KAWIN – CERAI PERWUJUDAN
CITRA POPULARITAS
(Studi Dramaturgis Perempuan
Dalam Seni Pertunjukan Rakyat)
JAENI B. WASTAP
PENDAHULUAN
Hampir setiap
periode atau kurun waktu tertentu di sebuah daerah yang memiliki kekayaan seni
pertunjukan memunculkan nama-nama populer para seniman maupun seniwati yang
menjadi pujaan masyarakatnya. Selama
periode tersebut tak kurang dari sekian perempuan terutama yang menjadi sentral
popularitas. Pada kenyataannya memang demikian, masyarakat sering menunjuk
seniman perempuan yang menjadi idola dalam pertunjukan apapun, baik tari, musik
maupun teater rakyat. Mereka mengenal sosok primadona dalam seni pertunjukan
rakyat, yang tidak saja dilihat dari bakat atau kemampuannya berperan sebagai
seniman, kekhasan suara atau gerak tarinya, kecantikan atau keluguan parasnya.
Berkaitan dengan hal
tersebut, di daerah Cirebon dan Indramayu memiliki fenomena tersendiri atas
munculnya sosok perempuan sebagai primadona dalam sebuah pertunjukan rakyat.
Kehidupan seni pertunjukan sebagai suatu tradisi yang hidup di daerah tersebut
sempat memunculkan nama-nama perempuan yang menjadi idola masyarakatnya. Namun,
untuk menjadi dikenal dan populer, mereka para perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat mengalami fase-fase yang tidak saja muda. Dengan kata lain, popularitas
perempuan dalam seni pertunjukan di daerah tersebut tidak serta merta didapat
oleh sosok perempuan sebagai seniman atau pelaku seni pertunjukan. Mereka
mendapatkan popularitas melalui tahapan tersendiri hingga ia mencapai ‘puncak
karir’-nya di dunia seni pertunjukan.
Terdapat banyak perempuan yang menggeluti dunia
seni pertunjukan (selanjutnya disebut seniwati), khususnya Cirebon dan
Indramayu, yang memiliki publik tersendiri dan dikenal oleh masyarakat
lingkungannya secara luas. Proses perjalanan seniwati tersebut tidaklah mudah
mendapatkan popularitasnya seperti cara-cara instan produk budaya pop. Mereka
mendapatkan popularitas tidak saja dari bakat namun ada proses-proses
internalisasi kesenimanan tradisional dan bahkan perbenturannya dengan ranah
sosial seperti kehidupan keluarga, latar belakang sosial, dan manajerial.
Gejala yang timbul dari
sebuah fenomena proses pendewasaan seorang seniwati memperlihatkan
kecenderungan bahwa popularitas yang mereka dapat karena konteks sosial budaya
mereka. Keberanian menanggung resiko sosial merupakan salah satu dari bagaimana
seorang seniwati dapat meraih popularitasnya. Contoh kecil tidak jarang
seniwati di daerah Cirebon dan Indramayu yang melakukan ‘kawin-cerai’ akibat
posisi dan aktivitasnya di dunia seni pertunjukan. Di kala perceraian terjadi
maka keberadaan seorang seniwati berstatuskan “janda”, selanjutnya aura kesenimanan
seorang seniwati semakin bersinar di
mata penggemarnya. Sebagai seorang janda maka mereka mengalami kekosongan dalam
kehidupan rumah tangganya. Posisi perempuan sebagai pelaku seni pertunjukan
ketika itu tercurahkan seluruh aktivitas dan kreatifitasnya pada dunia seni
pertunjukan. Panggung pertunjukan seolah menjadi dunia kecil mereka dengan
segala suka dan duka.
Popularitas merupakan
rangkaian penting bagi seniwati dalam seni pertunjukan rakyat. Sebagaimana para
selebrIs budaya populer kita, seniwati pertunjukan rakyat daerah Cirebon dan
Indramayu banyak menerima job dari
berbagai kelompok pertunjukan rakyat seperti tarling, sandiwara, wayang, dan bahkan kesenian organ tunggal yang sudah merakyat di
daerah tersebut dewasa ini. Akan tetapi penampilan mereka dalam keseharian
tentu saja tidak seperti selebrIs budaya populer. Mereka dalam keseharian penuh
kesederhanaan, keluguan, dan kebiasaan
sebagaimana layaknya masyarakat desa. Meminjam catatan Goffman, bahwa seseorang
memiliki dua dunia, yakni back stage (panggung belakang) dan front stage (panggung depan) dalam
kehidupan (Goffman dalam Poloma, 1987), termasuk juga kehidupan seniwati dalam
pertunjukan rakyat. Penampilan mereka bisa seperti bintang dengan asesoris
keduniawian saat berada di panggung pertunjukan atau tengah melakukan aktivitas
yang berhubungan dengan profesi mereka. Namun berbeda penampilan mereka ketika
menjalani kehidupan sehari-harinya yang bersahaja, alami tanpa asesoris
kebendaan, dan tidak ada kemewahan. Terdapat dua peran yang harus mereka
jalankan, baik sebagai seniman maupun sebagai masyarakat biasa di daerahnya.
Pada sisi lain popularitas
seniwati seni pertunjukan rakyat juga didasarkan pada status mereka yang
“menjanda”, yang menyebabkan mereka lebih memiliki kebebasan untuk menentukan
pilihan dalam aktivitasnya sehari-hari. Permasalahan gender akibat pengaruh budaya patriakal yang sangat kuat terhadap
seniwati daerah Cirebon –Indramayu menjadikan sosok perempuan sebagai seniwati
memiliki ‘stigma’. Masyarakat perdesaan memandang seniwati sebagai sosok
perempuan yang bebas, liar, dan tanpa ikatan sosial di rumah tangga mereka.
Seniwati juga dikonotasikan sebagai seorang ronggeng yang dalam pandangan
masyarakat setempat dilabelkan sebagai perempuan panggilan atau “perempuan pesolek”.
Namun demikian seorang seniwati juga merupakan orang yang mampu menghidupi
dirinya sendiri dengan talentanya yang dikemas dalam aktivitas, kreatifitas,
dan penampilan tubuh mereka (body
performances).
