Senin, 26 Agustus 2013

Studi Dramaturgis Perempuan Dalam Seni Pertunjukan Rakyat



KAWIN – CERAI PERWUJUDAN CITRA POPULARITAS
(Studi Dramaturgis Perempuan Dalam Seni Pertunjukan Rakyat)

JAENI B. WASTAP



PENDAHULUAN
            Hampir setiap periode atau kurun waktu tertentu di sebuah daerah yang memiliki kekayaan seni pertunjukan memunculkan nama-nama populer para seniman maupun seniwati yang menjadi pujaan masyarakatnya. Selama periode tersebut tak kurang dari sekian perempuan terutama yang menjadi sentral popularitas. Pada kenyataannya memang demikian, masyarakat sering menunjuk seniman perempuan yang menjadi idola dalam pertunjukan apapun, baik tari, musik maupun teater rakyat. Mereka mengenal sosok primadona dalam seni pertunjukan rakyat, yang tidak saja dilihat dari bakat atau kemampuannya berperan sebagai seniman, kekhasan suara atau gerak tarinya, kecantikan atau keluguan parasnya.
            Berkaitan dengan hal tersebut, di daerah Cirebon dan Indramayu memiliki fenomena tersendiri atas munculnya sosok perempuan sebagai primadona dalam sebuah pertunjukan rakyat. Kehidupan seni pertunjukan sebagai suatu tradisi yang hidup di daerah tersebut sempat memunculkan nama-nama perempuan yang menjadi idola masyarakatnya. Namun, untuk menjadi dikenal dan populer, mereka para perempuan dalam seni pertunjukan rakyat mengalami fase-fase yang tidak saja muda. Dengan kata lain, popularitas perempuan dalam seni pertunjukan di daerah tersebut tidak serta merta didapat oleh sosok perempuan sebagai seniman atau pelaku seni pertunjukan. Mereka mendapatkan popularitas melalui tahapan tersendiri hingga ia mencapai ‘puncak karir’-nya di dunia seni pertunjukan.
Terdapat banyak perempuan yang menggeluti dunia seni pertunjukan (selanjutnya disebut seniwati), khususnya Cirebon dan Indramayu, yang memiliki publik tersendiri dan dikenal oleh masyarakat lingkungannya secara luas. Proses perjalanan seniwati tersebut tidaklah mudah mendapatkan popularitasnya seperti cara-cara instan produk budaya pop. Mereka mendapatkan popularitas tidak saja dari bakat namun ada proses-proses internalisasi kesenimanan tradisional dan bahkan perbenturannya dengan ranah sosial seperti kehidupan keluarga, latar belakang sosial, dan manajerial.
            Gejala yang timbul dari sebuah fenomena proses pendewasaan seorang seniwati memperlihatkan kecenderungan bahwa popularitas yang mereka dapat karena konteks sosial budaya mereka. Keberanian menanggung resiko sosial merupakan salah satu dari bagaimana seorang seniwati dapat meraih popularitasnya. Contoh kecil tidak jarang seniwati di daerah Cirebon dan Indramayu yang melakukan ‘kawin-cerai’ akibat posisi dan aktivitasnya di dunia seni pertunjukan. Di kala perceraian terjadi maka keberadaan seorang seniwati berstatuskan “janda”, selanjutnya aura kesenimanan seorang seniwati semakin bersinar  di mata penggemarnya. Sebagai seorang janda maka mereka mengalami kekosongan dalam kehidupan rumah tangganya. Posisi perempuan sebagai pelaku seni pertunjukan ketika itu tercurahkan seluruh aktivitas dan kreatifitasnya pada dunia seni pertunjukan. Panggung pertunjukan seolah menjadi dunia kecil mereka dengan segala suka dan duka.
            Popularitas merupakan rangkaian penting bagi seniwati dalam seni pertunjukan rakyat. Sebagaimana para selebrIs budaya populer kita, seniwati pertunjukan rakyat daerah Cirebon dan Indramayu banyak menerima job dari berbagai kelompok pertunjukan rakyat seperti tarling, sandiwara, wayang, dan bahkan kesenian organ tunggal yang sudah merakyat di daerah tersebut dewasa ini. Akan tetapi penampilan mereka dalam keseharian tentu saja tidak seperti selebrIs budaya populer. Mereka dalam keseharian penuh kesederhanaan, keluguan, dan  kebiasaan sebagaimana layaknya masyarakat desa. Meminjam catatan Goffman, bahwa seseorang memiliki dua dunia, yakni  back stage (panggung belakang) dan front stage (panggung depan) dalam kehidupan (Goffman dalam Poloma, 1987), termasuk juga kehidupan seniwati dalam pertunjukan rakyat. Penampilan mereka bisa seperti bintang dengan asesoris keduniawian saat berada di panggung pertunjukan atau tengah melakukan aktivitas yang berhubungan dengan profesi mereka. Namun berbeda penampilan mereka ketika menjalani kehidupan sehari-harinya yang bersahaja, alami tanpa asesoris kebendaan, dan tidak ada kemewahan. Terdapat dua peran yang harus mereka jalankan, baik sebagai seniman maupun sebagai masyarakat biasa di daerahnya.
            Pada sisi lain popularitas seniwati seni pertunjukan rakyat juga didasarkan pada status mereka yang “menjanda”, yang menyebabkan mereka lebih memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan dalam aktivitasnya sehari-hari. Permasalahan gender akibat pengaruh budaya patriakal yang sangat kuat terhadap seniwati daerah Cirebon –Indramayu menjadikan sosok perempuan sebagai seniwati memiliki ‘stigma’. Masyarakat perdesaan memandang seniwati sebagai sosok perempuan yang bebas, liar, dan tanpa ikatan sosial di rumah tangga mereka. Seniwati juga dikonotasikan sebagai seorang ronggeng yang dalam pandangan masyarakat setempat dilabelkan sebagai perempuan panggilan atau “perempuan pesolek”. Namun demikian seorang seniwati juga merupakan orang yang mampu menghidupi dirinya sendiri dengan talentanya yang dikemas dalam aktivitas, kreatifitas, dan penampilan tubuh mereka (body performances).


