakukannnya.

Area IV, adalah bidang tak dikenal yang menggambarkan bahwa tingkah laku komunikator tidak disadari oleh dirinya sendiri dan juga tidak disadari oleh orang lain.





HAMBATAN DAN EVASI KOMUNIKASI
Ada beberapa hambatan yang harus menjadi perhatian komunikator apabila akan melakukan suatu proses komunikasi di antaranya:
1. Gangguan
Gangguan terdiri dari gangguan mekanik dan gangguan semantik. Gangguan mekanik merupakan gangguan yang disebabkan saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik. Gangguan semantik  berkaitan dengan penggunaan bahasa yang digunakan oleh komunikator. Hal ini berkaitan dengan kekacauan mengenai pengertian istilah/konsep yang mengakibatkan salah pengertian.
Dalam penggunaan kata-kata kita mengenal pengertian denotatif (denotative meaning) yaitu pengertian suatu perkataan yang lajim terdapat dalam kamus yang secara umum diterima oleh orang-orang dalam budaya yang sama. Kita juga mengenal pengertian konotatif (conotative meaning) yaitu pengertian yang bersifat emosional yang didasarkan pada latar belakang dan pengalaman seseorang.

2. Kepentingan
Tingkat keselektifan seseorang terhadap sesuatu akan sangat dipengaruhi oleh interest atau kepentingan. Kepentingan bukan hanya mempengaruhi kepentingan kita saja tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran dan tingkah laku kita yang merupakan sifat reaktif terhadap berbagai stimulus yang datang kepada kita baik yang sesuai dengan keinginan kita maupun yang bertentangan.

3. Motivasi yang terpendam
Keinginan, kebutuhan, kekurangan, harapan dan lain-lain  yang dimiliki setiap orang akan berbeda dengan yang lainnya terutama berkaitan dengan perbedaan waktu dan tempat sehingga motivasi yang dimiliki setiap orang berbeda dalam tingkat intensitasnya yang berpengaruh terhadap tanggapan yang diberikan terhadap suatu proses komunikasi.    

4. Prasangka
Prasangka merupakan hambatan yang berat bagi komunikator ketika melakukan suatu kegiatan komunikasi. Hal ini disebabkan orang-orang yang berprasangka  selalu bersikap curiga dan memandang komunikator dengan sebelah mata bahkan bisa juga menentangnya.
Ahli komunikasi lain yang mengemukakan hambatan-hambatan yang mungkin terjadi dalam proses komunikasi adalah Robert King. Adapun hambatan-hambatan komunikasi dapat terjadi pada:
a)    Pengirim pesan  yang melibatkan gangguan persepsi dan semantik
b)   Penerima pesan  yang melibatkan persepsi dan semantik
c)    Messege (pesan) yaitu menyangkut bagaimana pesan tersebut dirumuskan
d)   Lingkungan fisik yaitu unsur-unsur di luar proses komunikasi yang bersifat fisik dan dapat ditangkap oleh alat indra.
e)    Lingkungan sosial  yang ditentuklan oleh bentuk hubungan seseorang dengan orang lain dalam suatu kelompok tertentu yang menyangkut struktur organisasi, sistem peranan, struktur kelompok dan karakjteristik populasi.
f)     Lingkungan budaya yang menyangkut sistem nilai dan norma-norma yang berlaku dalam suatu kelompok  tertentu sehingga antara komunikator dan komunikannya tidak saling terbuka karena perbedaan budaya satu sama lain.Misalnya pembicaraan antar suku.

    Hambatan komunikasi bagaimanapun bentuknya pada dasarnya terdiri dari dua sifat yaitu objektif dan subjektif. Hambatan-hambatan yang menghambat jalannya proses komunikasi yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak disengaja oleh pihak lain seperti: gangguan cuaca, lalu lintas yang berisik dan lain-lain disebut sebagai hambatan yang bersifat objektif. Sedangkan hambatan subjektif adalah hambatan yang sengaja dibuat oleh orang lain sehingga menghambat jalannya proses komunikasi. Hal ini bisa disebabkan karena; iri hati, bersaing, berprasangka, apatisme dan sebagainya.
    Dari sekian hambatan yang ada sebenarnya yang paling berat adalah  faktor kepentingan dan prasangka hal ini dikarenakan kita akan menghadapi kesulitan yang sangat memerlukan penyelarasan yang mengena apabila kita berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak menyukai kita atau pesan-pesan yang disampaikan berlawanan dengan keinginan-keinginan mereka. Lebih jauh komunikan yang berkonfrontasi akan mencemooh, mendiskreditkan dan acuh. Hal ini sangat memudahkan terjadinya evasi komunikasi yaitu upaya untuk menyesatkan pesan-pesan komunikasi.
E. Cooper dan M. Johada mengemukakan beberapa jenis evasi komunikasi yang terdiri dari :
1)   Menyesatkan pengertian (understanding derailed)
Banyak orang yang memiliki kebiasaan untuk menyesatkan pengertian dari suatu pesan komunikasi. Biasanya segala sesuatu diberi interpretasi berdasarkan selera perasaanya.
2)   Mencacatkan pesan komunikasi (messege made invalid)
Sebagai ilustrasi dari mencacatkan pesan misalnya: si Badu tidak disukai si Ohle, lalu Ohle mengatakan kepada si Dudu, bahwa Badu ditegur oleh atasan, maka Dudu mungkin mengatakan pada si Amir bahwa Badu dimarahin atasan., Amir tidak menyukai Badu dan mungkin akan mengatakan kepada Jaja bahwa Badu diskor,J jaja yang juga tidak suka pada Badu akan mengatakan bahwa badu dipecat.
3)   Mengubah Kerangka referensi (Changing frame of reference)
Mengubah kerangka referensi biasanya didasarkan pada kerangka referensinya sendiri. Apabila ia meneruskan pesan komunikasinya itu maka ia akan memberi warna kepada pesan komunikasi tersebut berdasarkan  frame of referencenya sendiri.