PERUMUSAN MASALAH
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat merupakan jaminan bagi perempuan pelaku seni untuk dapat hidup mandiri
secara sosial-ekonomi. Pada sisi lain popularitas mengacuh pada kehidupan
budaya pop yang lebih menekankan pada bagaimana seniwati dihargai secara
kapital. Ukuran ekonomi menjadi sesuatu yang lumrah dalam dunia seni
pertunjukan di kalangan rakyat. Bila mengacuh pada budaya pop, terdapat tiga
komponen yang mengikat perilaku seseorang untuk dapat dikategorikan sebagai
orang populer, yakni food, fashion,
dan fun (makanan, pakaian, dan
hiburan). Singkatnya, orang baru dapat disebut populer jika ia cukup memiliki
kemampuan untuk memenuhi ketiga kebutuhan budaya pop tersebut di atas,
menyandang, dan merasakannya. Hal ini berbeda dengan populer yang disandang
oleh perempuan dalam seni pertunjukan rakyat. Populer diartikan sebagai
seseorang yang dikenal, baik dari talentanya maupun penampilannya di suatu panggung pertunjukan.
Untuk menjadi populer, perempuan di dunia seni
pertunjukan rakyat membutuhkan proses yang panjang atau dengan kata lain
mengalami fenomena-fenomena sosial tersendiri, baik interaksinya dalam
kehidupan sosial maupun dalam penampilannya di panggung pertunjukan. Populer
pada seni pertunjukan rakyat tidak berarti harus memiliki tampilan tubuh
(wajah) yang cantik, sekalipun pada hal-hal tertentu itu diperlukan. Populer
dalam seni pertunjukan rakyat tidak selalu orang yang memiliki pengetahuan
tinggi atau memiliki kreatifitas lebih dalam dunianya, tapi juga masalah konsistensi dan eksistensi.
Pada sisi lain, perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat yang mengalami popularitas adalah mereka yang berani menanggung resiko
sosial tinggi. Artinya, popularitas yang mereka tempuh harus dibayar dengan
nilai kemanusiaannya (prestise) di
masyarakat. Oleh karena tidak jarang perempuan yang mampu berdiri tegak pada
konsistensi dan eksistensinya di dunia seni pertunjukan dibarengi dengan
perilaku sosial “kawin-cerai”. Lalu, bagaimana kawin-cerai ini menggiring perwujudan citra popularitas
perempuan-perempuan dalam dunia seni pertunjukan rakyat.
POPULARITAS DALAM MULTIPERSPEKTIF
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat terbentuk seiring dengan sistem budaya masyarakatnya. Meminjam catatan
Raymond Williams mengenai arti dari populer, kita diarahkan pada situasi
masyarakat yang terjebak oleh budaya kekinian yang tengah melingkupi masyarakat
kita. Dalam pandangan lain, popularitas yang mereka sandang berkat pandangan
masyarakat penonton yang sebagian besar adalah laki-laki. John Storey melalui Teori Budaya dan Budaya Pop (2003) melukiskan pandangan kaum
feminis, terutama dari esai Laura Mulvey bahwa di suatu pertunjukan terdapat
peran besar “pandangan laki-laki” (male
gaze) sebagai cara masyarakat patriarkal secara tanpa sadar membuat sebuah
struktur. Perempuan dicitrakan dalam struktur tersebut sebagai bentuk objek
hasrat laki-laki dan sebagai penanda dari ancaman pengebirian (Storey, 2003:
192).
Sementara pandangan lain membaca popularitas
perempuan dalam seni pertunjukan rakyat dewasa ini memberikan semacam
justifikasi bahwa laki-laki adalah sosok dominan dalam kehidupan budaya pop.
Dominic Strinati berpendapat dalam tulisannya, Populer Culture, bahwa ada
hak istimewa pada laki-laki dan kesenian
dengan mengorbankan perempuan sebagai sosok yang dipopulerkan dalam budaya
massa (Strinati, 2003: 219).
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat adalah sebuah bentuk pengorbanan kaum perempuan itu sendiri yang
terjebak dalam budaya kekinian. Akan tetapi pada sisi lain bisa jadi
popularitas adalah bagian dari kemandirian sosok perempuan dalam kehidupan seni
budaya. Laki-laki penuh cacat dalam pandangannya bila merujuk pada
psikoanalisis Freudian yang
memberikan istilah “insting scopophilia”
sebagai kesenangan laki-laki memandang objek menjadi sesuatu yang erotik
(Mulvey dalam Storey, 2003:193).
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat dalam pandangan sosiologis masuk dalam kajian teori-teori krIs yang
dapat dijadikan sandaran untuk membongkar topik dalam kajian ini, terutama
teori dramatugis dari Erving Goffman dan simbolik interaksionisme dari Herbert
Blumer. The Presentation of Self
in Everyday Life (1959) oleh Erving Goffman menyoroti penampilan seseorang
yang populer sebagaimana layaknya penampilan di atas panggung. Penampilan seseorang berada pada dua wilayah,
yakni panggung depan (front stage)
dan panggung belakang (back stage).
Kehidupan sosial seseorang dalam aktivitasnya selalu menampilkan front stage tersebut sebagai rutinitas
(Goffman, 1959: 22) dengan terlebih dulu memproduksi sebuah peran, yang dalam
bahasa Goffman disebut impression
management (mengelola kesan) atau sebuah akting yang selanjutnya disebut
sebagai penampilan dan gaya (lihat Poloma, 1987: 235).
Sementara Simbolic
Interactionism: Perfective and Method (1969) oleh Herbert Blumer menawarkan
pada kita gagasan tentang tindakan manusia pada sesuatu berdasarkan makna-makna
pada sesuatu itu bagi mereka. Blumer menilai bahwa manusia adalah aktor yang
sadar dan reflektif, yang menyatukan objek-objek yang diketahuinya melalui self indication (lihat Suprapto, 2002:
122). Untuk hal tersebut, kesadaran sosok perempuan atas perannya dalam seni
pertunjukan rakyat merupakan kesadaran dirinya yang kemudian dikejar untuk
menjadi populer dan popularitasnya bisa jadi berkat labeling masyarakat lingkungannya sebagai sebuah resiko psikologi
sosial.
Perempuan merupakan
produk budaya yang direpresentasikan dalam seni pertunjukan bukanlah sosok
konsumen melainkan produsen, penggerak keinginan penonton, menawarkan
komunikasi, dan memberikan image
terhadap sosoknya bahwa ia menjadi pusat perhatian dan pusat yang diinginkan.