PERUMUSAN MASALAH
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat merupakan jaminan bagi perempuan pelaku seni untuk dapat hidup mandiri secara sosial-ekonomi. Pada sisi lain popularitas mengacuh pada kehidupan budaya pop yang lebih menekankan pada bagaimana seniwati dihargai secara kapital. Ukuran ekonomi menjadi sesuatu yang lumrah dalam dunia seni pertunjukan di kalangan rakyat. Bila mengacuh pada budaya pop, terdapat tiga komponen yang mengikat perilaku seseorang untuk dapat dikategorikan sebagai orang populer, yakni food, fashion, dan fun (makanan, pakaian, dan hiburan). Singkatnya, orang baru dapat disebut populer jika ia cukup memiliki kemampuan untuk memenuhi ketiga kebutuhan budaya pop tersebut di atas, menyandang, dan merasakannya. Hal ini berbeda dengan populer yang disandang oleh perempuan dalam seni pertunjukan rakyat. Populer diartikan sebagai seseorang yang dikenal, baik dari talentanya maupun penampilannya di suatu  panggung pertunjukan.
Untuk menjadi populer, perempuan di dunia seni pertunjukan rakyat membutuhkan proses yang panjang atau dengan kata lain mengalami fenomena-fenomena sosial tersendiri, baik interaksinya dalam kehidupan sosial maupun dalam penampilannya di panggung pertunjukan. Populer pada seni pertunjukan rakyat tidak berarti harus memiliki tampilan tubuh (wajah) yang cantik, sekalipun pada hal-hal tertentu itu diperlukan. Populer dalam seni pertunjukan rakyat tidak selalu orang yang memiliki pengetahuan tinggi atau memiliki kreatifitas lebih dalam dunianya,  tapi juga masalah konsistensi dan eksistensi.
Pada sisi lain, perempuan dalam seni pertunjukan rakyat yang mengalami popularitas adalah mereka yang berani menanggung resiko sosial tinggi. Artinya, popularitas yang mereka tempuh harus dibayar dengan nilai kemanusiaannya (prestise) di masyarakat. Oleh karena tidak jarang perempuan yang mampu berdiri tegak pada konsistensi dan eksistensinya di dunia seni pertunjukan dibarengi dengan perilaku sosial “kawin-cerai”. Lalu, bagaimana kawin-cerai ini  menggiring perwujudan citra popularitas perempuan-perempuan dalam dunia seni pertunjukan rakyat.

POPULARITAS DALAM MULTIPERSPEKTIF
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat terbentuk seiring dengan sistem budaya masyarakatnya. Meminjam catatan Raymond Williams mengenai arti dari populer, kita diarahkan pada situasi masyarakat yang terjebak oleh budaya kekinian yang tengah melingkupi masyarakat kita. Dalam pandangan lain, popularitas yang mereka sandang berkat pandangan masyarakat penonton yang sebagian besar adalah laki-laki.  John Storey melalui Teori Budaya dan Budaya Pop (2003) melukiskan pandangan kaum feminis, terutama dari esai Laura Mulvey bahwa di suatu pertunjukan terdapat peran besar “pandangan laki-laki” (male gaze) sebagai cara masyarakat patriarkal secara tanpa sadar membuat sebuah struktur. Perempuan dicitrakan dalam struktur tersebut sebagai bentuk objek hasrat laki-laki dan sebagai penanda dari ancaman pengebirian (Storey, 2003: 192).
Sementara pandangan lain membaca popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat dewasa ini memberikan semacam justifikasi bahwa laki-laki adalah sosok dominan dalam kehidupan budaya pop. Dominic Strinati berpendapat dalam tulisannya, Populer Culture,  bahwa ada hak istimewa  pada laki-laki dan kesenian dengan mengorbankan perempuan sebagai sosok yang dipopulerkan dalam budaya massa (Strinati, 2003: 219).
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat adalah sebuah bentuk pengorbanan kaum perempuan itu sendiri yang terjebak dalam budaya kekinian. Akan tetapi pada sisi lain bisa jadi popularitas adalah bagian dari kemandirian sosok perempuan dalam kehidupan seni budaya. Laki-laki penuh cacat dalam pandangannya bila merujuk pada psikoanalisis Freudian yang memberikan istilah “insting scopophilia” sebagai kesenangan laki-laki memandang objek menjadi sesuatu yang erotik (Mulvey dalam Storey, 2003:193).
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat dalam pandangan sosiologis masuk dalam kajian teori-teori krIs yang dapat dijadikan sandaran untuk membongkar topik dalam kajian ini, terutama teori dramatugis dari Erving Goffman dan simbolik interaksionisme dari Herbert Blumer. The Presentation of Self in Everyday Life (1959) oleh Erving Goffman menyoroti penampilan seseorang yang populer sebagaimana layaknya penampilan di atas panggung. Penampilan seseorang berada pada dua wilayah, yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Kehidupan sosial seseorang dalam aktivitasnya selalu menampilkan front stage tersebut sebagai rutinitas (Goffman, 1959: 22) dengan terlebih dulu memproduksi sebuah peran, yang dalam bahasa Goffman disebut impression management (mengelola kesan) atau sebuah akting yang selanjutnya disebut sebagai penampilan dan gaya (lihat Poloma, 1987: 235).
Sementara Simbolic Interactionism: Perfective and Method (1969) oleh Herbert Blumer menawarkan pada kita gagasan tentang tindakan manusia pada sesuatu berdasarkan makna-makna pada sesuatu itu bagi mereka. Blumer menilai bahwa manusia adalah aktor yang sadar dan reflektif, yang menyatukan objek-objek yang diketahuinya melalui self indication (lihat Suprapto, 2002: 122). Untuk hal tersebut, kesadaran sosok perempuan atas perannya dalam seni pertunjukan rakyat merupakan kesadaran dirinya yang kemudian dikejar untuk menjadi populer dan popularitasnya bisa jadi berkat labeling masyarakat lingkungannya sebagai sebuah resiko psikologi sosial.
Perempuan merupakan produk budaya yang direpresentasikan dalam seni pertunjukan bukanlah sosok konsumen melainkan produsen, penggerak keinginan penonton, menawarkan komunikasi, dan memberikan image terhadap sosoknya bahwa ia menjadi pusat perhatian dan pusat yang diinginkan. Bagaimana dengan perempuan seni pertunjukan rakyat yang memiliki pengetahuan formal rendah, dan  hanya mengandalkan keberanian mereka dari pengalaman yang selama ini didapatkannya di lapangan. Namun demikian mereka sadar bahwa sebagai perempuan menginginkan kemandirian, tidak menjadi benalu bagi orang lain, terutama pada laki-laki yang menjadi pasangannya. Mereka berusaha untuk itu dengan cara dan strategi sendiri, melalui penampilan dalam seni pertunjukan rakyat.  Keinginan menjadi semakin populer lebih disukai secara eksplisit karena hal itu berdampak pada finansial, apalagi penggemarnya yang tidak saja masyarakat biasa yang menanggap mereka namun para pejabat kelurahan atau para saudagar/pengusaha lokal yang sukses.

