Senin, 26 Agustus 2013

MEDIA DAN SENI PERTUNJUKAN



MEDIA DAN SENI PERTUNJUKAN
Oleh : Jaeni B. Wastap


Pendahuluan
Dewasa ini orang memahami media hanya pada media elektronik dan cetak (radio, televisi dan koran) bahkan yang tengah melanda masyarakat saat ini adalah media internet yang merupakan bentuk konvergensi dari seluruh media. Pemahaman ini sangat wajar ketika era informasi melanda masyarakat Indonesia, hingga media-media lokal yang dulu dimiliki oleh masyarakat Indonesia tidak tersentuh dan dipahami sebagai media sosial dalam lingkungannya.
Seturut dengan masalah itu, penulis ingin mengingatkan kembali pada kahlayak pembaca, bahwa media-media yang dulu menjadi media informasi memasukan pula seni pertunjukan sebagai media orisinal yang hingga saat ini masih dinikmati oleh masyarakatnya. Media itu adalah seni pertunjukan Indonesia yang sampai saat ini masih tersebar di berbagai daerah di wilayah Indonesia, dari lingkungan sosial terkecil daerah – desa hingga kabupaten dan provinsi di Indonesia.
Oleh beberapa pakar komunikasi, media komunikasi dan informasi dalam bentuk seni pertunjukan ini diidentifikasi sebagai media komunikasi tradisional. Pandangan ini tidaklah tepat mengingat beberapa pertunjukan yang dulu hidup dan berkembang hingga saat ini masih eksis dan mengikuti arus zaman. Seni pertunjukan bukan lagi disebut sebagai media komunikasi tradisonal, melainkan ia adalah media komunikasi lokal yang juga mengadopsi hasil-hasil teknologi sesuai perkembangan zaman.
Mengingat uraian di atas, tulisan ini ingin memberikan pemahaman, betapa media seni atau seni pertunjukan merupakan bagian dari media komunikasi dan media sekarang, televisi, pun memiliki kepentingan terhadap media seni tersebut. Untuk hal itu, berturut-turut tulisan ini akan memaparkan seni pertunjukan sebagai media komunikasi, dan keterkaitan antara media dan seni pertunjukan.

Seni Pertunjukan Sebagai Media Komunikasi
Dalam konteks pertunjukan yang didasarkan pada peran dan fungsinya, seni pertunjukan lebih dekat disebut sebagai media komunikasi. Sejalan dengan itu, maka wilayah seni pertunjukan sebagai media komunikasi antara kreator (seniman) dan apresiator (penonton), antara pelaku seni dan penikmat seni, menjadi sesuatu yang ditafsirkan oleh keduanya. Seni pertunjukan diciptakan oleh pelaku seni dengan tafsir makna tersendiri, yang kemudian diamati, ditonton, atau diapresiasi oleh penikmat seni dengan tafsir makna tersendiri pula. Peristiwa komunikasi demikian pada suatu bentuk pertunjukan merupakan kejadian yang terus menerus berlangsung, dan hal inilah yang menyebabkan seni pertunjukan tetap bertahan di tengah-tengah masyarakatnya.
Seni pertunjukan apapun bentuknya merupakan media komunikasi,  yang memiliki progresivitas dalam menciptakan ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. Progresivitas pertunjukan  sebagai media komunikasi dapat kita amati dengan ‘pelebaran wilayah pertunjukan’ (Lull, 1998: 192-193) yang sebelumnya telah dirinci secara antropologis, di antaranya oleh Victor Turner (The Anthropology of Performance,1986), Willa Apple dan Richard Schechner (By Mean of Performance, 1990), dan Richard Schechner (Performance Theory, 1988). Dari ketiga kajian tersebut, pertunjukan pada prinsipnya  dibagi menjadi empat kategori, yakni; (1) ritual (hal-hal yang menyangkut upacara keagamaan); (2) performance arts (seni pertunjukan); (3) event of culture (hal-hal yang menyangkut peristiwa budaya), dan; (4) entertainment (dunia hiburan).
Richard Schechner menegaskan bahwa  pertunjukan dapat mencerminkan dari salah satu kategori di atas. Pertunjukan  seni apapun bagi masyarakat di berbagai daerah masih memiliki magi simpatetik yang dipercayai masyarakat pendukungnya, misalnya saja ketika rites de passage – upacara peralihan menurut kepercayaan masyarakat - itu dilaksanakan. Hal ini berarti bahwa seni pertunjukan mampu memasuki ruang ritual dan berinteraksi dengan masyarakatnya dalam situasi religiusitas.
Seni pertunjukan merupakan seni plastis atau seni kemasan dengan bobot estetik yang cukup diperhitungkan dan memiliki multidimensi seni, misalnya teater/drama, tari, musik  (karawitan), seni rupa, sastra dan sebagainya. Demikian halnya dengan seni pertunjukan yang termasuk dalam kategori pertunjukan peristiwa budaya, bisa merupakan suatu invention culture (budaya yang ditemukan), yang bentuknya bisa berupa perayaan-perayaan atau pertunjukan yang dipengaruhi oleh tradisi panajerik (Subagya, 1981: 79 – 83).
Selanjutnya seni pertunjukan yang menghibur (to entertain), dengan sifatnya yang menghibur, seni pertunjukan berkembang pesat dengan orientasinya yang lebih pada profit, namun juga disajikan secara cuma-cuma sebagai pelengkap kegiatan yang sifatnya lebih pada market-oriented pada masyarakat kota (industri), dan leisure time pada masyarakat desa (pertanian). Ruang dan waktu bentuk pertunjukan seperti ini tidak terbatas, seperti slogan coca cola, yang siap dimana saja, kapan saja, dan siapa saja. Oleh karenanya, media televisi sangat melirik bentuk pertunjukan yang bersifat hiburan, ringan, dan marketable.
Seni pertunjukan yang hidup dan  berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, pada hakekatnya adalah sebuah media komunikasi budaya. Sebagai media komunikasi budaya lingkungannya, seni pertunjukan memiliki pola interaksi dengan masyarakat, dimana setiap orang atau masyarakat ingin melibatkan dirinya dengan cara menonton, mengapresiasi, mengamati, menginterpretasi, mengkritisi dan bahkan ingin melibatkan diri menjadi pelaku dalam peristiwa pertunjukan, baik secara  langsung maupun tidak langsung. Interaksi di sini lebih dipandang sebagai interaksi simbolik, yang inti dari interaksi tersebut dengan meminjam catatan Deddy Mulyana adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau proses pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana, 2002: 68). Dalam bahasa lain simbol-simbol yang berinteraksi itu sebagai sebuah pertunjukan dapat disebut sebagai teks yang dikomposisikan dalam pertunjukan (composition in performance). Koster melihat komposisi tersebut dengan memberikan model komunikasi teks tradisi lisan melalui seni pertunjukan sebagai berikut:

 





                          








Model Komunikasi dalam Pertunjukan (tradisi Lisan)
Sumber: Koster dalam Pudentia, 1998: 33


Antara Media dan Seni Pertunjukan
Dunia kita saat ini secara tidak sadar telah dikepung oleh media yang hadir dari berbagai sisi dan penjuru sudut. Setiap langkah kita diiringi oleh ekspresi media yang lahir seiring dengan kemajuan teknologi dan kemajuan pemikiran sosok-sosok yang menjadi pelaku di dalamnya. Fenomena ini cukup beralasan jika kita menengok kembali ungkapan yang dilontarkan Water Lippmann (1922) tentang lingkungan semu (psedou environment).
Dunia objektif yang dihadapi manusia itu “tidak terjangkau, tidak terlihat, dan tak terbayangkan”. Oleh karenanya manusia menciptakan sendiri dunia di pikirannya dalam upaya memahami dunia objektif. Karena itu pula perilaku manusia dalam sebuah media tidak didasarkan pada kenyataan yang sesungguhnya, melainkan berdasarkan pada kenyataan ciptaannya sendiri (Rivers, dkk., 2004: 29). Gambaran tentang lingkungan semu Lippmann adalah gambaran isi media yang tak berbeda dengan bentuk-bentuk pertunjukan sebagai ekspresi manusia saat ini, yang bermaksud menggambarkan dunia objektif.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam kajian media dan seni pertunjukan  akan saya khususkan menyoroti media televisi yang secara umum sebenarnya menayangkan mata acara yang erat kaitannya dengan pertunjukan. Sebagaimana pertunjukan menurut Bill Parcells dalam performance studies, yang dicatat oleh Schechner mengidentifikasi adanya 8 macam bentuk pertunjukan. Bentuk-bentuk pertunjukan tersebut meliputi; pertunjukan dalam kehidupan sehari-hari (everyday life), seni, olah raga dan hiburan populer, bisnis (kerja), teknologi, seks, ritual (sakral dan sekuler), dan drama (teater) (Schechner, 2002: 25). Kedelapan jenis pertunjukan tersebut merupakan isi media televisi kita saat ini yang dikemas oleh pelaku media sesuai dengan interpretasi mereka.
Antara media televisi dan seni pertunjukan memang terjadi perbedaan wilayah. Akan tetapi secara umum keduanya menjadi suatu “pertunjukan” yang memiliki hakekat sama, yaitu “ditonton oleh banyak orang”. Dengan ditonton dan diapresiasi oleh masyarakat, mereka menjadi suatu bentuk sumber komunikasi yang memberikan pesan bagi khalayak masing-masing. Hal inilah yang menyebabkan pertautan antara media dan seni pertunjukan menjadi erat kaitannya.
Permasalahannya muncul ketika media televisi dikategorikan sebagai pembujuk seperti yang dikatakan oleh Drew Pearson, bahwa “selain reporter, masih banyak pembohong lain dalam media televisi yang memiliki maksud-maksud untuk membujuk khalayak” (Rivers, dkk., 2004: 231). Bujukan media televisi adalah bujukan semu yang tidak setiap orang dapat menjangkaunya, baik dari sisi ekonomi, sosial, politik, maupun kultur. Bujukan-bujukan tersebut secara keseluruhan menawarkan gaya hidup ideal seseorang untuk dapat dikatakan sebagai manusia kekinian.
Dunia yang semu (psedou world) dan bukan pula hayalan yang ditawarkan televisi menjadi elemen-elemen simbolik dari suatu masyarakat beragam kelas  yang terangkum dalam pikiran media untuk mempengaruhi masyarakat (pemirsa). Sementara seni pertunjukan yang digarap oleh sosok seniman dengan media panggung pertunjukan lebih menawarkan nilai-nilai yang diyakini oleh suatu kelompok masyarakat yang memandang fenomena-fenomena sebagai sesuatu yang harus dijawab dalam sebuah karya pertunjukan. Ketika kedua bentuk disatukan, media televisi dan seni pertunjukan, mereka mejadi saling membutuhkan. Media televisi membutuhkan pertunjukan sebagai isi dari apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat dan pertunjukan membutuhkan media televisi sebagai media untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang ada dalam pertunjukan tersebut.
Kepentingan yang sama dimiliki oleh media dan seni pertunjukan dalam memberikan pesan. Dengan pengalaman dan pikiran para pelaku media, jenis-jenis pertunjukan direkonstruksi untuk turut membangun kehidupan berkaitan dengan pikiran-pikiran sosial dan budaya masyarakatnya.
Terdapat banyak ragam pandangan yang didasarkan pengalaman dan pikiran sosok manusia yang dituangkan dalam media saat ini. Pengalaman dan pikiran individu manusia yang dituangkan dalam media itu sekarang dianggap sebagai kreativitas manusia. Ragam kreativitas selanjutnya merupakan bagian dari budaya masyarakat yang oleh media disebarluaskan menjadi suatu bentuk pikiran-pikiran dengan makna baru yang kepentingannya untuk mempengaruhi atau memberikan informasi dari apa yang menjadi gagasan kreativitasnya.
Sekalipun antara media televisi dan seni pertunjukan memiliki hakekat yang sama, keduanya berbeda orientasi secara ideal. Idealisasi seni pertunjukan dapat menawarkan makna atas nilai-nilai kultural yang menjadi bagian penting hidup suatu masyarakat atas hubungan yang tidak berdasarkan untung rugi secara finansial. Berbeda halnya dengan media televisi kita saat ini yang lebih berorientasi pada prinsip-prinsip libertarian. Prinsip ini di antaranya menjadikan media sebagai hiburan dan barang dagangan. Seperti ditengarai oleh Pauline Kael (dalam Rivers, 2004: 181), bahwa televisi sering menampilkan acara promosi dengan para selebritis untuk menjual apa saja dan itupun masih diselingi dengan iklan-iklan lainnya.