Bagaimana dengan perempuan seni pertunjukan rakyat yang memiliki pengetahuan
formal rendah, dan hanya mengandalkan
keberanian mereka dari pengalaman yang selama ini didapatkannya di lapangan.
Namun demikian mereka sadar bahwa sebagai perempuan menginginkan kemandirian,
tidak menjadi benalu bagi orang lain, terutama pada laki-laki yang menjadi
pasangannya. Mereka berusaha untuk itu dengan cara dan strategi sendiri,
melalui penampilan dalam seni pertunjukan rakyat. Keinginan menjadi semakin populer lebih
disukai secara eksplisit karena hal itu berdampak pada finansial, apalagi
penggemarnya yang tidak saja masyarakat biasa yang menanggap mereka namun para
pejabat kelurahan atau para saudagar/pengusaha lokal yang sukses.
METODE PENELIAN
PenelIan tentang popularitas perempuan dalam seni
pertunjukan rakyat dilakukan dengan semangat fenomenologis yang didasarkan pada
pendekatan kualitatif. Dalam
penelIan ini mengambil objek kajian perempuan dalam seni pertunjukan rakyat.
Artinya, sosok perempuan merupakan suatu bangunan diskursif yang menekankan
pada jejak-jejak pemikiran, citra dan praktis perempuan dalam cara-cara untuk
berkomunikasi (lihat Hall dalam Barker, 2004: 6).
Dalam penelIan jenis ini, kebudayaan dan praktik
pemaknaan representasi citra popularitas
seorang perempuan dijadikan kunci analisis dengan memandang perilaku
kawin-cerai sebagai fenomena. Melalui fenomena tersebut mengharuskan kita untuk
mengeksplorasi pembentukan makna, juga mengharuskan pengamatan tentang cara
menghasilkan makna dalam beragam konteks atas citra perempuan dalam seni
pertunjukan rakyat.
Sasaran penelIan ini adalah perempuan dalam seni
pertunjukan rakyat yang ada di Cirebon dan Indramayu. Di kedua daerah ini cukup
banyak terdapat aktivitas seni pertunjukan rakyat yang melibatan sosok
perempuan sebagai pelakunya. Target pengidentifikasian terhadap beberapa sosok
perempuan seni pertunjukan yang melakukan proses kawin-cerai sebagai pencitraan
popularitas di dunia seni pertunjukan rakyat menjadi mutlak dilakukan.
Alasan pemilihan pokok bahasan ini cenderung pada pengamatan
penelI bahwa di daerah tersebut memiliki tradisi yang hidup, yakni kehidupan
seni pertunjukan rakyat yang didukung dan disanggah oleh masyarakatnya.
Aktivitas seni pertunjukan rakyat di daerah itu, sekalipun banyak muncul
kesenian baru sebagai pesaing, namun tetap nampak semarak karena didukung pula
oleh tradisi-tradisi yang hidup dan menghidupi seni pertunjukan rakyat. Dengan
maraknya aktivitas seni pertunjukan tersebut, maka tak heran memunculkan popularitas
nama-nama perempuan sebagai pelaku seni pertunjukan rakyat, sebut saja Hj. D
dan Hj. Aam Aminah (sinden dan seniman tarling Indramayu), Hj. U K (seniman
sandiwara dan tarling), Hj. K (pelawak genjring akrobat), Cablek (seniman
sandiwara), I dan I (sinden).
PenelI melakukan studi ini
dengan cara observasi berperan serta dan melakukan wawancara mendalam. PenelI
menemui subjek penelIan ini (pelaku pertunjukan) dengan tidak mendatangi
langsung tempat tinggal mereka. Beberapa subjek penelIan sebagai narasumber
yang telah disebutkan sebelumnya memiliki tempat yang berjauhan, karena itu
penelI lebih memilih mendatangi kelompok-kelompok pertunjukan atau orang-orang
yang ada di daerah Cirebon dan Indramayu yang sering bermain dengan mereka. Hal
ini cukup beralasan untuk maksud mengetahui representasi mereka di
tengah-tengah masyarakatnya.
Strategi lain yang
dilakukan penelI untuk menggali informasi data, yakni dengan mendatangi para
penggemar mereka dan beberapa laki-laki yang menjadi mantan suaminya. Dengan
strategi ini, penelI mencoba tidak secara terbuka mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan sekitar rumah tangga mereka yang menjadi rahasia pribadi.
Untuk hal-hal tertentu penelI juga bertindak sebagai masyarakat di dalamnya
yang hanya menonton pertunjukan para sosok perempuan yang dikategorikan populer
tersebut. Dua hari setiap minggu, penelI memanfaatkan untuk mengadakan penelIan
ini.
Selama penelIan, penelI
semakin merasakan dan memahami pola hidup perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat tersebut yang termasuk kategori populer. Mereka memang agak membedakan
performanya dengan masyarakat lainnya di daerah mereka. Kemandirian dan
kebebasan para perempuan tersebut semakin terlihat ketika mereka bersiap-siap
melakukan aktivitas.
Setelah beberapa kali
bertemu dengan perempuan-perempuan seniman seni pertunjukan rakyat tersebut,
penelI mencoba mengintensifkan diri untuk berbaur dengan masyarakat yang
mengenal dekat dalam rangka memantapkan studi dramaturgis. Di samping itu
secara terbuka mempertanyakan kepada masyarakat lingkungan mereka tentang
pencitraan dan maknanya sebagai bekal analisis fenomena popularitas perempuan
dalam seni pertunjukan rakyat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Perempuan Pelaku Seni
Pertunjukan Rakyat Cerbon-Dermayon
Dengan tidak bermaksud menjustifikasi
beberapa perempuan lain yang ada di dunia pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon ”tidak populer”, maka
nama-nama perempuan yang dibicarakan dalam tulisan ini hanya merupakan
kasus-kasus yang ditemui penulis. Namun sebelumnya ada yang patut dibicarakan
terlebih dahulu, sebelum memfokus pada beberapa perempuan yang diidentifikasi
sebagai yang populer pada zamannya.
Perempuan dalam seni
pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon
adalah perempuan yang pada awalnya perempuan biasa, seperti yang sehari-hari
kita temui di daerah mereka masing-masing.