METODE PENELIAN
PenelIan tentang popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat dilakukan dengan semangat fenomenologis yang didasarkan pada pendekatan kualitatif. Dalam penelIan ini mengambil objek kajian perempuan dalam seni pertunjukan rakyat. Artinya, sosok perempuan merupakan suatu bangunan diskursif yang menekankan pada jejak-jejak pemikiran, citra dan praktis perempuan dalam cara-cara untuk berkomunikasi (lihat Hall dalam Barker, 2004: 6).
Dalam penelIan jenis ini, kebudayaan dan praktik pemaknaan  representasi citra popularitas seorang perempuan dijadikan kunci analisis dengan memandang perilaku kawin-cerai sebagai fenomena. Melalui fenomena tersebut mengharuskan kita untuk mengeksplorasi pembentukan makna, juga mengharuskan pengamatan tentang cara menghasilkan makna dalam beragam konteks atas citra perempuan dalam seni pertunjukan rakyat.
Sasaran penelIan ini adalah perempuan dalam seni pertunjukan rakyat yang ada di Cirebon dan Indramayu. Di kedua daerah ini cukup banyak terdapat aktivitas seni pertunjukan rakyat yang melibatan sosok perempuan sebagai pelakunya. Target pengidentifikasian terhadap beberapa sosok perempuan seni pertunjukan yang melakukan proses kawin-cerai sebagai pencitraan popularitas di dunia seni pertunjukan rakyat menjadi mutlak dilakukan.
            Alasan pemilihan  pokok bahasan ini cenderung pada pengamatan penelI bahwa di daerah tersebut memiliki tradisi yang hidup, yakni kehidupan seni pertunjukan rakyat yang didukung dan disanggah oleh masyarakatnya. Aktivitas seni pertunjukan rakyat di daerah itu, sekalipun banyak muncul kesenian baru sebagai pesaing, namun tetap nampak semarak karena didukung pula oleh tradisi-tradisi yang hidup dan menghidupi seni pertunjukan rakyat. Dengan maraknya aktivitas seni pertunjukan tersebut, maka tak heran memunculkan popularitas nama-nama perempuan sebagai pelaku seni pertunjukan rakyat, sebut saja Hj. D dan Hj. Aam Aminah (sinden dan seniman tarling Indramayu), Hj. U K (seniman sandiwara dan tarling), Hj. K (pelawak genjring akrobat), Cablek (seniman sandiwara), I dan I (sinden).
            PenelI melakukan studi ini dengan cara observasi berperan serta dan melakukan wawancara mendalam. PenelI menemui subjek penelIan ini (pelaku pertunjukan) dengan tidak mendatangi langsung tempat tinggal mereka. Beberapa subjek penelIan sebagai narasumber yang telah disebutkan sebelumnya memiliki tempat yang berjauhan, karena itu penelI lebih memilih mendatangi kelompok-kelompok pertunjukan atau orang-orang yang ada di daerah Cirebon dan Indramayu yang sering bermain dengan mereka. Hal ini cukup beralasan untuk maksud mengetahui representasi mereka di tengah-tengah masyarakatnya.
            Strategi lain yang dilakukan penelI untuk menggali informasi data, yakni dengan mendatangi para penggemar mereka dan beberapa laki-laki yang menjadi mantan suaminya. Dengan strategi ini, penelI mencoba tidak secara terbuka mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan sekitar rumah tangga mereka yang menjadi rahasia pribadi. Untuk hal-hal tertentu penelI juga bertindak sebagai masyarakat di dalamnya yang hanya menonton pertunjukan para sosok perempuan yang dikategorikan populer tersebut. Dua hari setiap minggu, penelI memanfaatkan untuk mengadakan penelIan ini.
            Selama penelIan, penelI semakin merasakan dan memahami pola hidup perempuan dalam seni pertunjukan rakyat tersebut yang termasuk kategori populer. Mereka memang agak membedakan performanya dengan masyarakat lainnya di daerah mereka. Kemandirian dan kebebasan para perempuan tersebut semakin terlihat ketika mereka bersiap-siap melakukan aktivitas.
            Setelah beberapa kali bertemu dengan perempuan-perempuan seniman seni pertunjukan rakyat tersebut, penelI mencoba mengintensifkan diri untuk berbaur dengan masyarakat yang mengenal dekat dalam rangka memantapkan studi dramaturgis. Di samping itu secara terbuka mempertanyakan kepada masyarakat lingkungan mereka tentang pencitraan dan maknanya sebagai bekal analisis fenomena popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat.


HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Perempuan Pelaku Seni Pertunjukan Rakyat Cerbon-Dermayon
            Dengan tidak bermaksud menjustifikasi beberapa perempuan lain yang ada di dunia pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon ”tidak populer”, maka nama-nama perempuan yang dibicarakan dalam tulisan ini hanya merupakan kasus-kasus yang ditemui penulis. Namun sebelumnya ada yang patut dibicarakan terlebih dahulu, sebelum memfokus pada beberapa perempuan yang diidentifikasi sebagai yang populer pada zamannya.
            Perempuan dalam seni pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon adalah perempuan yang pada awalnya perempuan biasa, seperti yang sehari-hari kita temui di daerah mereka masing-masing.  Walaupun demikian, rata-rata dari mereka memiliki keinginan atau bakat dalam berkesenian, baik nyanyi, tari, maupun teater (drama). Keinginan dan bakat inilah yang mereka gali dengan kesungguhan, sekalipun dari sisi pendidikan formal tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Secara sosial, mereka dilahirkan dari lingkungan masyarakat desa yang tunduk dalam ideologi patriarki dan status ekonomi mereka masih tergantung pada sosok laki-laki sebagai kepala keluarga.
            Perempuan-perempuan itu dapat kita sebutkan inisialnya di antaranya: Hj.D (seniman tarling/sinden Indramayu), IS. dan I (sinden Cirebon), Hj.K (seniman genjring dan sandiwara Cirebon), dan Hj.UK (seniman tarling dan sandiwara Cirebon). Mereka bukan berasal dari keluarga yang status ekonominya tergolong menengah ke atas. Namun mereka memiliki usaha untuk maju dan mengembangkan bakatnya agar dapat mempertinggi derajatnya. Dari sisi sikap, mereka tergolong orang yang ekstrovet, terbuka, dan berani menghadapi masyarakat. Tidak mengherankan jika mereka mampu bertahan, konsisten dan berani menanggung resiko untuk mewujudkan harapannya.
            Aktivitas berkesenian mereka dinyatakan dengan keberanian dan dijalankan dari posisi ”nol”, dari mencoba-coba, menyenangi dunianya, dan terus berlanjut hingga karir mereka berada di puncak (populer menurut lingkungannya). Sejak ada tanda-tanda popularitas itulah keadaan mereka berbanding lurus dengan resiko sosial yang akan menimpahnya. Hampir dari semua perempuan yang disebutkan di atas, popularitas mereka beresiko pada kehidupan rumah tangga mereka. Dalam rumah tangga yang mereka jalani terdapat badai yang mengguncang dan jika ia tidak memilih salah satunya – kehidupan rumah tanggah atau karir kesenimanan – maka kondisi popularitas yang tengah mendekati akan berhenti dan popularitas mereka mengalami stagnasi.
Mengapa demikian? Pertanyaan ini sempat dilontarkan penulis kepada mereka dan mereka menjawab tentang kebebasan. Laki-laki yang dalam lingkup budaya mereka merupakan ordinat, pemimpin, dan mengatur perempuan sebagai pasangannya. Hal demikian sangat dimengerti karena aktivitas dunia seni pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon sangat tinggi jika tengah menginjak pada musim pertunjukan (biasanya setelah masa panen). Tak jarang mereka yang menekuni dunia seni perunjukan rakyat ketika musim pertunjukan tidak sempat pulang ke rumah. Seni pertunjukan rakyat yang biasa diselenggarakan semalam suntuk cukup menyita waktu mereka dan tidak memberi kesempatan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga. Kadang tidak satu atau dua hari mereka meninggalkan keluarga namun bisa satu minggu atau dua minggu dan bahkan sebulan. Hal inilah yang kemudian sangat mengganggu bagi kehidupan rumah tangga tradisional. Bagi pihak perempuan dalam posisi ini adalah pihak yang dipersalahkan.
            Berbeda dengan mereka yang sejak awal memiliki pasangan keluarga yang juga dari kalangan seniman atau satu kelompoknya. Namun demikian konsep seperti itu juga tidaklah sesuai yang diharapkan oleh para pemuja kehidupan rumah tangga tradisional. Ketika perempuan dan laki-laki dalam ikatan perkawinan dan dalam satu kelompok seni pertunjukan, sosok perempuan yang tengah populer mengalami batasan-batasan dari seorang suami. Komunikasi yang mereka bangun menimbulkan banyak intrik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Kasus demikian dialami oleh pasangan seniman, H. AA dan Hj.UK yang hampir selama tiga tahun mengalami ketidakharominisan kehidupan rumah tangga dan akhirnya terjadi perceraian antara keduanya setelah sekian lama menjalin bahtera rumah tangga. Ketika status menjanda disandang Hj.UK, ia mulai dikenal kembali sebagai sosok seniwati yang banyak menerima panggilan untuk mempertunjukan dirinya dalam aktivitas seni atau dengan kelompok keseniannya.
            Kehidupan rumah tangga sesama seniman bisa berantakan, apalagi kehidupan rumah tangga perempuan seni pertunjukan rakyat dengan laki-laki yang bukan dari lingkungan seni. Sekalipun hubungan rumah tangga mereka kelihatan tidak ada masalah tetapi di luar itu masyarakat melihat bahwa keduanya bermain dengan pasangan lain. Kasus demikian dialami oleh I, seorang sinden, yang hingga saat ini masih dengan suami pertamanya. Berbeda dengan IS, popularitasnya meningkat setelah ia mulai terjun ke dunia seni pertunjukan dengan status janda. Popularitasnya semakin bersinar ketika ia dinikahi oleh seorang pengusaha batu alam Palimanan dan kemudian bercerai lagi.  Statusnya yang menjanda membuat ia semakin mendapatkan panggilan, baik untuk sinden dalam pertunjukan wayang maupun pertunjukan rakyat lainnya. Hampir bisa dipastikan bahwa IS sebagai seorang sinden terkenal di Cirebon saat ini telah menjalani kehidupan rumah tangganya dengan lebih dari 3 lelaki sebagai pasangannya dengan cara kawin-cerai. Demikian pula dengan Hj. D yang tidak hanya satu suami, ia sempat kawin lagi setelah dengan suami pertama bercerai. Ketika statusnya menjanda, ia lebih konsentrasi menjalani kehidupan seninya dan berujung pada popularitas dirinya.
            Dari sisi pihak laki-laki yang pernah berhubungan dangan para perempuan yang menekuni dunia seni pertunjukan rakyat, kebanyakan mereka memaklumi keadaan seperti itu. Pada posisi ini, laki-laki menyadari bahwa pernikahannya dengan perempuan tersebut didorong oleh rasa emosional. Entah apa yang ada dalam benaknya bahwa mengawini perempuan yang tengah populer dalam karir seninya merupakan kepuasan tersendiri dan seolah-olah dapat mengaktualisasikan diri bahwa ia sebagai lelaki. Perceraiannya tidak pernah menjadi cerita sedih dalam kehidupan laki-laki seperti ini, namun masyarakat kadang turut berbicara dalam bahasanya, yang tidak saja menyudutkan dirinya namun me-labeling perempuan itu sebagai orang yang ingin kekayaannya saja.
            Inilah pernik kehidupan perempuan-perempuan dalam seni pertunjukan rakyat yang secara struktural tidak dapat diterima oleh masyarakat akibat kehidupan sosialnya yang cukup berisiko. Perempuan dalam dunia seni pertunjukan rakyat disukai karena mereka cakap dalam berkesenian namun dia jauh untuk menjadi tauladan dalam kehidupan sosial yang ’normal’ menurut lingkungan tradisional mereka.

