Senin, 26 Agustus 2013

Memahami “The Making of Theatre”



Memahami “The Making of Theatre”:
KASUS TRANSFORMASI IDENTITAS BENTUK TEATER PAYUNG HITAM
Oleh : Jaeni B. Wastap

Perjalanan sebuah kelompok teater akan selalu mengalami proses dialektika sebagai wujud transformasi identitas hingga ia memiliki karakteristik dan mainstream sendiri sebagai identitasnya. Hal ini dialami oleh Kelompok Teater Payung Hitam Bandung, yang dikomandani oleh Rachman Sabur selama 20 tahunan lebih. Pergulatan pertunjukan teaternya tidak saja menjadi apresiasi lokal, namun nasional dan bahkan menjelajah ke wilayah internasional. Ini menjadi bukti bahwa adanya proses yang panjang bagi sebuah kelompok teater atau kesenimanan teater untuk menjadi mapan  dengan tidak hanya memiliki kemampuan teknik belaka.

Transformasi Identitas
Sebuah dialektika kesenimanan dan intelektualitas dengan perjalanan masa yang menjadi suatu proses merupakan bentuk transformasi. Saya terkesan dengan istilah “transformasi” menurut Strauss (1959) yang mengisyaratkan penilaian baru tentang diri pribadi dan orang lain, tentang peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan dan objek-objek. Strauss menggaris-bawahi bahwa bentuk transformasi ini menjadi turning point atas apa yang telah menjadi proses berteater selama ini dari kelompok Teater Payung Hitam. Turning point dalam arti yang sesungguhnya sangat irreversible, tak dapat kembali, ia berjalan sesuai yang dialami menuju kenyataan kini. Hal ini telah diejawantahkan oleh kelompok Teater Payung Hitam sebagai sebuah bentuk transformasi identitas kekaryaan seorang seniman teater. Fase-fase kekaryaan dalam proses transformasi identitas sebagai suatu dialektika antara realitas dan idealitas dapat diklasifikasi secara periodikmelalui  perwujudan karya-karya pertunjukan kelompok Teater Payung Hitam (Menunggu Godot karya Samuel Backett dipentaskan tahun 1991; Kaspar karya Peter Handke dipentaskan tahun 1994 dan 2004; dan Merah Bolong Putih Doblong Hitam karya Racman Sabur dipentaskan tahun 1996 dan 2008).
Dari fase perwujudan karya-karya pertunjukan teater tersebut, sesungguhnya kelompok Teater Payung hitam telah melakukan transformasi bentuk termasuk identitas mereka. Bahwa perubahan itu terjadi pada “tubuh” kelompok Teater Payung Hitam, sekaligus pada “nama” sosok atau kelompok tersebut. Tubuh” teater adalah unsur yang paling gamblang yang membentuk identitas seseorang ataupun kelompoknya yang mengusung karakteristik dan mainstream yang khas. Tubuh teater diartikan sebagai unsur fisikal-material yang mengusung perwujudan bentuk pertunjukan teater secara artistik. Tubuh teater itu dapat menampakkan wujudnya jika ia mengalami proses ketubuhan. Pendapat tersebut tentu saja sangat didukung oleh kaum fenomenolog seperti Husserl, Heidegger, dan Merleau-Ponty yang menempatkan pengalaman sebagai ujung tombak memahami bagaimana tubuh manusia bersentuhan dengan dunia di luar dan/atau di dalam dirinya serta memprosesnya ke dalam kesadaran. Pengalaman ketubuhan manusia membuka peluang bagi penyelidikan yang cermat mengenai bagaimana manusia atau dalam hal ini kelompok teater melalui media tubuhnya mengalami ruang, waktu, benda, getaran suara, cahaya, aroma, serta lingkungan sosialnya; bahkan juga bagaimana individu mengalami gerak, suhu, permukaan, aroma, bunyi, maupun tegangan dan sensasi dalam tubuhnya sendiri. Dengan demikian terdapat peluang atas tubuh teater untuk terlibat secara aktif  dalam mengalami fenomena yang ada di masyarakatnya melalui bentuk-bentuk transformasi ketubuhan. Fenomena ini sejalan dengan penyelidikan Harold Isaacs dalam Ethnicity: Theory and Experience (Glazer & Moynihan, 1975)  bahwa tubuh akan selalu mengalami transformasi sebagai perubahan identitasnya yang dapat menghasilkan isyarat-isyarat perubahan budaya.          
