Memahami “The Making of Theatre”:
KASUS TRANSFORMASI IDENTITAS BENTUK
TEATER PAYUNG HITAM
Oleh : Jaeni B. Wastap
Perjalanan sebuah kelompok teater akan selalu
mengalami proses dialektika sebagai wujud transformasi identitas hingga ia
memiliki karakteristik dan mainstream
sendiri sebagai identitasnya. Hal ini dialami oleh Kelompok Teater Payung Hitam
Bandung, yang dikomandani oleh Rachman Sabur selama 20 tahunan lebih.
Pergulatan pertunjukan teaternya tidak saja menjadi apresiasi lokal, namun
nasional dan bahkan menjelajah ke wilayah internasional. Ini menjadi bukti
bahwa adanya proses yang panjang bagi sebuah kelompok teater atau kesenimanan
teater untuk menjadi mapan dengan tidak
hanya memiliki kemampuan teknik belaka.
Transformasi
Identitas
Sebuah dialektika kesenimanan dan
intelektualitas dengan perjalanan masa yang menjadi suatu proses merupakan
bentuk transformasi. Saya terkesan dengan istilah “transformasi” menurut Strauss
(1959) yang mengisyaratkan penilaian baru tentang diri pribadi dan orang lain,
tentang peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan dan objek-objek. Strauss
menggaris-bawahi bahwa bentuk transformasi ini menjadi turning point atas apa yang telah menjadi proses berteater selama
ini dari kelompok Teater Payung Hitam. Turning
point dalam arti yang sesungguhnya sangat irreversible, tak dapat kembali, ia berjalan sesuai yang dialami
menuju kenyataan kini. Hal ini telah diejawantahkan oleh kelompok Teater Payung
Hitam sebagai sebuah bentuk transformasi identitas kekaryaan seorang seniman
teater. Fase-fase kekaryaan dalam proses transformasi identitas sebagai suatu
dialektika antara realitas dan idealitas dapat diklasifikasi secara periodikmelalui
perwujudan karya-karya pertunjukan
kelompok Teater Payung Hitam (Menunggu
Godot karya Samuel Backett dipentaskan tahun 1991; Kaspar karya Peter Handke dipentaskan tahun 1994 dan 2004; dan Merah Bolong Putih Doblong Hitam karya
Racman Sabur dipentaskan tahun 1996 dan 2008).
Dari fase perwujudan karya-karya
pertunjukan teater tersebut, sesungguhnya kelompok Teater Payung hitam telah
melakukan transformasi bentuk termasuk identitas mereka. Bahwa perubahan itu
terjadi pada “tubuh” kelompok Teater Payung Hitam, sekaligus pada “nama” sosok
atau kelompok tersebut. “Tubuh” teater adalah unsur yang paling gamblang yang
membentuk identitas seseorang ataupun kelompoknya yang mengusung karakteristik
dan mainstream yang khas. Tubuh teater diartikan sebagai unsur fisikal-material
yang mengusung perwujudan bentuk pertunjukan teater secara artistik. Tubuh
teater itu dapat menampakkan wujudnya jika ia mengalami proses ketubuhan. Pendapat tersebut tentu saja sangat didukung oleh
kaum fenomenolog seperti Husserl, Heidegger, dan Merleau-Ponty yang menempatkan
pengalaman sebagai ujung tombak memahami bagaimana tubuh manusia bersentuhan
dengan dunia di luar dan/atau di dalam dirinya serta memprosesnya ke dalam
kesadaran. Pengalaman ketubuhan manusia membuka peluang bagi penyelidikan yang
cermat mengenai bagaimana manusia atau dalam hal ini kelompok teater melalui
media tubuhnya mengalami ruang, waktu, benda, getaran suara, cahaya, aroma,
serta lingkungan sosialnya; bahkan juga bagaimana individu mengalami gerak,
suhu, permukaan, aroma, bunyi, maupun tegangan dan sensasi dalam tubuhnya
sendiri. Dengan demikian terdapat peluang atas tubuh teater untuk terlibat
secara aktif dalam mengalami fenomena
yang ada di masyarakatnya melalui bentuk-bentuk transformasi ketubuhan.
Fenomena ini sejalan dengan penyelidikan Harold Isaacs dalam Ethnicity: Theory
and Experience (Glazer & Moynihan, 1975) bahwa tubuh akan selalu mengalami transformasi
sebagai perubahan identitasnya yang dapat menghasilkan isyarat-isyarat perubahan budaya.