2. Stigma Perempuan dalam Seni Pertunjukan Rakyat
            Di daerah Cerbon-Dermayon posisi perempuan dalam seni pertunjukan dianggap rendah dan rentan akan tuduhan negatif. Pandangan konservatif masyarakat daerah tersebut terhadap perempuan yang belajar atau menggeluti dunia seni pertunjukan rakyat mengungkapkan bahwa perempuan tersebut tak bedah dengan ronggeng. Sebutan ronggeng bagi masyarakat Cirebon sebagai sebutan yang menyesatkan dan membuat risi para perempuan pelaku seni pertunjukan. Ronggeng bagi masyarakat Cerbon-Dermayon tak beda dengan perempuan yang menjual dirinya, perempuan penggoda, dan perebut suami orang.
Persepsi negatif masyarakat yang melekat terhadap perempuan dalam seni pertunjukan merupakan proses panjang yang dialami masyarakat daerah tersebut. Tidak jarang para pejabat desa  atau pengusaha atau para bandar di sebuah desa terganggu kehidupan keluarganya hanya karena kehadiran seorang sinden sebagai orang ketiga. Kasus-kasus demikian sudah tidak asing didengar dalam kehidupan masyarakat Cerbon-Dermayon.
Akan tetapi hal tersebut tidak bisa digeneralisir bahwa perempuan dalam seni pertunjukan rakyat di daerah  tergolong sebagai perempuan ’nakal’. Hj.D misalnya, ia seorang sinden yang memiliki pola pemikiran cerdas, sekalipun pada waktu muda banyak laki-laki tergila-gila padanya. Tidak saja parasnya yang cantik namun gagasan-gagasannya untuk mengembangkan seni pertunjukan Indramayu menjadi cikal bakal kehidupan populer bagi dirinya dan kesenian tarling yang ada di daerah tersebut. Popularitasnya diraih berkat ketekunannya menjalankan profesi kesenian secara konsisten, merintisnya semenjak awal dengan melakukan ritual-ritual menurut kebiasaan dan kepercayaan masyarakat setempat. Hingga kini, HjD yang mendekati usia senja dikenal masyarakat Indramayu sebagai tokoh perempuan dalam seni pertunjukan rakyat, terutama seni tarling.
Permasalahan stigma yang muncul bagi para perempuan dalam seni pertunjukan kini bukan karena labeling perempuan sebagai ronggeng. Dalam perspektif sosiologi seni pertunjukan didapatkan kebanyakan perempuan yang menekuni atau sebagai pelaku seni pertunjukan sangat rawan untuk disebutkan sebagai masyarakat yang mampu menjalani kehidupan rumah tangga secara normal. Artinya, kehidupan rumah tangga oleh sebagian besar masyarakat Cerbon-Dermayon merupakan kehidupan yang arahnya dikemudikan oleh seorang suami (laki-laki), dan perempuan sebagai istri merupakan sub ordinat dalam kehidupan tersebut. Ketika perempuan yang dikategorikan sebagai sub ordinat melakukan kerja secara mandiri (sebagai pelaku kesenian), maka laki-laki merasa dilangkahi dan serasa tidak diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya oleh sang perempuan. Kejadian seperti ini yang memicu ketidaktentraman rumah tangga para perempuan pelaku seni pertunjukan rakyat. Karakteristik bebas dan mandiri perempuan pelaku seni pertunjukan seperti dikerangkeng oleh ideologi laki-laki yang menjadi pemimpin rumah tangga. Dari kasus demikian, maka tak jarang muncul perempuan-perempuan dalam seni pertunjukan dengan status ”janda”, akibat persepsi laki-laki yang salah terhadap perempuan seni pertunjukan.
Dengan demikian, stigma perempuan pelaku seni pertunjukan kini bukan pada labeling sebagai ronggeng, namun pada posisi menjanda para perempuan pelaku seni pertunjukan rakyat tersebut. Menjanda dalam pandangan sosial masyarakat Cerbon-Dermayon merupakan sesuatu yang ”memalukan”. Dengan kata lain, menjanda berarti ada orientasi untuk tidak menjanda yaitu dengan melakukan pencarian pasangan melalui ikatan pernikahan. Ketika masa pencarian pasangan itulah para perempuan pelaku seni pertunjukan yang berstatuskan janda sering di-cap sebagai perempuan yang senang merebut suami orang.
Hj.D misalnya, salah satu pelopor kesenian tarling di Indramayu, pada saat muda banyak laki-laki yang tergila-gila padanya. Banyak yang menanggap kelompok tarlingnya adalah para pengusaha di daerah yang tidak sedikit secara terang-terangan menyatakan kesediaannya untuk menikahi dirinya. Hal demikian membuat kalap istri-istri para pengusaha itu dan bahkan mereka sempat mengadakan pemboikotan secara terselubung terhadap kelompok tarling Cahaya Muda milik Hj.D. Mereka para ibu rumah tangga selalu mengawasi gerak-gerik suaminya ketika terdengar ada pentas kesenian tarling Cahaya Muda. Tak jarang sosok Hj.D didatangi oleh ibu rumah tangga dengan sebuah ancaman: ”jangan ganggu suami orang”!. Diakui oleh Hj.D bahwa fenomena itu sebagai suatu resiko perempuan yang bergulat dalam dunia seni pertunjukan. Tidak sekedar ancaman, bahkan pernah pentasnya hampir digagalkan oleh sekelompok orang karena dianggap sebagai biang perusak rumah tangga orang.
Fakta nyata dialami oleh seorang sinden daerah Cirebon yang sangat terkenal, yaitu IS. Sebagai sosok populer dalam kanca seni pertunjukan rakyat, ia menerima bayaran di setiap pemanggungannya sebesar 1,5 juta per malam. Popularitasnya seiring dengan status kehidupan menjanda, yang hingga saat ini telah mengalami kawin cerai sebanyak empat kali. Tidak tanggung-tanggung, para suaminya adalah pengusaha, pejabat kelurahan yang berbeda dengan suami pertamanya yang sebagai laki-laki biasa dalam ekonominya. Hal demikian merupakan pertanda bagi masyarakatnya, bahwa IS adalah sosok perempuan yang suka merebut suami orang. Bahkan tidaklah menjadi beban bagi seorang IS untuk dijadikan istri yang kesekian dari seorang laki-laki yang menikahinya.