Walaupun demikian, rata-rata dari mereka memiliki keinginan atau bakat
dalam berkesenian, baik nyanyi, tari, maupun teater (drama). Keinginan dan
bakat inilah yang mereka gali dengan kesungguhan, sekalipun dari sisi
pendidikan formal tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang yang
lebih tinggi. Secara sosial, mereka dilahirkan dari lingkungan masyarakat desa
yang tunduk dalam ideologi patriarki dan status ekonomi mereka masih tergantung
pada sosok laki-laki sebagai kepala keluarga.
Perempuan-perempuan itu
dapat kita sebutkan inisialnya di antaranya: Hj.D (seniman tarling/sinden
Indramayu), IS. dan I (sinden Cirebon), Hj.K (seniman genjring dan sandiwara
Cirebon), dan Hj.UK (seniman tarling dan sandiwara Cirebon). Mereka bukan
berasal dari keluarga yang status ekonominya tergolong menengah ke atas. Namun
mereka memiliki usaha untuk maju dan mengembangkan bakatnya agar dapat
mempertinggi derajatnya. Dari sisi sikap, mereka tergolong orang yang
ekstrovet, terbuka, dan berani menghadapi masyarakat. Tidak mengherankan jika
mereka mampu bertahan, konsisten dan berani menanggung resiko untuk mewujudkan
harapannya.
Aktivitas berkesenian
mereka dinyatakan dengan keberanian dan dijalankan dari posisi ”nol”, dari
mencoba-coba, menyenangi dunianya, dan terus berlanjut hingga karir mereka
berada di puncak (populer menurut lingkungannya). Sejak ada tanda-tanda
popularitas itulah keadaan mereka berbanding lurus dengan resiko sosial yang
akan menimpahnya. Hampir dari semua perempuan yang disebutkan di atas,
popularitas mereka beresiko pada kehidupan rumah tangga mereka. Dalam rumah
tangga yang mereka jalani terdapat badai yang mengguncang dan jika ia tidak
memilih salah satunya – kehidupan rumah tanggah atau karir kesenimanan – maka
kondisi popularitas yang tengah mendekati akan berhenti dan popularitas mereka mengalami
stagnasi.
Mengapa demikian? Pertanyaan ini sempat
dilontarkan penulis kepada mereka dan mereka menjawab tentang kebebasan.
Laki-laki yang dalam lingkup budaya mereka merupakan ordinat, pemimpin, dan
mengatur perempuan sebagai pasangannya. Hal demikian sangat dimengerti karena
aktivitas dunia seni pertunjukan rakyat Cerbon-Dermayon
sangat tinggi jika tengah menginjak pada musim pertunjukan (biasanya
setelah masa panen). Tak jarang mereka yang menekuni dunia seni perunjukan
rakyat ketika musim pertunjukan tidak sempat pulang ke rumah. Seni pertunjukan
rakyat yang biasa diselenggarakan semalam suntuk cukup menyita waktu mereka dan
tidak memberi kesempatan waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga. Kadang
tidak satu atau dua hari mereka meninggalkan keluarga namun bisa satu minggu
atau dua minggu dan bahkan sebulan. Hal inilah yang kemudian sangat mengganggu
bagi kehidupan rumah tangga tradisional. Bagi pihak perempuan dalam posisi ini
adalah pihak yang dipersalahkan.
Berbeda dengan mereka yang
sejak awal memiliki pasangan keluarga yang juga dari kalangan seniman atau satu
kelompoknya. Namun demikian konsep seperti itu juga tidaklah sesuai yang
diharapkan oleh para pemuja kehidupan rumah tangga tradisional. Ketika
perempuan dan laki-laki dalam ikatan perkawinan dan dalam satu kelompok seni
pertunjukan, sosok perempuan yang tengah populer mengalami batasan-batasan dari
seorang suami. Komunikasi yang mereka bangun menimbulkan banyak intrik dalam
kehidupan rumah tangga mereka. Kasus demikian dialami oleh pasangan seniman, H.
AA dan Hj.UK yang hampir selama tiga tahun mengalami ketidakharominisan
kehidupan rumah tangga dan akhirnya terjadi perceraian antara keduanya setelah
sekian lama menjalin bahtera rumah tangga. Ketika status menjanda disandang Hj.UK,
ia mulai dikenal kembali sebagai sosok seniwati yang banyak menerima panggilan
untuk mempertunjukan dirinya dalam aktivitas seni atau dengan kelompok
keseniannya.
Kehidupan rumah tangga
sesama seniman bisa berantakan, apalagi kehidupan rumah tangga perempuan seni
pertunjukan rakyat dengan laki-laki yang bukan dari lingkungan seni. Sekalipun
hubungan rumah tangga mereka kelihatan tidak ada masalah tetapi di luar itu
masyarakat melihat bahwa keduanya bermain dengan pasangan lain. Kasus demikian
dialami oleh I, seorang sinden, yang hingga saat ini masih dengan suami
pertamanya. Berbeda dengan IS, popularitasnya meningkat setelah ia mulai terjun
ke dunia seni pertunjukan dengan status janda. Popularitasnya semakin bersinar
ketika ia dinikahi oleh seorang pengusaha batu alam Palimanan dan kemudian
bercerai lagi. Statusnya yang menjanda
membuat ia semakin mendapatkan panggilan, baik untuk sinden dalam pertunjukan
wayang maupun pertunjukan rakyat lainnya. Hampir bisa dipastikan bahwa IS
sebagai seorang sinden terkenal di Cirebon saat ini telah menjalani kehidupan
rumah tangganya dengan lebih dari 3 lelaki sebagai pasangannya dengan cara
kawin-cerai. Demikian pula dengan Hj. D yang tidak hanya satu suami, ia sempat
kawin lagi setelah dengan suami pertama bercerai. Ketika statusnya menjanda, ia
lebih konsentrasi menjalani kehidupan seninya dan berujung pada popularitas
dirinya.
Dari sisi pihak laki-laki
yang pernah berhubungan dangan para perempuan yang menekuni dunia seni
pertunjukan rakyat, kebanyakan mereka memaklumi keadaan seperti itu. Pada
posisi ini, laki-laki menyadari bahwa pernikahannya dengan perempuan tersebut
didorong oleh rasa emosional. Entah apa yang ada dalam benaknya bahwa mengawini
perempuan yang tengah populer dalam karir seninya merupakan kepuasan tersendiri
dan seolah-olah dapat mengaktualisasikan diri bahwa ia sebagai lelaki.