    Dari uraian di atas setidaknya telah memberikan gambaran bagi kita bahwa komunikasi bukan merupakan sesuatu yang gampang untuk dilakukan. Komunikasi yang terjadi diantara sesama manusia sangat pelik dan melibatkan berbagai faktor. Banyak orang yang menganggap bahwa komunikasi itu mudah semudah kita bernapas. Padahal kalau dikaji banyak bencana terjadi karena kegagalan komunikasi. Menurut prof. Dr. Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar ada beberapa kekeliruan dalam memahami komunikasi dintaranya  sebagai berikut:
1)   Tidak ada yang sukar tentang komunikasi. Komunikasi adalah kemampuan alamiah; setiap orang mengetahui apa komunikasi itu dan mampu melakukannya.
2)   Keterampilan komunikasi adalah bakat, sifat bawaan, bukan diperoleh karena usaha atau pendidikan
3)   Saya berbicara oleh karena itu berarti saya berkomunikasi
4)   Komunikasi terjadi hanya jika saya menghendakinya
5)   Kita membutuhkan lebih banyak berkomunikasi (anggapan kuantitas komunikasi berhubungan dengan kualitas hidup)
6)   Makna terdapat pada kata-kata, padahal oranglah yang memberi makna
7)   Komunikasi adalah suatu panasea universal.
Memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu bisa terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk mempengaruhi dan mamaksimumkan hasil-hasil dari komunikasi.



BACAAN UNTUK MEMPERDALAM
Blake, Reed H. and Edwin O. Haroldsen, 1979, a Taxonomy of Concepts in Communication, New York, Communication Arts Book.
Devito, Joseph, 1976, The Interpersonal Communication,. New York, Book Harpers Row.
Jaeni, 2007. Komunikasi Seni Pertunjukan: Membaca Teater Rakyat. Bandung: Etnoteater Publisher.
Kincaid, Lawrence D., 1984, Azas-Azas Komunikasi Antar Manusia, Jakarta, East-West Communication Institute dan LP3ES.
Littlejohn, Stephen, 1996, Theories of Human Communcation, Edisi ke 5, California Wadsward, Belmont.
Mulyana, Deddy, 2007, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosda Karya.





































PERTANYAAN KUNCI
Fungsi Komunikasi
1.   Apa yang dimaksud dengan fungsi sosial
2.   Apa yang dimaksud dengan fungsi ekspresif
3.   Apa yang dimaksud dengan fungsi ritual
4.   Apa yang dimaksud dengan fungsi instrumental
Bentuk Komunikasi
1.   Apa yang dimaksud dengan bentuk komunikasi personal
2.   Apa yang dimaksud dengan bentuk komunikasi kelompok
3.   Apa yang yang dimaksud dengan bentuk komunikasi massa
4.   Apa yang dimaksud dengan model komunikasi
Simbol dan Kode Komunikasi
1.   Apa yang dimaksud dengan smbol dalam komunikasi
2.   Apa yang dimaksud dengan kode komunikasi
Strategi Komunikasi
1.   Apa yang dimaksud dengan strategi komunikasi
2.   Apa fungsi dari strattegi komunikasi
Hambatan dan Evasi Komunikasi
1.   Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan komunikasi menjadi terhambat
2.   Jenis-jenis pesan seperti apa yang menjadi evasi komunikasi


TUGAS
1.   Dalam banyak hal, komunikasi seseorang akan terkait dengan ruang dan waktu. Namun demikian, seseorang berkomunikasi tentu akan memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Untuk hal itu, anda boleh contohkan dan uraikan fungsi-fungsi komunikasi berikut ini:
a.    Fungsi komunikasi sosial
b.   Fungsi komunikasi ekspresif
c.    Fungsi komunikasi ritual
d.   Fungsi komunikasi instrumental
2.   Anda dapat bercerita tentang bagaimana suasana proses  penggarapan seni pertunjukan berlangsung. Dalam sebuah proses itu terdapat banyak faktor komunikasi, baik yang terkait dengan bentuk, strategi, simbol dan kode, serta hambatan-hambatan dalam komunikasi. Uraikanlah Bentuk, strategi, simbol dan kode serta hambatan-hambatan komunikasi dalam proses penggarapan karya seni yang anda ceritakan.