MEDIA DAN SENI PERTUNJUKAN
Oleh : Jaeni B. Wastap
Pendahuluan
Dewasa ini
orang memahami media hanya pada media elektronik dan cetak (radio, televisi dan
koran) bahkan yang tengah melanda masyarakat saat ini adalah media internet
yang merupakan bentuk konvergensi dari seluruh media. Pemahaman ini sangat
wajar ketika era informasi melanda masyarakat Indonesia, hingga media-media
lokal yang dulu dimiliki oleh masyarakat Indonesia tidak tersentuh dan dipahami
sebagai media sosial dalam lingkungannya.
Seturut
dengan masalah itu, penulis ingin mengingatkan kembali pada kahlayak pembaca,
bahwa media-media yang dulu menjadi media informasi memasukan pula seni
pertunjukan sebagai media orisinal yang hingga saat ini masih dinikmati oleh
masyarakatnya. Media itu adalah seni pertunjukan Indonesia yang sampai saat ini
masih tersebar di berbagai daerah di wilayah Indonesia, dari lingkungan sosial
terkecil daerah – desa hingga kabupaten dan provinsi di Indonesia.
Oleh
beberapa pakar komunikasi, media komunikasi dan informasi dalam bentuk seni
pertunjukan ini diidentifikasi sebagai media komunikasi tradisional. Pandangan
ini tidaklah tepat mengingat beberapa pertunjukan yang dulu hidup dan
berkembang hingga saat ini masih eksis dan mengikuti arus zaman. Seni
pertunjukan bukan lagi disebut sebagai media komunikasi tradisonal, melainkan
ia adalah media komunikasi lokal yang juga mengadopsi hasil-hasil teknologi
sesuai perkembangan zaman.
Mengingat
uraian di atas, tulisan ini ingin memberikan pemahaman, betapa media seni atau
seni pertunjukan merupakan bagian dari media komunikasi dan media sekarang,
televisi, pun memiliki kepentingan terhadap media seni tersebut. Untuk hal itu,
berturut-turut tulisan ini akan memaparkan seni pertunjukan sebagai media
komunikasi, dan keterkaitan antara media dan seni pertunjukan.
Seni Pertunjukan Sebagai Media Komunikasi
Dalam konteks pertunjukan yang didasarkan pada
peran dan fungsinya, seni pertunjukan lebih dekat disebut sebagai media
komunikasi. Sejalan dengan itu, maka wilayah seni pertunjukan sebagai media
komunikasi antara kreator (seniman) dan apresiator (penonton), antara pelaku
seni dan penikmat seni, menjadi sesuatu yang ditafsirkan oleh keduanya. Seni
pertunjukan diciptakan oleh pelaku seni dengan tafsir makna tersendiri, yang kemudian
diamati, ditonton, atau diapresiasi oleh penikmat seni dengan tafsir makna
tersendiri pula. Peristiwa komunikasi demikian pada suatu bentuk pertunjukan
merupakan kejadian yang terus menerus berlangsung, dan hal inilah yang
menyebabkan seni pertunjukan tetap bertahan di tengah-tengah masyarakatnya.
Seni pertunjukan apapun bentuknya merupakan
media komunikasi, yang memiliki
progresivitas dalam menciptakan ragam dan format sajian untuk mendekatkan diri
dan berkomunikasi dengan masyarakat pendukungnya. Progresivitas
pertunjukan sebagai media komunikasi
dapat kita amati dengan ‘pelebaran wilayah pertunjukan’ (Lull, 1998: 192-193)
yang sebelumnya telah dirinci secara antropologis, di antaranya oleh Victor
Turner (The Anthropology of Performance,1986), Willa Apple dan Richard
Schechner (By Mean of Performance, 1990), dan Richard Schechner (Performance
Theory, 1988). Dari ketiga kajian tersebut, pertunjukan pada
prinsipnya dibagi menjadi empat
kategori, yakni; (1) ritual (hal-hal yang menyangkut upacara keagamaan);
(2) performance arts (seni pertunjukan); (3) event of culture
(hal-hal yang menyangkut peristiwa budaya), dan; (4) entertainment
(dunia hiburan).
Richard Schechner menegaskan bahwa
pertunjukan dapat mencerminkan dari salah satu kategori di atas.
Pertunjukan seni apapun bagi masyarakat
di berbagai daerah masih memiliki magi simpatetik yang dipercayai
masyarakat pendukungnya, misalnya saja ketika rites de passage – upacara
peralihan menurut kepercayaan masyarakat - itu dilaksanakan. Hal ini berarti
bahwa seni pertunjukan mampu memasuki ruang ritual dan berinteraksi dengan
masyarakatnya dalam situasi religiusitas.
Seni pertunjukan merupakan seni plastis atau seni kemasan dengan bobot
estetik yang cukup diperhitungkan dan memiliki multidimensi seni, misalnya
teater/drama, tari, musik (karawitan),
seni rupa, sastra dan sebagainya. Demikian halnya dengan seni pertunjukan yang
termasuk dalam kategori pertunjukan peristiwa budaya, bisa merupakan suatu invention
culture (budaya yang ditemukan), yang bentuknya bisa berupa
perayaan-perayaan atau pertunjukan yang dipengaruhi oleh tradisi panajerik (Subagya,
1981: 79 – 83).