Perceraiannya tidak pernah menjadi cerita sedih dalam kehidupan laki-laki
seperti ini, namun masyarakat kadang turut berbicara dalam bahasanya, yang
tidak saja menyudutkan dirinya namun me-labeling
perempuan itu sebagai orang yang ingin kekayaannya saja.
Inilah pernik kehidupan
perempuan-perempuan dalam seni pertunjukan rakyat yang secara struktural tidak
dapat diterima oleh masyarakat akibat kehidupan sosialnya yang cukup berisiko.
Perempuan dalam dunia seni pertunjukan rakyat disukai karena mereka cakap dalam
berkesenian namun dia jauh untuk menjadi tauladan dalam kehidupan sosial yang
’normal’ menurut lingkungan tradisional mereka.
2. Stigma Perempuan dalam
Seni Pertunjukan Rakyat
Di daerah Cerbon-Dermayon posisi perempuan dalam
seni pertunjukan dianggap rendah dan rentan akan tuduhan negatif. Pandangan
konservatif masyarakat daerah tersebut terhadap perempuan yang belajar atau
menggeluti dunia seni pertunjukan rakyat mengungkapkan bahwa perempuan tersebut
tak bedah dengan ronggeng. Sebutan ronggeng bagi masyarakat Cirebon sebagai
sebutan yang menyesatkan dan membuat risi para perempuan pelaku seni
pertunjukan. Ronggeng bagi masyarakat Cerbon-Dermayon
tak beda dengan perempuan yang menjual dirinya, perempuan penggoda, dan perebut
suami orang.
Persepsi negatif masyarakat yang melekat terhadap
perempuan dalam seni pertunjukan merupakan proses panjang yang dialami
masyarakat daerah tersebut. Tidak jarang para pejabat desa atau pengusaha atau para bandar di sebuah
desa terganggu kehidupan keluarganya hanya karena kehadiran seorang sinden
sebagai orang ketiga. Kasus-kasus demikian sudah tidak asing didengar dalam
kehidupan masyarakat Cerbon-Dermayon.
Akan tetapi hal tersebut tidak bisa digeneralisir
bahwa perempuan dalam seni pertunjukan rakyat di daerah tergolong sebagai perempuan ’nakal’. Hj.D
misalnya, ia seorang sinden yang memiliki pola pemikiran cerdas, sekalipun pada
waktu muda banyak laki-laki tergila-gila padanya. Tidak saja parasnya yang
cantik namun gagasan-gagasannya untuk mengembangkan seni pertunjukan Indramayu
menjadi cikal bakal kehidupan populer bagi dirinya dan kesenian tarling yang
ada di daerah tersebut. Popularitasnya diraih berkat ketekunannya menjalankan profesi
kesenian secara konsisten, merintisnya semenjak awal dengan melakukan
ritual-ritual menurut kebiasaan dan kepercayaan masyarakat setempat. Hingga
kini, HjD yang mendekati usia senja dikenal masyarakat Indramayu sebagai tokoh
perempuan dalam seni pertunjukan rakyat, terutama seni tarling.
Permasalahan stigma yang muncul bagi para
perempuan dalam seni pertunjukan kini bukan karena labeling perempuan sebagai ronggeng. Dalam perspektif sosiologi
seni pertunjukan didapatkan kebanyakan perempuan yang menekuni atau sebagai
pelaku seni pertunjukan sangat rawan untuk disebutkan sebagai masyarakat yang
mampu menjalani kehidupan rumah tangga secara normal. Artinya, kehidupan rumah
tangga oleh sebagian besar masyarakat Cerbon-Dermayon
merupakan kehidupan yang arahnya dikemudikan oleh seorang suami (laki-laki),
dan perempuan sebagai istri merupakan sub ordinat dalam kehidupan tersebut.
Ketika perempuan yang dikategorikan sebagai sub ordinat melakukan kerja secara
mandiri (sebagai pelaku kesenian), maka laki-laki merasa dilangkahi dan serasa
tidak diperhatikan kebutuhan-kebutuhannya oleh sang perempuan. Kejadian seperti
ini yang memicu ketidaktentraman rumah tangga para perempuan pelaku seni
pertunjukan rakyat. Karakteristik bebas dan mandiri perempuan pelaku seni pertunjukan
seperti dikerangkeng oleh ideologi laki-laki yang menjadi pemimpin rumah
tangga. Dari kasus demikian, maka tak jarang muncul perempuan-perempuan dalam
seni pertunjukan dengan status ”janda”, akibat persepsi laki-laki yang salah
terhadap perempuan seni pertunjukan.
Dengan demikian, stigma perempuan pelaku seni
pertunjukan kini bukan pada labeling sebagai ronggeng, namun pada posisi
menjanda para perempuan pelaku seni pertunjukan rakyat tersebut. Menjanda dalam
pandangan sosial masyarakat Cerbon-Dermayon
merupakan sesuatu yang ”memalukan”. Dengan kata lain, menjanda berarti ada
orientasi untuk tidak menjanda yaitu dengan melakukan pencarian pasangan
melalui ikatan pernikahan. Ketika masa pencarian pasangan itulah para perempuan
pelaku seni pertunjukan yang berstatuskan janda sering di-cap sebagai perempuan yang senang merebut suami orang.
Hj.D misalnya, salah satu pelopor kesenian tarling
di Indramayu, pada saat muda banyak laki-laki yang tergila-gila padanya. Banyak
yang menanggap kelompok tarlingnya adalah para pengusaha di daerah yang tidak
sedikit secara terang-terangan menyatakan kesediaannya untuk menikahi dirinya.
Hal demikian membuat kalap istri-istri para pengusaha itu dan bahkan mereka
sempat mengadakan pemboikotan secara terselubung terhadap kelompok tarling
Cahaya Muda milik Hj.D. Mereka para ibu rumah tangga selalu mengawasi gerak-gerik
suaminya ketika terdengar ada pentas kesenian tarling Cahaya Muda. Tak jarang
sosok Hj.D didatangi oleh ibu rumah tangga dengan sebuah ancaman: ”jangan
ganggu suami orang”!. Diakui oleh Hj.D bahwa fenomena itu sebagai suatu resiko
perempuan yang bergulat dalam dunia seni pertunjukan. Tidak sekedar ancaman,
bahkan pernah pentasnya hampir digagalkan oleh sekelompok orang karena dianggap
sebagai biang perusak rumah tangga orang.