3. Budaya Pop dan Perempuan Seni Pertunjukan Rakyat
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat merupakan jaminan bagi perempuan pelaku seni untuk dapat hidup mandiri secara sosial-ekonomi. Pada sisi lain popularitas mengacuh pada kehidupan budaya pop yang lebih menekankan pada bagaimana seniwati dihargai secara kapital. Ukuran ekonomi menjadi sesuatu yang lumrah juga di dunia seni pertunjukan kalangan rakyat. Bila mengacuh pada budaya pop, terdapat tiga komponen yang mengikat perilaku seseorang untuk dapat dikategorikan sebagai orang populer, yakni food, fashion, dan fun (makanan, pakaian, dan hiburan). Singkatnya, seseorang dapat disebut populer jika ia cukup memiliki kemampuan untuk memenuhi ketiga kebutuhan budaya pop tersebut di atas. Hal ini berbeda dengan populer yang disandang oleh perempuan dalam seni pertunjukan rakyat. Populer diartikan sebagai seseorang yang dikenal, baik dari talentanya maupun penampilannya di suatu pertunjukan.
Untuk menjadi populer, perempuan di jagat seni pertunjukan rakyat membutuhkan proses yang panjang atau dengan kata lain butuh keunikan-keunikan tersendiri, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam penampilannya di panggung pertunjukan. Populer pada seni pertunjukan rakyat tidak berarti harus memiliki tampilan tubuh (wajah) yang cantik, sekalipun pada hal-hal tertentu itu diperlukan. Populer dalam seni pertunjukan rakyat tidak selalu orang yang memiliki pengetahuan tinggi atau memiliki kreatifitas lebih dalam dunianya,  tapi juga masalah konsistensi dan eksistensi yang bisa membentuk perwujudan kriteria populer saat ini. Dengan demikian, dalam ranah kajian budaya populer didapatkan tiga wacana besar bagi sosok perempuan, yakni konsepsi budaya pop, ideologi kapital, dan diskursus gender.
Kapitalisme bukan tidak mungkin merambah wilayah perdesaan, bahwa kemudian hal itu tidak disadari oleh pelaku, bukan berarti tidak terjadi namun justru wacananya tidak dimunculkan. Budaya konsumerisme misalnya, sudah merambah pada masyarakat desa yang oleh promosi media massa, televisi, terpatri di hati masyarakat desa dengan produk-produk yang diiklankan. Secara tidak langsung masyarakat kini terbius oleh budaya-budaya konsumerisme tersebut. Tak pelak jika gaya hidup masyarakat desa diukur pula dengan gaya hidup materialistik. Tampilan-tampilan gaya hidup masyarakat desa sudah sejak lama kita kenal. Secara tradisional kita mengenal kalangan tertentu yang memakai gigi berwarna keemasan atau perak, untaian perhiasan gelang-kalung-giwang yang dikenakan pada tangan-leher-telinga seorang perempuan desa yang mapan dalam kehidupan ekonomi.
Rupanya kehidupan seperti itu melanda pula kepada perempuan seni pertunjukan rakyat yang sudah populer. Masalah gaya hidup sebagai sebuah status sosial oleh perempuan desa menjadi penting untuk menjaga image, bahwa ia merupakan orang yang mampu dan mandiri dalam sisi ekonomi. Demikian pula performance (tampilan) seorang perempuan seni pertunjukan yang mengalami popularitas. Sopir dan mobil menjadi tradisi yang biasa menyertai kemana ia pergi. Busana yang ia kenakan dan asesoris serta pewangi yang melekat pada tubuhnya adalah barang-barang yang memiliki kategori branded. Gaya hidup mengubah cara-cara berkomunikasi dia, sebagai sebuah tampilan popular.
Hal-hal tersebut sudah tidak aneh lagi menjadi pemandangan masyarakat desa, apalagi televisi yang kini mempromosikan pola hidup konsumerisme menjadi referensi masyarakat tersebut. Media ini  sangat lekat dengan kehidupan masyarakat desa, ibarat kebutuhan yang tak lagi menjadi kebutuhan kedua namun menjadi kebutuhan pokok, yaitu informasi. Dari informasi-informasi media televisi itulah, perempuan seni pertunjukan rakyat yang telah menyandang popularitas mengubah dirinya, penampilannya, dan image. Dengan demikian, penampilan mereka bukan lagi penampilan masyarakat desa. Mereka mampu mengubah back stage (kenyataan hidup sehari-hari) dengan front stage (kehidupan yang dikelola) melalui impresi manajemennya dalam menghadapi semua orang. Kenyataan sehari-hari perempuan yang populis selalu menjaga performance-nya, yang porsi panggung depan kehidupan sosialnya lebih tinggi dari pada panggung belakangnya.