Selanjutnya seni pertunjukan yang menghibur (to entertain), dengan
sifatnya yang menghibur, seni pertunjukan berkembang pesat dengan orientasinya
yang lebih pada profit, namun juga disajikan secara cuma-cuma sebagai pelengkap
kegiatan yang sifatnya lebih pada market-oriented pada masyarakat kota
(industri), dan leisure time pada masyarakat desa (pertanian). Ruang dan
waktu bentuk pertunjukan seperti ini tidak terbatas, seperti slogan coca
cola, yang siap dimana saja, kapan saja, dan siapa saja. Oleh karenanya,
media televisi sangat melirik bentuk pertunjukan yang bersifat hiburan, ringan,
dan marketable.
Seni pertunjukan yang hidup dan
berkembang di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, pada hakekatnya
adalah sebuah media komunikasi budaya. Sebagai media komunikasi budaya
lingkungannya, seni pertunjukan memiliki pola interaksi dengan masyarakat,
dimana setiap orang atau masyarakat ingin melibatkan dirinya dengan cara
menonton, mengapresiasi, mengamati, menginterpretasi, mengkritisi dan bahkan
ingin melibatkan diri menjadi pelaku dalam peristiwa pertunjukan, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi di sini lebih dipandang
sebagai interaksi simbolik, yang inti dari interaksi tersebut dengan meminjam
catatan Deddy Mulyana adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia,
yakni komunikasi atau proses pertukaran simbol yang diberi makna (Mulyana,
2002: 68). Dalam bahasa lain simbol-simbol yang berinteraksi itu sebagai sebuah
pertunjukan dapat disebut sebagai teks yang dikomposisikan dalam pertunjukan (composition
in performance). Koster
melihat komposisi tersebut dengan memberikan model komunikasi teks tradisi
lisan melalui seni pertunjukan sebagai berikut:
Model Komunikasi dalam
Pertunjukan (tradisi Lisan)
Sumber: Koster dalam
Pudentia, 1998: 33
Antara Media dan Seni Pertunjukan
Dunia kita saat ini secara tidak
sadar telah dikepung oleh media yang hadir dari berbagai sisi dan penjuru
sudut. Setiap langkah kita diiringi oleh ekspresi media yang lahir seiring
dengan kemajuan teknologi dan kemajuan pemikiran sosok-sosok yang menjadi
pelaku di dalamnya. Fenomena ini cukup beralasan jika kita menengok kembali
ungkapan yang dilontarkan Water Lippmann (1922) tentang lingkungan semu (psedou
environment).
Dunia objektif yang dihadapi manusia
itu “tidak terjangkau, tidak terlihat, dan tak terbayangkan”. Oleh karenanya
manusia menciptakan sendiri dunia di pikirannya dalam upaya memahami dunia
objektif. Karena itu pula perilaku manusia dalam sebuah media tidak didasarkan
pada kenyataan yang sesungguhnya, melainkan berdasarkan pada kenyataan
ciptaannya sendiri (Rivers, dkk., 2004: 29). Gambaran tentang lingkungan semu
Lippmann adalah gambaran isi media yang tak berbeda dengan bentuk-bentuk
pertunjukan sebagai ekspresi manusia saat ini, yang bermaksud menggambarkan
dunia objektif.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam
kajian media dan seni pertunjukan akan
saya khususkan menyoroti media televisi yang secara umum sebenarnya menayangkan
mata acara yang erat kaitannya dengan pertunjukan. Sebagaimana pertunjukan
menurut Bill Parcells dalam performance studies, yang dicatat oleh
Schechner mengidentifikasi adanya 8 macam bentuk pertunjukan. Bentuk-bentuk
pertunjukan tersebut meliputi; pertunjukan dalam kehidupan sehari-hari (everyday
life), seni, olah raga dan hiburan populer, bisnis (kerja), teknologi,
seks, ritual (sakral dan sekuler), dan drama (teater) (Schechner, 2002: 25).
Kedelapan jenis pertunjukan tersebut merupakan isi media televisi kita saat ini
yang dikemas oleh pelaku media sesuai dengan interpretasi mereka.
Antara media televisi dan seni pertunjukan memang
terjadi perbedaan wilayah. Akan tetapi secara umum keduanya menjadi suatu
“pertunjukan” yang memiliki hakekat sama, yaitu “ditonton oleh banyak orang”. Dengan ditonton dan diapresiasi oleh
masyarakat, mereka menjadi suatu bentuk sumber komunikasi yang memberikan pesan
bagi khalayak masing-masing. Hal inilah yang menyebabkan pertautan antara media
dan seni pertunjukan menjadi erat kaitannya.
Permasalahannya muncul ketika media televisi
dikategorikan sebagai pembujuk seperti yang dikatakan oleh Drew Pearson, bahwa
“selain reporter, masih banyak pembohong lain dalam media televisi yang
memiliki maksud-maksud untuk membujuk khalayak” (Rivers, dkk., 2004: 231).