Fakta nyata dialami oleh seorang sinden daerah
Cirebon yang sangat terkenal, yaitu IS. Sebagai sosok populer dalam kanca seni
pertunjukan rakyat, ia menerima bayaran di setiap pemanggungannya sebesar 1,5
juta per malam. Popularitasnya seiring dengan status kehidupan menjanda, yang
hingga saat ini telah mengalami kawin cerai sebanyak empat kali. Tidak
tanggung-tanggung, para suaminya adalah pengusaha, pejabat kelurahan yang
berbeda dengan suami pertamanya yang sebagai laki-laki biasa dalam ekonominya.
Hal demikian merupakan pertanda bagi masyarakatnya, bahwa IS adalah sosok
perempuan yang suka merebut suami orang. Bahkan tidaklah menjadi beban bagi
seorang IS untuk dijadikan istri yang kesekian dari seorang laki-laki yang
menikahinya.
3. Budaya Pop dan Perempuan
Seni Pertunjukan Rakyat
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat
merupakan jaminan bagi perempuan pelaku seni untuk dapat hidup mandiri secara
sosial-ekonomi. Pada sisi lain popularitas mengacuh pada kehidupan budaya pop
yang lebih menekankan pada bagaimana seniwati dihargai secara kapital. Ukuran ekonomi menjadi sesuatu yang lumrah
juga di dunia seni pertunjukan kalangan rakyat. Bila mengacuh pada budaya pop,
terdapat tiga komponen yang mengikat perilaku seseorang untuk dapat
dikategorikan sebagai orang populer, yakni food,
fashion, dan fun (makanan,
pakaian, dan hiburan). Singkatnya, seseorang dapat disebut populer jika ia
cukup memiliki kemampuan untuk memenuhi ketiga kebutuhan budaya pop tersebut di
atas. Hal ini berbeda dengan populer yang disandang oleh perempuan dalam seni
pertunjukan rakyat. Populer diartikan sebagai seseorang yang dikenal, baik dari
talentanya maupun penampilannya di suatu pertunjukan.
Untuk menjadi populer, perempuan di jagat seni
pertunjukan rakyat membutuhkan proses yang panjang atau dengan kata lain butuh
keunikan-keunikan tersendiri, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam
penampilannya di panggung pertunjukan. Populer pada seni pertunjukan rakyat
tidak berarti harus memiliki tampilan tubuh (wajah) yang cantik, sekalipun pada
hal-hal tertentu itu diperlukan. Populer dalam seni pertunjukan rakyat tidak
selalu orang yang memiliki pengetahuan tinggi atau memiliki kreatifitas lebih
dalam dunianya, tapi juga masalah
konsistensi dan eksistensi yang bisa membentuk perwujudan kriteria populer saat
ini. Dengan demikian, dalam ranah kajian budaya populer didapatkan tiga wacana
besar bagi sosok perempuan, yakni konsepsi budaya pop, ideologi kapital, dan
diskursus gender.
Kapitalisme bukan tidak mungkin merambah wilayah
perdesaan, bahwa kemudian hal itu tidak disadari oleh pelaku, bukan berarti
tidak terjadi namun justru wacananya tidak dimunculkan. Budaya konsumerisme
misalnya, sudah merambah pada masyarakat desa yang oleh promosi media massa,
televisi, terpatri di hati masyarakat desa dengan produk-produk yang
diiklankan. Secara tidak langsung masyarakat kini terbius oleh budaya-budaya
konsumerisme tersebut. Tak pelak jika gaya hidup masyarakat desa diukur pula
dengan gaya hidup materialistik. Tampilan-tampilan gaya hidup masyarakat desa
sudah sejak lama kita kenal. Secara tradisional kita mengenal kalangan tertentu
yang memakai gigi berwarna keemasan atau perak, untaian perhiasan
gelang-kalung-giwang yang dikenakan pada tangan-leher-telinga seorang perempuan
desa yang mapan dalam kehidupan ekonomi.
Rupanya kehidupan seperti itu melanda pula kepada
perempuan seni pertunjukan rakyat yang sudah populer. Masalah gaya hidup
sebagai sebuah status sosial oleh perempuan desa menjadi penting untuk menjaga
image, bahwa ia merupakan orang yang mampu dan mandiri dalam sisi ekonomi. Demikian pula performance (tampilan) seorang perempuan seni pertunjukan yang
mengalami popularitas. Sopir dan mobil menjadi tradisi yang biasa menyertai
kemana ia pergi. Busana yang ia kenakan dan asesoris serta pewangi yang melekat
pada tubuhnya adalah barang-barang yang memiliki kategori branded. Gaya hidup mengubah cara-cara berkomunikasi dia, sebagai
sebuah tampilan popular.
Hal-hal tersebut sudah tidak aneh lagi menjadi
pemandangan masyarakat desa, apalagi televisi yang kini mempromosikan pola
hidup konsumerisme menjadi referensi masyarakat tersebut. Media ini sangat lekat dengan kehidupan masyarakat
desa, ibarat kebutuhan yang tak lagi menjadi kebutuhan kedua namun menjadi
kebutuhan pokok, yaitu informasi. Dari informasi-informasi media televisi
itulah, perempuan seni pertunjukan rakyat yang telah menyandang popularitas
mengubah dirinya, penampilannya, dan image.
Dengan demikian, penampilan mereka bukan lagi penampilan masyarakat desa.
Mereka mampu mengubah back stage (kenyataan
hidup sehari-hari) dengan front stage (kehidupan
yang dikelola) melalui impresi manajemennya dalam menghadapi semua orang.
Kenyataan sehari-hari perempuan yang populis selalu menjaga performance-nya, yang porsi panggung
depan kehidupan sosialnya lebih tinggi dari pada panggung belakangnya.