Pengaruh
pemikiran fenomenologi yang mengedepankan pengalaman ketubuhan dalam seni
pertunjukan dicatatkan juga oleh Lono Simatupang yang menengarai karya
penelitian Jeff Todd Titon (1997) tentang “the
study of people making music” atau “experiencing music” dan juga Sally Ann
Ness (1996) dalam “cross-culture studies
of dance”. Berkaitan dengan hal itu, dialektika antara realitas dan idealitas
kelompok Teater Payung Hitam sesungguhnya ingin mengarah pada fenomenologi
perwujudan karya teater sebagai “The
Making of Theatre” yang dibangun oleh interpretasi dan konsep personal,
serta dikerjakan secara bersama-sama (ensamble).
Konsep
personal itu tentu saja berdasarkan pengalamannya yang mengalami transformasi.
Menururt Edmund Husserl, bahwa tidak
ada skema konseptual di luar pengalaman langsung yang sebenarnya cukup untuk
mengungkapkan kebenaran, tetapi pengalaman yang disadari oleh individu harus
dijadikan rute untuk menemukan realitas. Di sini ada pengakuan bahwa setiap
orang itu merupakan subjek dengan
pengalaman-pengalamannya sendiri. Tetapi orang juga menyadari tentang adanya
perilaku dan pernyataan eksternal. Pengalaman
orang lain menjadi landasan dan pengalaman sendiri akan membangun landasan
intersubjektif, dan menjadi basis untuk sharing
dalam membangun dunia nilai dan budaya. Hal ini terjadi pada cara-cara “the making of theatre”dari kelompok
Teater Payung Hitam yang secara periodik menawarkan karya-karya pertunjukan
dengan format berbeda, misalnya Menunggu
Godot, Kaspar, dan Merah Bolong Putih Doblong Hitam.
Pertunjukan sebagai teks karya
mereka dihasilkan dari konstruksi atas apa yang mereka tafsirkan. Awalnya
kesetiaan terhadap teks drama menjadi acuan sebagaimana dalam penggarapan
pertunjukan Menunggu Godot, kemudian
ia mengkonstruksi teks dan bahkan
“memporakporandakan” teks sebagaimana penggarapan pertunjukan Kaspar, dan terakhir ia membuang dan
atau melupakan teks untuk selanjutnya diubah menjadi teks-teks pertunjukan
seperti garapan pertunjukan Merah Bolong
Putih Doblong Hitam. Ini sebuah proses dialektika dan sekaligus menjadi turning point bentuk transformasi
identitas diri kelompok Teater Payung Hitam, yang tentu saja dimobilisasi oleh
pemikiran dan konsepsi personal atas dasar pengalamannya. Identitas merupakan
suatu unsur kunci dari kenyataan subjektif yang selalu berhubungan secara dialektis dengan masyarakat (Berger &
Luckmann, 1990). Setiap kelompok seni yang dilahirkan, sudah dengan
namanya masing-masing, sebagai nama pribadi atau identitas kelompok atau juga
sebuah nama untuk kelompoknya di mana dia dilahirkan. Demikian halnya dengan
kelompok Teater Payung Hitam secara otomatis akan menjadikan dirinya sebagai
diri yang tidak ada samanya, di antara kelompok yang lain, menunjukkan
kebangsaan, atau unsur nasionalisme lainnya, wilayah, ataupun keberpihakan,
bahasanya, keindahan, dan atribut yang dihasilkan akibat daripada kondisi
ekonomi, sosial, politik dan hal ini terus mempengaruhi pandangan
orang/kelompok teaternya sejak tumbuh sampai menemukan kedewasaan berpikirnya.
Akhirnya, Realitas nyata adanya, tapi idealitas ada hanya dalam tataran persepsi.
Realitas yang ada patut kita perbincangkan dan idealitas dalam tataran persepsi
patut pula kita wacanakan. Suatu realitas bahwa kelompok Teater Payung Hitam
itu ada karena adanya sosok Rachman Sabur. Transformasi identitas kelompok
Teater Payung Hitam itu juga realitas yang dibangun atas dasar pengalaman-pengalaman
sosok primus interpres-nya, namun
idealitas bisa dipersepsikan ”ada” atau ”tak ada”.
Penulis,
adalah Doktor dalam komunikasi seni pertunjukan; Dosen di Jurusan Teater STSI
Bandung, mengajar di program Keahlian Komunikasi IPB, Dekan Fakultas Ilmu
Sosial dan Sastra di Universitas Kebangsaan Bandung (UKB) , dan sempat mengajar di Program Pascasarjana
Kajian Budaya UNPAD.