4. Popularitas Sebagai Simbol Perlawanan
Melihat peta wacana budaya populer yang berkaitan dengan eksistensi sosok perempuan dalam semangat fenomenologis, maka tak heran jika popularitas perempuan dalam jagat seni pertunjukan rakyat pada dasarnya simbol perlawanan. Eksistensi dan konsistensi perempuan dalam seni pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon merupakan proses perwujudan yang sangat memakan tenaga, waktu, pikiran, bahkan resiko untuk menjadi populer. Memang sangat sedikit perempuan dalam seni pertunjukan rakyat yang memiliki konsistensi dan eksistensi di dunia tersebut. Akan tetapi dari yang ada sekarang, sebutlah nama-nama Hj D (seniman tarling), I (pesinden), IS (pesinden), Hj. U K (seniman tarling dan sandiwara), W (seniman topeng), dan Hj.K (seniman genjring), yang popularitasnya ditempuh dengan eksistensi, konsistensi, dan berani menanggung resiko sosial.
Mereka merupakan sosok perempuan yang berani menanggung resiko sosial yang tinggi. Artinya, popularitas yang mereka tempuh harus dibayar dengan nilai kemanusiaannya (prestise) di masyarakat. Oleh karena tidak jarang perempuan yang mampu berdiri tegak pada konsistensi dan eksistensinya di dunia seni pertunjukan dibarengi dengan perilaku sosial “kawin-cerai”. Perempuan-perempuan seni pertunjukan rakyat yang mengalami masa popularitas setidaknya mengalami kawin cerai sebanyak dua kali atau dalam posisinya “menjanda”. Hanya ada beberapa kekecualian, misalnya yang diperlihatkan oleh I (pesinden) yang hingga saat ini dalam popularitasnya masih setia dengan seorang suami.
Bagi yang termasuk kekecualian tersebut, juga tidaklah mudah untuk membendung hasrat kebebasan dan kesetaraan gender. Maka tidak jarang masyarakat yang akrab dengannya menyebut bahwa kehidupan seorang I dengan suaminya sebatas pemenuhan hukum sosial yang berlaku di tengah-tengah masyarakatnya. Di luar kehidupan rumah tangganya ada kesepakatan antara I dan suaminya yang harus sama-sama tahu, bagaimana caranya bergaul dalam jagat seni pertunjukan rakyat, yang dalam praktik pertunjukannya memakan waktu semalam suntuk, dan hal itu ada resiko-resiko yang harus ditanggung oleh keduannya.
Demikian pula yang terjadi pada Hj.UK yang bersuamikan H. AA (seniman tarling) yang saat ini juga merasakan bagaimana kesetaraan gender itu berlaku. Hj.UK memilih bercerai setelah lama melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan orang lain di luar kesepakatan rumah tangganya dengan sang suami. Di sinilah kita menilai bagaimana popularitas perempuan dalam seni pertunjukan sangat mahal harganya karena bertukar dengan resiko sosial yang sangat tinggi, terutama jika dipahami dalam pola pikir tradisional masyarakatnya yang berarti mengkhianati norma budaya setempat.
Hal demikian mengindikasikan bahwa popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat terbentuk seiring dengan sistem budaya masyarakatnya (Williams dalam Storey, 2003:10). Jika kita merujuk pada konsepsi tersebut maka kita dapat melihat gambaran perempuan Cerbon-Dermayon melalui karakteristik perempuan tersebut dalam sistem budaya setempat. Perempuan Cerbon-Dermayon yang memilih domain seni pertunjukan rakyat sangat terbatas. Hal ini disebabkan tidak mudah untuk menggeluti dunia tersebut. Untuk menjadi seorang seniwati terkenal harus mengalami  proses berkesenian yang panjang dalam hidupnya hingga nama mereka muncul dan dikenal masyarakat lingkungannya. Popularitasnya akan beriringan pula dengan kehidupan sosial rumah tangganya yang mengalami fase “kawin-cerai” setidaknya tercatat dua kali selama mereka masih berkecimpung di dunia seni pertunjukan.
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat adalah sebuah bentuk pengorbanan kaum perempuan itu sendiri yang terjebak dalam budaya kekinian. Akan tetapi pada sisi lain bisa jadi popularitas adalah bagian dari kemandirian sosok perempuan dalam kehidupan seni budaya. Laki-laki penuh cacat dalam pandangannya bila merujuk pada psikoanalisis Freudian yang memberikan istilah “insting scopophilia” sebagai kesenangan laki-laki memandang objek menjadi sesuatu yang erotik (Mulvey dalam Storey, 2003:193).
Di luar kesadaran perempuan desa yang lugu, popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat merupakan simbol perlawanan perempuan terhadap laki-laki. Secara konvensional pasangan suami istri yang perempuannya sebagai seniwati aktif tanpa disadari merupakan bentuk nilai kesetaraan gender. Pada sisi-sisi tertentu laki-laki berada sebagai sub ordinat. Perempuan yang populer dalam jagat seni pertunjukan kadang kala menjadi pemimpin dalam keluarga yang mereka bangun. Kesenangan laki-laki dalam perspektif Freudian menjadi senjata ampuh bagi perempuan dalam seni pertunjukan rakyat untuk mendudukan laki-laki sebagai pengikutnya.
Bagaimana kemudian sosok perempuan tersebut mempertahankan posisinya dalam arena sosial dan dalam jagat seni pertunjukan. Ada upaya-upaya yang tidak saja logis material, namun juga bersifat magis-spiritual (lelakon). Upaya-upaya logis-material adalah upaya para perempuan menekuni dunia seni pertunjukan melalui latihan-latihan, berguru, dan berproses alamiah dengan mengikuti pemanggungan-pemanggungan, atau yang dikenal dengan sebutan guru panggung. Sementara upaya-upaya magis-spiritual mereka lakukan dengan cara yang berbeda-beda, misalnya dengan berpuasa, tapa brata, melaksanakan jampe-jampe khusus, ritual, dan pemasangan susuk atau ajimat pengasihan.
            Pola-pola demikian dilakukan oleh sosok perempuan seni pertunjukan rakyat agar dapat menjaga popularitasnya dalam jagat seni pertunjukan rakyat. Kebebasan perempuan desa dan penciptaan image popularitas salah satunya dapat dipandang dari popularitas para perempuan yang ada dalam dunia seni pertunjukan. Tak heran jika para perempuan yang populer di jagat seni pertunjukan rakyat menunjukkan superioritasnya dalam ekonomi, status sosial, dan gaya hidup mereka.