4. Popularitas Sebagai Simbol Perlawanan
Melihat peta wacana budaya populer yang berkaitan
dengan eksistensi sosok perempuan dalam semangat fenomenologis, maka tak heran
jika popularitas perempuan dalam jagat seni pertunjukan rakyat pada dasarnya
simbol perlawanan. Eksistensi dan konsistensi perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat Cerbon-Dermayon merupakan
proses perwujudan yang sangat memakan tenaga, waktu, pikiran, bahkan resiko
untuk menjadi populer. Memang
sangat sedikit perempuan dalam seni pertunjukan rakyat yang memiliki
konsistensi dan eksistensi di dunia tersebut. Akan tetapi dari yang ada
sekarang, sebutlah nama-nama Hj D (seniman tarling), I (pesinden), IS
(pesinden), Hj. U K (seniman tarling dan sandiwara), W (seniman topeng), dan
Hj.K (seniman genjring), yang popularitasnya ditempuh dengan eksistensi,
konsistensi, dan berani menanggung resiko sosial.
Mereka merupakan sosok perempuan yang berani
menanggung resiko sosial yang tinggi. Artinya, popularitas yang mereka tempuh
harus dibayar dengan nilai kemanusiaannya (prestise)
di masyarakat. Oleh karena tidak jarang perempuan yang mampu berdiri tegak pada
konsistensi dan eksistensinya di dunia seni pertunjukan dibarengi dengan
perilaku sosial “kawin-cerai”. Perempuan-perempuan seni pertunjukan rakyat yang
mengalami masa popularitas setidaknya mengalami kawin cerai sebanyak dua kali
atau dalam posisinya “menjanda”. Hanya ada beberapa kekecualian, misalnya yang
diperlihatkan oleh I (pesinden) yang hingga saat ini dalam popularitasnya masih
setia dengan seorang suami.
Bagi yang termasuk kekecualian tersebut, juga
tidaklah mudah untuk membendung hasrat kebebasan dan kesetaraan gender. Maka
tidak jarang masyarakat yang akrab dengannya menyebut bahwa kehidupan seorang I
dengan suaminya sebatas pemenuhan hukum sosial yang berlaku di tengah-tengah
masyarakatnya. Di luar kehidupan rumah tangganya ada kesepakatan antara I dan
suaminya yang harus sama-sama tahu, bagaimana caranya bergaul dalam jagat seni
pertunjukan rakyat, yang dalam praktik pertunjukannya memakan waktu semalam
suntuk, dan hal itu ada resiko-resiko yang harus ditanggung oleh keduannya.
Demikian pula yang terjadi pada Hj.UK yang
bersuamikan H. AA (seniman tarling) yang saat ini juga merasakan bagaimana
kesetaraan gender itu berlaku. Hj.UK memilih bercerai setelah lama melakukan
kesepakatan-kesepakatan dengan orang lain di luar kesepakatan rumah tangganya
dengan sang suami. Di sinilah kita menilai bagaimana popularitas perempuan
dalam seni pertunjukan sangat mahal harganya karena bertukar dengan resiko
sosial yang sangat tinggi, terutama jika dipahami dalam pola pikir tradisional
masyarakatnya yang berarti mengkhianati norma budaya setempat.
Hal demikian mengindikasikan bahwa popularitas
perempuan dalam seni pertunjukan rakyat terbentuk seiring dengan sistem budaya masyarakatnya
(Williams dalam Storey, 2003:10). Jika kita merujuk pada konsepsi tersebut maka
kita dapat melihat gambaran perempuan Cerbon-Dermayon
melalui karakteristik perempuan tersebut dalam sistem budaya setempat.
Perempuan Cerbon-Dermayon yang memilih
domain seni pertunjukan rakyat sangat terbatas. Hal ini disebabkan tidak mudah
untuk menggeluti dunia tersebut. Untuk menjadi seorang seniwati terkenal harus
mengalami proses berkesenian yang
panjang dalam hidupnya hingga nama mereka muncul dan dikenal masyarakat
lingkungannya. Popularitasnya akan beriringan pula dengan kehidupan sosial
rumah tangganya yang mengalami fase “kawin-cerai” setidaknya tercatat dua kali
selama mereka masih berkecimpung di dunia seni pertunjukan.
Popularitas perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat adalah sebuah bentuk pengorbanan kaum perempuan itu sendiri yang
terjebak dalam budaya kekinian. Akan tetapi pada sisi lain bisa jadi
popularitas adalah bagian dari kemandirian sosok perempuan dalam kehidupan seni
budaya. Laki-laki penuh cacat dalam pandangannya bila merujuk pada
psikoanalisis Freudian yang memberikan istilah “insting scopophilia” sebagai kesenangan laki-laki memandang objek menjadi
sesuatu yang erotik (Mulvey dalam Storey, 2003:193).
Di luar kesadaran perempuan desa yang lugu,
popularitas perempuan dalam seni pertunjukan rakyat merupakan simbol perlawanan
perempuan terhadap laki-laki. Secara konvensional pasangan suami istri yang
perempuannya sebagai seniwati aktif tanpa disadari merupakan bentuk nilai
kesetaraan gender. Pada sisi-sisi tertentu laki-laki berada sebagai sub
ordinat. Perempuan yang populer dalam jagat seni pertunjukan kadang kala
menjadi pemimpin dalam keluarga yang mereka bangun. Kesenangan laki-laki dalam
perspektif Freudian menjadi senjata ampuh bagi perempuan dalam seni pertunjukan
rakyat untuk mendudukan laki-laki sebagai pengikutnya.
Bagaimana kemudian sosok perempuan tersebut
mempertahankan posisinya dalam arena sosial dan dalam jagat seni pertunjukan.
Ada upaya-upaya yang tidak saja logis material, namun juga bersifat magis-spiritual (lelakon). Upaya-upaya logis-material adalah upaya para perempuan
menekuni dunia seni pertunjukan melalui latihan-latihan, berguru, dan berproses
alamiah dengan mengikuti pemanggungan-pemanggungan, atau yang dikenal dengan
sebutan guru panggung. Sementara
upaya-upaya magis-spiritual mereka
lakukan dengan cara yang berbeda-beda, misalnya dengan berpuasa, tapa brata,
melaksanakan jampe-jampe khusus, ritual, dan pemasangan susuk atau ajimat
pengasihan.