Pengaruh pemikiran fenomenologi yang mengedepankan pengalaman ketubuhan dalam seni pertunjukan dicatatkan juga oleh Lono Simatupang yang menengarai karya penelitian Jeff Todd Titon (1997) tentang “the study of people making music”  atau “experiencing music” dan juga Sally Ann Ness (1996) dalam “cross-culture studies of dance”. Berkaitan dengan hal itu, dialektika antara realitas dan idealitas kelompok Teater Payung Hitam sesungguhnya ingin mengarah pada fenomenologi perwujudan karya teater sebagai “The Making of Theatre” yang dibangun oleh interpretasi dan konsep personal, serta dikerjakan secara bersama-sama (ensamble).
Konsep personal itu tentu saja berdasarkan pengalamannya yang mengalami transformasi. Menururt Edmund Husserl, bahwa tidak ada skema konseptual di luar pengalaman langsung yang sebenarnya cukup untuk mengungkapkan kebenaran, tetapi pengalaman yang disadari oleh individu harus dijadikan rute untuk menemukan realitas. Di sini ada pengakuan bahwa setiap orang itu  merupakan subjek dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Tetapi orang juga menyadari tentang adanya perilaku  dan pernyataan eksternal. Pengalaman orang lain menjadi landasan dan pengalaman sendiri akan membangun landasan intersubjektif, dan menjadi basis untuk sharing dalam membangun dunia nilai dan budaya. Hal ini terjadi pada cara-cara “the making of theatre”dari kelompok Teater Payung Hitam yang secara periodik menawarkan karya-karya pertunjukan dengan format berbeda, misalnya Menunggu Godot, Kaspar, dan Merah Bolong Putih Doblong Hitam.
Pertunjukan sebagai teks karya mereka dihasilkan dari konstruksi atas apa yang mereka tafsirkan. Awalnya kesetiaan terhadap teks drama menjadi acuan sebagaimana dalam penggarapan pertunjukan Menunggu Godot, kemudian ia mengkonstruksi teks dan bahkan  “memporakporandakan” teks sebagaimana penggarapan pertunjukan Kaspar, dan terakhir ia membuang dan atau melupakan teks untuk selanjutnya diubah menjadi teks-teks pertunjukan seperti garapan pertunjukan Merah Bolong Putih Doblong Hitam. Ini sebuah proses dialektika dan sekaligus menjadi turning point bentuk transformasi identitas diri kelompok Teater Payung Hitam, yang tentu saja dimobilisasi oleh pemikiran dan konsepsi personal atas dasar pengalamannya. Identitas merupakan suatu unsur kunci dari kenyataan subjektif yang selalu berhubungan secara  dialektis dengan masyarakat (Berger & Luckmann, 1990). Setiap kelompok seni yang dilahirkan, sudah dengan namanya masing-masing, sebagai nama pribadi atau identitas kelompok atau juga sebuah nama untuk kelompoknya di mana dia dilahirkan. Demikian halnya dengan kelompok Teater Payung Hitam secara otomatis akan menjadikan dirinya sebagai diri yang tidak ada samanya, di antara kelompok yang lain, menunjukkan kebangsaan, atau unsur nasionalisme lainnya, wilayah, ataupun keberpihakan, bahasanya, keindahan, dan atribut yang dihasilkan akibat daripada kondisi ekonomi, sosial, politik dan hal ini terus mempengaruhi pandangan orang/kelompok teaternya sejak tumbuh sampai menemukan kedewasaan berpikirnya.

Akhirnya, Realitas nyata adanya, tapi idealitas ada hanya dalam tataran persepsi. Realitas yang ada patut kita perbincangkan dan idealitas dalam tataran persepsi patut pula kita wacanakan. Suatu realitas bahwa kelompok Teater Payung Hitam itu ada karena adanya sosok Rachman Sabur. Transformasi identitas kelompok Teater Payung Hitam itu juga realitas yang dibangun atas dasar pengalaman-pengalaman sosok primus interpres-nya, namun idealitas bisa dipersepsikan ”ada” atau ”tak ada”.

Penulis,
adalah Doktor dalam komunikasi  seni pertunjukan; Dosen di Jurusan Teater STSI Bandung, mengajar di program Keahlian Komunikasi IPB, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Sastra di Universitas Kebangsaan Bandung (UKB) ,  dan sempat mengajar di Program Pascasarjana Kajian Budaya UNPAD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

harap menunggu, komentar anda akan dikonfirmasi