KESIMPULAN
Popularitas perempuan dalam jagat seni pertunjukan rakyat bukan tanpa kendala. Permasalahan terberat bagi perempuan di domain ini adalah kendala budaya dalam lingkungannya. Sistem budaya patriakal yang mendominasi kendala popularitas perempuan dikonversi seefektif mungkin menjadi peluang bagi para pekerja seni pertunjukan rakyat. Kendala lain juga datang dari pandangan keagamaan yang ada dalam lingkungan mereka yang lebih membedakan antara peran perempuan dan laki-laki, bahwa perempuan lebih mengerjakan pekerjaan domestik dari pada publik.
Perempuan dalam seni pertunjukan rakyat kini berhadapan dengan gaya hidup yang direduksi oleh sistem kapitalis. Budaya pop yang kapitalis itu telah menggempur ruang-ruang keluarga mereka yang pada akhirnya tidak bisa ditolak dengan cara apapun dan akhirnya muncul budaya pop yang disandang seniman rakyat. Perempuan yang dianggap populer dalam seni pertunjukan rakyat akan berbeda dengan popularitas  selebrIs metropolitan. SelebrIs metropolitan tidak bisa populer bahkan dilecehkan oleh massa jika ia melakukan kawin cerai atau dalam status janda, maka dengan status ini kebanyakan dari para selebrIs pop metropolis akan mengalami kemerosotan popularitas. Berbeda halnya dengan selebrIs seni pertunjukan rakyat (lokal), proses kawin cerai merupakan media untuk menapaki dan bertahan dalam popularitasnya, terutama ketika mereka dalam fase menjanda. Memang tidak semudah memberikan justifikasi terhadap popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat. Kawin cerai hanya merupakan dampak eksistensi dan konsistensi perempuan yang mengarah pada peraihan popularitas oleh mereka. Jadi popularitas yang mereka capai atas dasar konsistensi dan eksistensinya dalam jalur seni pertunjukan rakyat.
Popularitas bagi perempuan seni pertunjukan rakyat merupakan simbol perlawanan terhadap kemapanan aturan secara struktural yang berlaku di lingkungan budayanya. Mereka merupakan perempuan yang mandiri, mampu menghidupi dan menafkahi keluarga dengan keahliannya dalam seni, serta berkeinginan keras untuk tidak bergantung kepada laki-laki.
Seorang suami dianggap seperti aturan yang membentengi aktivitas berkeseniannya. Kehadiran suami di saat popularitas itu menyertainya seakan-akan terdapat banyak mata yang mengawasinya dan hal itu membuat risih perempuan dalam melakukan aktivitas seni. Tak heran laki-laki sebagai seorang suamipun merasakan cemburu melihat perempuan yang menjadi pasangannya populer dan selalu berhadapan dengan publik. Ketika kecemburuan datang pada sosok suami itulah bibit perjalanannya mulai tumbuh kembali yang berlanjut pada perceraian, menapaki masa menjanda, dan pada gilirannya melakukan pencarian pasangan baru.
Perilaku pada fase-fase demikian sebenarnya dianggap wajar dalam masyarakat seni pertunjukan Cirebon dan Indramayu, namun karena hal itu dilakukan oleh sosok perempuan yang populer, dikenal masyarakat, maka perilaku tersebut menjadi stigma tersendiri. Stigma dari masyarakat sejenis itu dianggap sebagai sebuah resiko perempuan pelaku seni pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon. Pada sisi lain, kekuatan menanggung risiko hidup, risiko sosial, dan budaya itulah yang juga merupakan hal luar biasa bagi sosok perempuan dalam kemandiiriannya.


DAFTAR PUSTAKA
Barker, Chris. 2004: Cultural Studies: Teori dan Praktek. Terjemahan: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Bormann, Ernest G. Small Group Communication, Theory and Practice, Third EdIon; Harper & Row Publishers, New York, 1990.
Blumer, Herbert. 1969. Simbolic Interactionism: Prespective and Method. New Jersey: Prentice Hall.
Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. Garden City, Ney York: The Doubleday Press.
Goodman, D.J. dan G. Ritzer. 2005. Modern Sociological Theory (6th ed.). Terjemahan Alimandan. Prenada Media. Jakarta.
Griffin, E.M. 2006. A First Look at Communication Theory. McGraw-Hill, New York.
Littlejohn, S.W. and K.A. Foss. 2005. Theories of Human Communication (8th ed.). Thomson Wadswort.  Belmont, CA, USA
Mulyana, Deddy. 1999. Nuansa-Nuansa Komunikasi: Meneropong PolIk dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyana, Deddy. 2001. Metode PenelIan Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyana, Deddy. 2004. Komunikasi Populer: Kajian Komunikasi dan Budaya Kontemporer. Pustaka Bani Quraisy. Bandung.
 Mulyana, Deddy. 2007. Metode PenelIan Komunikasi: Contoh-Contoh PenelIan Kualitatif dengan Pendekatan Praktis. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Poloma, Margaret M. 1987. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali kerjasama dengan Tim Penerjemah Yasogama.
Soeprapto, H.R. Riyadi. 2002. Interaksionisme Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Averroes press.
Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Yogyakarta: Qalam.
Strinati, Dominic. 2003. Popouler Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Pop. Yogyakarta: Bentang.
Turner, L.H. and R. West. 2007. Introducing Communication Theory: Analysis and Application. McGraw-Hill, New York.

1 komentar:

harap menunggu, komentar anda akan dikonfirmasi