Pola-pola demikian
dilakukan oleh sosok perempuan seni pertunjukan rakyat agar dapat menjaga
popularitasnya dalam jagat seni pertunjukan rakyat. Kebebasan perempuan desa dan penciptaan image
popularitas salah satunya dapat dipandang dari popularitas para perempuan yang
ada dalam dunia seni pertunjukan. Tak heran jika para perempuan yang populer di
jagat seni pertunjukan rakyat menunjukkan superioritasnya dalam ekonomi, status
sosial, dan gaya hidup mereka.
KESIMPULAN
Popularitas perempuan dalam jagat seni pertunjukan
rakyat bukan tanpa kendala. Permasalahan terberat bagi perempuan di domain ini
adalah kendala budaya dalam lingkungannya. Sistem budaya patriakal yang
mendominasi kendala popularitas perempuan dikonversi seefektif mungkin menjadi
peluang bagi para pekerja seni pertunjukan rakyat. Kendala lain juga datang
dari pandangan keagamaan yang ada dalam lingkungan mereka yang lebih membedakan
antara peran perempuan dan laki-laki, bahwa perempuan lebih mengerjakan
pekerjaan domestik dari pada publik.
Perempuan dalam seni pertunjukan rakyat kini
berhadapan dengan gaya hidup yang direduksi oleh sistem kapitalis. Budaya pop
yang kapitalis itu telah menggempur ruang-ruang keluarga mereka yang pada
akhirnya tidak bisa ditolak dengan cara apapun dan akhirnya muncul budaya pop
yang disandang seniman rakyat. Perempuan yang dianggap populer dalam seni
pertunjukan rakyat akan berbeda dengan popularitas selebrIs metropolitan. SelebrIs metropolitan
tidak bisa populer bahkan dilecehkan oleh massa jika ia melakukan kawin cerai
atau dalam status janda, maka dengan status ini kebanyakan dari para selebrIs
pop metropolis akan mengalami kemerosotan popularitas. Berbeda halnya dengan
selebrIs seni pertunjukan rakyat (lokal), proses kawin cerai merupakan media
untuk menapaki dan bertahan dalam popularitasnya, terutama ketika mereka dalam
fase menjanda. Memang tidak semudah memberikan justifikasi terhadap popularitas
perempuan dalam seni pertunjukan rakyat. Kawin cerai hanya merupakan dampak
eksistensi dan konsistensi perempuan yang mengarah pada peraihan popularitas
oleh mereka. Jadi popularitas yang mereka capai atas dasar konsistensi dan
eksistensinya dalam jalur seni pertunjukan rakyat.
Popularitas bagi perempuan seni pertunjukan rakyat
merupakan simbol perlawanan terhadap kemapanan aturan secara struktural yang
berlaku di lingkungan budayanya. Mereka merupakan perempuan yang mandiri, mampu
menghidupi dan menafkahi keluarga dengan keahliannya dalam seni, serta
berkeinginan keras untuk tidak bergantung kepada laki-laki.
Seorang suami dianggap seperti aturan yang
membentengi aktivitas berkeseniannya. Kehadiran suami di saat popularitas itu
menyertainya seakan-akan terdapat banyak mata yang mengawasinya dan hal itu
membuat risih perempuan dalam melakukan aktivitas seni. Tak heran laki-laki
sebagai seorang suamipun merasakan cemburu melihat perempuan yang menjadi
pasangannya populer dan selalu berhadapan dengan publik. Ketika kecemburuan datang
pada sosok suami itulah bibit perjalanannya mulai tumbuh kembali yang berlanjut
pada perceraian, menapaki masa menjanda, dan pada gilirannya melakukan
pencarian pasangan baru.
Perilaku pada fase-fase demikian sebenarnya
dianggap wajar dalam masyarakat seni pertunjukan Cirebon dan Indramayu, namun
karena hal itu dilakukan oleh sosok perempuan yang populer, dikenal masyarakat,
maka perilaku tersebut menjadi stigma tersendiri. Stigma dari masyarakat
sejenis itu dianggap sebagai sebuah resiko perempuan pelaku seni pertunjukan
rakyat Cerbon-Dermayon. Pada sisi
lain, kekuatan menanggung risiko hidup, risiko sosial, dan budaya itulah yang
juga merupakan hal luar biasa bagi sosok perempuan dalam kemandiiriannya.
DAFTAR PUSTAKA
Barker, Chris. 2004: Cultural Studies: Teori dan Praktek.
Terjemahan: Nurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Bormann, Ernest G.
Small Group Communication, Theory and
Practice, Third EdIon; Harper & Row Publishers, New York, 1990.
Blumer, Herbert.
1969. Simbolic Interactionism:
Prespective and Method. New
Jersey: Prentice Hall.
Goffman, Erving.
1959. The Presentation of Self in
Everyday Life. Garden City, Ney York: The Doubleday Press.
Goodman, D.J. dan G.
Ritzer. 2005. Modern Sociological Theory
(6th ed.). Terjemahan Alimandan. Prenada Media. Jakarta.
Griffin, E.M. 2006. A First
Look at Communication Theory. McGraw-Hill,
New York.
Littlejohn, S.W. and K.A.
Foss. 2005. Theories of Human
Communication (8th ed.). Thomson
Wadswort. Belmont, CA, USA
Mulyana, Deddy. 1999.
Nuansa-Nuansa Komunikasi: Meneropong PolIk dan Budaya Komunikasi Masyarakat
Kontemporer. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyana, Deddy. 2001. Metode PenelIan Kualitatif: Paradigma Baru
Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Mulyana, Deddy. 2004. Komunikasi Populer: Kajian Komunikasi dan
Budaya Kontemporer. Pustaka Bani Quraisy. Bandung.
Mulyana, Deddy. 2007. Metode PenelIan Komunikasi: Contoh-Contoh PenelIan Kualitatif dengan
Pendekatan Praktis. PT Remaja Rosdakarya. Bandung.
Poloma, Margaret M. 1987. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali kerjasama dengan Tim
Penerjemah Yasogama.
Soeprapto, H.R. Riyadi. 2002. Interaksionisme Simbolik: Perspektif Sosiologi Modern. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar bekerjasama dengan Averroes press.
Storey, John. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural
Studies. Yogyakarta: Qalam.
Strinati, Dominic. 2003. Popouler Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Pop. Yogyakarta:
Bentang.
Turner, L.H. and R. West.
2007. Introducing Communication Theory:
Analysis and Application. McGraw-Hill, New York.
hadir! siap menghafalkan, pak
BalasHapus