Simpulan
Dari uraian yang sangat singkat, tulisan ini dapat disimpulkan bahwa seni pertunjukan merupakan media komunikasi masyarakat lingkungannya yang memiliki fungsi lebih pada penyadaran budaya. Sebagai media komunikasi, seni pertunjukan memberikan informasi kearifan lokal yang secara lisan masih menjadi budaya kebanyakan masyarakat pendukungnya. Simbol-simbol yang menjadi alat komunikasi dalam seni pertunjukan sebagai media komunikasi adalah simbol-simbol yang dapat memberikan pengetahuan atas budaya lokal berdasarkan kesepakatan masyarakatnya.
Demikian halnya jika kita bandingkan antara media saat ini (terutama televisi) dengan seni pertunjukan. Perbedaan yang mencolok adalah isi tampilan dan makna tampilan yang dikemukakan dua media tersebut. Televisi, oleh karena sifatnya yang sangat berorientasi pada pasar, kapital maka isinya lebih menyenangkan pemirsanya sebagai sebuah hiburan. Berbeda dengan media seni pertunjukan, sekalipun menampilkan kesenangan dan hiburan namun tetap memegang nilai-nilai yang berlaku di masyarakatnya. Pada sisi lain, komunikasi yang dibangun oleh media televisi adalah komunikasi dalam konteks massa, berbeda dengan seni pertunjukan yang agak terbatas sebagai media komunikasi dalam konteks publik.






Daftar Bacaan
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. (edisi revisi) Bandung: Rosdakarya.
Rivers, William L., Jay W. Jensen, dan Theodore Peterson. 2004. Media Massa dan Masyarakat Modern. Terjemahan Haris Munandar dan Dudy Priatna. Jakarta: Prenada Media.
Schechner, Richard. 1988. Performance Theory. New York and London: Routledge.
Schechner, Richard and Willa Appel. 1990. By Mean of Performance: Intercultural Studies of Theatre and Ritual. Cambridge University Press.
Turner, Victor. 1986. The Anthropology of Performance. New York: PAJ Publications.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

harap menunggu, komentar anda akan dikonfirmasi