Bujukan media televisi adalah bujukan semu yang tidak setiap orang dapat
menjangkaunya, baik dari sisi ekonomi, sosial, politik, maupun kultur.
Bujukan-bujukan tersebut secara keseluruhan menawarkan gaya hidup ideal seseorang
untuk dapat dikatakan sebagai manusia kekinian.
Dunia yang semu (psedou world) dan bukan
pula hayalan yang ditawarkan televisi menjadi elemen-elemen simbolik dari suatu
masyarakat beragam kelas yang terangkum
dalam pikiran media untuk mempengaruhi masyarakat (pemirsa). Sementara seni
pertunjukan yang digarap oleh sosok seniman dengan media panggung pertunjukan
lebih menawarkan nilai-nilai yang diyakini oleh suatu kelompok masyarakat yang
memandang fenomena-fenomena sebagai sesuatu yang harus dijawab dalam sebuah
karya pertunjukan. Ketika kedua bentuk disatukan, media televisi dan seni
pertunjukan, mereka mejadi saling membutuhkan. Media televisi membutuhkan
pertunjukan sebagai isi dari apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat dan pertunjukan
membutuhkan media televisi sebagai media untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang
ada dalam pertunjukan tersebut.
Kepentingan yang sama dimiliki oleh media dan seni
pertunjukan dalam memberikan pesan. Dengan pengalaman dan pikiran para pelaku
media, jenis-jenis pertunjukan direkonstruksi untuk turut membangun kehidupan
berkaitan dengan pikiran-pikiran sosial dan budaya masyarakatnya.
Terdapat banyak ragam pandangan yang didasarkan
pengalaman dan pikiran sosok manusia yang dituangkan dalam media saat ini.
Pengalaman dan pikiran individu manusia yang dituangkan dalam media itu
sekarang dianggap sebagai kreativitas manusia. Ragam kreativitas selanjutnya
merupakan bagian dari budaya masyarakat yang oleh media disebarluaskan menjadi
suatu bentuk pikiran-pikiran dengan makna baru yang kepentingannya untuk
mempengaruhi atau memberikan informasi dari apa yang menjadi gagasan
kreativitasnya.
Sekalipun antara media televisi dan seni
pertunjukan memiliki hakekat yang sama, keduanya berbeda orientasi secara ideal.
Idealisasi seni pertunjukan dapat menawarkan makna atas nilai-nilai kultural
yang menjadi bagian penting hidup suatu masyarakat atas hubungan yang tidak
berdasarkan untung rugi secara finansial. Berbeda halnya dengan media televisi
kita saat ini yang lebih berorientasi pada prinsip-prinsip libertarian. Prinsip
ini di antaranya menjadikan media sebagai hiburan dan barang dagangan. Seperti
ditengarai oleh Pauline Kael (dalam Rivers, 2004: 181), bahwa televisi sering
menampilkan acara promosi dengan para selebritis untuk menjual apa saja dan
itupun masih diselingi dengan iklan-iklan lainnya.
Simpulan
Dari uraian yang sangat singkat, tulisan ini dapat
disimpulkan bahwa seni pertunjukan merupakan media komunikasi masyarakat
lingkungannya yang memiliki fungsi lebih pada penyadaran budaya. Sebagai media
komunikasi, seni pertunjukan memberikan informasi kearifan lokal yang secara
lisan masih menjadi budaya kebanyakan masyarakat pendukungnya. Simbol-simbol
yang menjadi alat komunikasi dalam seni pertunjukan sebagai media komunikasi
adalah simbol-simbol yang dapat memberikan pengetahuan atas budaya lokal
berdasarkan kesepakatan masyarakatnya.
Demikian halnya jika kita bandingkan antara media
saat ini (terutama televisi) dengan seni pertunjukan. Perbedaan yang mencolok
adalah isi tampilan dan makna tampilan yang dikemukakan dua media tersebut.
Televisi, oleh karena sifatnya yang sangat berorientasi pada pasar, kapital
maka isinya lebih menyenangkan pemirsanya sebagai sebuah hiburan. Berbeda
dengan media seni pertunjukan, sekalipun menampilkan kesenangan dan hiburan
namun tetap memegang nilai-nilai yang berlaku di masyarakatnya. Pada sisi lain,
komunikasi yang dibangun oleh media televisi adalah komunikasi dalam konteks
massa, berbeda dengan seni pertunjukan yang agak terbatas sebagai media
komunikasi dalam konteks publik.
Daftar Bacaan
Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. (edisi
revisi) Bandung: Rosdakarya.
Rivers, William L., Jay W. Jensen,
dan Theodore Peterson. 2004. Media Massa dan Masyarakat Modern.
Terjemahan Haris Munandar dan Dudy Priatna. Jakarta: Prenada Media.
Schechner,
Richard. 1988. Performance Theory. New York and London: Routledge.
Schechner, Richard
and Willa Appel. 1990. By Mean of Performance: Intercultural Studies of Theatre
and Ritual. Cambridge University Press.
Turner, Victor.
1986. The Anthropology of Performance. New York: PAJ Publications.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
harap menunggu, komentar anda akan dikonfirmasi